Karomah Kiai Mubasyir Mundzir Bisa Mengetahui Segala Perkara

Karomah Kiai Mubasyir Mundzir, Bisa Tahu Santri yang Belum Wudlu

Posted on

Karomah Kiai Mubasyir Mundzir, Bisa Tahu Santri yang Belum Wudlu.

K.H. Mubasyir Mundzir adalah pendiri dan pengasuh pondok pesantren Tahfidzul Qur’an Ma’unah Sari Bandar Kidul Kediri Jawa Timur. Beliau merupakan seorang Kyai Kharismatik atau disegani dan ahli ilmu agama.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Suatu ketika, pada saat peringatan haul K.H. R.Fatah Mangun Sari Tulung Agung, pernah terjadi peristiwa menarik. Pada saat prosesi acara sedang berlangsung, saat itu hadirin sedang membaca diba’ bersama-sama, sedangkan Kyai Mundzir berada di makamnya Mbah Fatah.

Namun ketika pembacaan diba’ baru berjalan separo (setengah) beliau mendatangi majlis tersebut sambil dawuh (bicara):

“wis wis… mandeg ndisik ojo diterusne.” (sudah-sudah….berhenti dulu, jangan diteruskan)

Setelah jama’ah berhenti beliau kembali lagi ke pesarean. Hadirin saling bertanya: “ada apa kok Kyai Mundzir sampai menyuruh pembacaan diba’ dihentikan?”

Akhirnya ada seorang kyai yang mengusulkan agar semua jama’ah yang ikut majlis diba’an itu mengambil wudhu dan memulai diba’an dari awal lagi dengan niat sungguh-sungguh dan ikhlas. setelah usul itu dilaksanakan, kira-kira pembacaan diba’ baru sampai pertengahan beliau mendatangi majelis itu lagi sambil dawuh (bicara):

Baca Juga >  Kisah Surat Al-Kautsar dalam Salat Maghrib di SPBU

“lha, yo ngono, sing apik, sing tenanan”. (nah, ya seperti itu, yang bagus, yang serius)

Di kisah lain, suatu ketika lurah pondok yang bernama Ibnu Alwan mengumandangkan Adzan. tiba-tiba beliau KH. Mubasyir Mundzir mendatanginya seraya (sambil) menegur:

“sampean adzan durung wudhu yah?” (kamu adzan belum wudhu ya?)

spontan Ibnu Alwan terkejut dan gugup sambil menjawab:

“mpun yai” (sudah yai)

lalu beliau berkata:

“sampean rausah goroh” (kamu tidak usah berbohong)

Ketika Kyai Mundzir berkata seperti itu. Ibnu Alwan pun merasa malu, karena kenyataannya memang belum berwudhu.

Disaat lain, ada seorang pekerja yang sedang mengecat masjid Ma’unah Sari, tiba-tiba beliau mendatanginya, lalu suruh berhenti dan menggantinya dengan orang lain. Usut punya usut, ketika mengecat si pekerja tersebut ternyata dalam keadaan hadats besar dan belum mandi jinabat (Junub). Entah dengan bagaimana beliau mengetahuinya.

Wallahu a’lam.

Demikian Karomah Kiai Mubasyir Mundzir, Bisa Tahu Santri yang Belum Wudlu, Semoga bermanfaat.

(Mukhlisin)