Jaringan Bugis Makassar di Pasai-Malaka-Campa Abad14-15 Era Islamisasi Nusantara
Oleh: Dr. KH. Ahmad Baso
Kesaksian naskah Babad Ampel tentang jaringan Bugis di Campa masa hidup ayahanda Sunan Ampel, Syekh Ibrahim Asmara, ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Kesaksian lisan yg diterima penulis Belanda terkenal, F. Valentijn di Makassar awal tahun 1700-an mendukung data yg ada dalam naskah Ampel itu. Lihat bukunya Valentijn itu, Oud en Nieuw Oost Indie (terbit tahun 1726), jilid 3, bagian Macassaarche Zaken.
Diceritakan pada tahun 1420 ada rombongan raja Makassar bernama Karaeng Samarluka ke negeri Malaka dan Pasai di Aceh untuk menjemput agama Islam. Jaringan Bugis Makassar ini di Pasai dan Malaka adalah kelanjutan dari jaringan mereka di Campa di abad sebelumnya.
Mereka awalnya datang ke Malaka. Namun karena niat mereka juga untuk masuk Islam dan ngaji ilmu ilmu agama, maka mereka diarahkan untuk masuk ke Pasai, basis pesantren para Wali. Dan kita tahu, setelah ambruknya Campa di tangan Vietnam di pertengahan abad 14, maka Pasai dan Malaka muncul sebagai kekuatan baru Islamisasi di tangan para Waliyullah. Nah komunitas Bugis Makassar menjadi perpanjangan tangan pergerakan Islamisasi itu ke segenap negeri2 di Indonesia timur.
Nama Campa dan Johor (nama lain Malaka) juga disebut dalam naskah tua Makassar pasca Islamisasi awal abad 17 sebagai salah satu jaringan Sunan Bonang di Jawa, Makassar dan Melayu.
Yuk ngaji Wali Songo sama orang Bugis Makassar …pelanjut ilmunya para Wali, ilmune Islam Nusantara …
Berkah…
_______________
BONUS ARTIKEL
Kisah Santri Bertemu Nabi Di Rumah Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki
Dikisahkan bahwa mayoritas ulama Makkah (sebagian besar wahabbi), tidak menyukai televisi. Bahkan dianggap sangat tabu. Hingga disuatu hari, ada seorang ustadz yang datang kekediaman abuya sayyid Muhammad bin Alawi al maliki guna bersilaturrahim.
Sesampainya dikediaman Sayyid Muhammad Al Maliki, ustadz ini terkejut!. Karena mendapati disalah satu ruangan kediaman Sayyid Muhammad terdapat televisi berukuran besar. Hati ustadz ini langsung kurang yakin, hatinya tidak mantap pada Sayyid Muhammad Al Maliki. Tapi karena ustadz ada tugas/kepentingan, maka ustadz ini menunggu Sayyid Muhammad yang masih beristirahat.
Ketika menunggu, ustadz ini tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi. Didalam mimpinya dia mendapati ada seseorang yang memakai jubah dan ber-imamah (surban di atas kepala) sedang menonton televisi. Wajah laki-laki tersebut tidak terlihat jelas karena duduknya membelakangi ustadz tersebut.
Lalu ada khadim laki-laki lewat. Ustadz inipun bertanya “Siapa laki-laki yang melihat televisi itu??”.
Khadim tersebut menjawab “Oh, laki-laki tersebut adalah Nabiyuna Muhammad Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bin Abdullah”.
Sang ustadz tersentak kaget hingga terbangun dari mimpinya!.
Dadanya bergemuruh. Lalu tak lama Sayyid Muhammad Bin Alawi Almaliki keluar dari kamar dan menemuinya.
Dan sang ustadz inipun meminta maaf kepada almukarram Sayyid Muhammad, karena hatinya sempat tidak mantap gara-gara mendapati di kediaman Beliau ada televisi. Subhanallah…
(Kisah ini diceritakan oleh almukarram KH. Moh. Hasan Saiful Islam – santri Sayyid Muhammad Bin Alawi Bin Abbas Bin Abdul Aziz Al Maliki Al Idrisi Al Hasani)
Penulis: Mukhlisin, penulis lepas dari kampung Ndekem, Kabupaten Pati Jawa Tengah
______________
Semoga artikel yang berjudul Kisah Santri Bertemu Nabi Di Rumah Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki ini memberikan manfaat dan keberkahan untuk kita semua amiinn..
simak artikel terkait Kisah Santri Bertemu Nabi Di Rumah Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki disini
kunjungi juga channel youtube kami tentang Kisah Santri Bertemu Nabi Di Rumah Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki di sini








