Karomah Mbah Dimyati Kaliwungu yang Disaksikan Santri.
Beliau adalah KH Dimyati Rois Kaliwungu Kendal Jawa Tengah. Mbah Dimyati adalah seorang murid dari guru yang menjadi guru putranya guru. Mbah Yai Dimyathi Rois itu adalah murid dari Mbah Yai Mahrus Aly Lirboyo, Mbah Yai Kafabihi Mahrus adalah putra Mbah Yai Mahrus, dan Mbah Yai Kafabihi itu murid dari Mbah Yai Dimyathi Rois.
Jadi, Mbah Yai Dimyathi adalah murid dari guru yang menjadi guru putranya guru. Alhamdulillah, saya berkesempatan mendapatkan sanad dari Mbah Dimyathi dan berkesempatan menyaksikan karomah beliau.

Saat itu pas ngaji, halaman ndalem beliau mbludak, dan tiba-tiba hujan duwerassss yang menyebabkan santri kocar kacir. Dalam kepanikan santri itu, tiba-tiba beliau dawuh.
“Wes wes ojo panik, mandek mandek udane!!” (sudah jangan panik, mandek mandek hujannya..
Dan seketika itu, detik itu, menit itu, hujan berhenti seketika padahal sebelumnya derasss. Ngaji pun berlanjut kembali dan selesai.
Ketika selesai, beliau pun dawuh,” Ya Allah, monggo menawi bade nerusaken jawahipun (Ya Allah, silahkan kalau meneruskan hujannya, semoga hujan ini adalah hujan yang manfaat dan berkah.”
Dan tidak menunggu lama, detik dan menit itu juga hujan kembali turun dengan derasnya dan santri kembali kocar kacir. Hahaha.
Hafodzohumallahu Ta’ala. Wa Atholallah umrohuma bissihati wal ‘afiyah.
Penulis: Tsabit Abil Fadhil.
*Demikian tentang Karomah Mbah Dimyati Kaliwungu yang Disaksikan Santri, semoga bermanfaat. Berikut ini artikel bonus yang juga menjelaskan karomah Mbah Dimyati Rois.
Mobil Mewah Mbah Dim
Suatu ketika seorang santri Mbah Dim membatin dalam hatinya, “Ini kiai, tapi kok mobilnya sak arat-arat (banyak banget, ada BMW, Alphard, Jeep Wrangler, Ford Ranger, dan mbuh merek apa lagi.’’
Hingga suatu hari ia tercengang ketika mobil BMW yang tiap hari terparkir di depan ndalem tersebut digunakan hanya untuk ngangkut gabah. Dan mobil Ford Ranger hanya digunakan untuk ngangkut ikan bandeng.
Seolah-olah Mbah Dim tahu benak santri sehingga harus memberi edukasi dengan cara memperlihatkan bahwa semua dunia yang tampak ini hanya ada di telapak tangan, tidak berada di dalam hati.
Begitulah sosok Mbah Dimyati. Karomahnya sangat nyata disaksikan para santrinya. (red








