Sajak Abdul Wachid B.S: SUWUK GUS MUS

Sajak Abdul Wachid B.S: SUWUK GUS MUS

Sajak Abdul Wachid B.S.

SUWUK GUS MUS

— di masa Corona

 sempurnakanlah wudlu

kau aku akan terbasuh dari rasa rusuh

lantaran air merekam doa dan kebaikan

seperti langit merekam bumi: selepas subuh

 

dan sebelum matahari terbit

lidah hati kau aku mewirid

dan di batas senja dan malam

kembali suara syair itu berdesir

 

“Bismillaahilladzi laa yadhurru ma’asmiHi syai-un

fil ardhi walaa fissamaa-i waHua s-Samii’ul ‘Aliim”

 

dan bila kau aku ke luar rumah

jiwa pecinta tetaplah tinggal di dalam rumah

hati yang selalu ingin bernyanyi indah

“yaa Salaam yaa Hafiizh yaa Maani’u yaa Dhaarru”

 

bershalawatlah suara semesta

bershalawatlah para malaikat

bershalawatlah bibir kau aku yang

gemetar ketika disebut Nama Maha Kekasih

 

seperti mawar-mawar merekah

petiklah wanginya sebagai hikmah

seluruh darah hingga ruh

menolak bala hingga pagebluk megat ruh

 

Allahumma innaa nas’aluKa al-‘afwa wal-‘aafiata

wal mu’aafata fiddiini waddunyaa wal aakhirah

aamiin

yogyakarta, 19 maret 2020.

Abdul Wachid B.S., adalah sastrawan dan budayawan, saat ini menjadi dosen di IAIN Purwokerto.

IBU

Ibu

Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu 
sekian lama
Kaulah kawah
darimana aku meluncur dengan perkasa

Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam

Kaulah, ibu, laut dan langit
yang menjaga lurus horisonku

Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu

 

(Tuhan,

aku bersaksi

ibuku telah melaksanakan amanat-Mu

menyampaikan kasih sayangMu

maka kasihilah ibuku

seperti Kau mengasihi

kekasih-kekasihMu

Amin)

Bagaimana kau hendak menulis puisi dengan apa?
Huruf-huruf dan kata-kata telah aus
Digunakan terus menerus
Oleh tikus-tikus yang rakus
Meruapkan bau kakus
Bagaimana kau hendak menulis dengan apa?
Orang-orang tak bersukma
Yang nuraninya matirasa
Terus menerus mempergunkannya
Untuk menyembunyikan borok mereka
Bertapa sajalah
Seperti rumput
Bersama rumput
Siapa tahu esok pagi
Burung-burung bersedia lagi
Mengajari menyanyi
Sementara kalian berbagi
Embun pagi
Demikian Sajak Abdul Wachid B.S: SUWUK GUS MUS.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *