Karomah Gus Dur Saksikan Dahsyatnya Langit Arofah Terbuka

Karomah Gus Dur Saksikan Dahsyatnya Langit Arofah Sedang Terbuka

Posted on

Karomah Gus Dur Saksikan Dahsyatnya Langit Arofah Sedang Terbuka.

Kisah ini sudah pernah diungkap Gus Wafi, saya hanya menggenapi saja. Pun, tulisan ini lebih banyak sebagai salinan rekaman (karena memang saya rekam) daripada kalimat saya, apalagi tafsiran saya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Jelang Muktamar NU di Cipasung tahun 1994, PBNU mendapatkan undangan haji dari pemerintahan Arab Saudi untuk 10 orang (kisah agar dapat haji undangan ini dahsyat, mistis dan ada cerita lain yang berjalin kelindan dengan kisah Sunan Ampel hingga Mbah Mutamakkin Kajen. Kisahnya sudah saya salin, kalau hati sreg, nanti akan saya muat).

Kesepuluh orang itu kata Haji Masnuh adalah Gus Dur, Gus Amanullah (Tambakberas), Gus Nu’man (Kajen), Gus Muadz (Kajen), KH. Muhtadi (Banyuwangi), Gus Jakfar Shodiq (kakak Kiai Said Aqil Siradj), Haji Anwar (Gresik), adik Haji Anwar (Haji Masnuh lupa namanya), Haji Sulaiman (Jakarta) dan Haji Masnuh.

Undangannya datang 12 hari jelang wukuf, maka proses pengurusannya harus kilat. Tentu jadinya adalah kloter akhir. Tiba di Saudi 3 hari jelang wukuf. Saat menuju Arofah, 10 tokoh ini dalam satu mobil. Gus Dur dawuh yang menurut Haji Masnuh adalah guyon. Kata Gus Dur, “Iki engko sing eroh langit mbukak mung Kaji Masnuh, liyane gak onok sing weroh.” Artinya, nanti yang tahu langit terbuka hanya Haji Masnuh.

Haji Masnuh menyahuti, “Gus, kawet wingi milai budal ngantos sakniki Jenengan nggudo kulo. (Gus, sejak kemarin saat mau berangkat, Anda kok suka menggoda saya)” Jawab Gus Dur, “Gak Ji, iki temenan gak guyon (Tidak Pak Haji, ini tidak guyon)”

Haji Masnuh saat itu dalam hati masih tetap belum percaya dan menganggap Gus Dur Guyon.

Kata Gus Dur melanjutkan, “Engko ngeten Ji, nek sampun teng Arofah, wes mari dongo wukuf, moco’o fatihah ojok katek dihitung. Engko nek, langit mbukak dongo’o robbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar sing cepet (Nanti begini Pak Haji, kalau langit terbuka, segera berdoa robbana atina…. yang cepat). Kata Gus Dur, bahwa langit terbuka itu hanya sesaat saja. Gus Dur mengulangi kata sesaat hingga tiga kali. Gus Dur berkata lagi, “Nanti saat wukuf saya duduk di dekat Anda dan nanti bila langit terbuka, silakan anda tepuk kaki saya.”

Baca Juga >  Empat Ciri Calon Penghuni Surga

Hingga di sini Haji Masnuh juga masih menganggap Gus Dur guyon sehingga belum percaya. Haji Masnuh juga bilang ke saya, bahwa saat itu tidak bisa membayangkan bagaimana langit terbuka, apa kayak pintu atau apa.

Begitu wukuf dan membaca doa wukuf, lalu baca fatihah sebanyak-banyaknya tanpa dihitung dan tanpa pakai wasilah. Tiba-tiba benar, dalam penglihatan Haji Masnuh, langit di Arofah yang saat itu berwarna biru terbuka kayak rolling door. Secepat kilat Haji Masnuh menepuk kaki Gus Dur dan bersegera juga berdoa sapu jagat dengan cepat.

Saat Gus Dur bertanya anda melihat apa Ji? jawab Haji Masnuh, “Saya melihat ada sinar terang kayak matahari sebesar tempeh sebanyak tiga, tiga, tiga, dengan total jumlah sembilan.” Lalu Gus Dur berseru, “Amin, alhamdulillah, NU-ku slamet, NU-ku slamet.”

Lalu Gus Dur berkata yang kata Haji Masnuh sambil guyon, ayo kembali ke kamar (walaupun belum ashar) langitnya sudah tutup dan malaikatnya sudah nyingkrih.”

Selanjutnya Gus Dur menjelaskan bahwa saat ini (tahun 1993-an) NU di ujung tanduk karena melawan Pak Harto dengan menempatkan Abu Hasan. Kita hanya bisa menang bila ada pitulungane Gusti Allah. Cahaya sembilan itu kata Gus Dur adalah simbolnya NU.

Demikian kisah Karomah Gus Dur Saksikan Dahsyatnya Langit Arofah Sedang Terbuka, semoga bermanfaat.

**

Pelajaran pentingnya, Anda boleh tidak percaya karena bukan rukun iman, asal gak usah teriak teriak bid’ah.

Bagi yang percaya, bahwa pitulungane Allah di saat kita udah berikhtiar adalah sangat penting. Gusti Allah Moho mitulungi.

**

Penulis: Dr KH Ainur Rofiq Al-Amin, Pesantren Tambakberas Jombang.