“Jangan! Umurku Sudah Lebih 90, Doakan Saja Saya Tambah Iman…”

Kami merindukanmu ya Syaikhona….

Pada Sabtu, 3 Dzul Qo’dah 1440 H, saya sowan kepada Syaikhona Maimoen Zubair untuk mengantar tiga santri untuk mondok dan ngaji pada Beliau. Setelah kurang lebih satu jam, saya pamit pada Beliau. Saya sempatkan merunduk ke dekat Beliau sambil berdoa dalam bentuk Nadhom Rojaz:

متعك الله بطول العمر

Matta’akallahu Bitulil Umri. (Semoga ALLOH menganugerahi engkau panjang umur).

Bacaan Lainnya

Baru setengah bait syi’ir aku haturkan, tiba-tiba Syaikhona memotong: “Jangan!, umur saya sudah lebih 90, doakan saja saya tambah iman”.

Spontan saya kaget karena Beliau tidak berkenan didoakan panjang umur. Kemudian saya melanjutkan doa dalam setengah bait syi’ir:

وجمعك مع النبي فى الحشر

Wa Jama’ak Maan Nabi Fil Hasyri. (Semoga ALLOH mengumpulkanmu dengan Baginda Rasulillah ﷺ kelak pada hari pembangkitan).

Beliau kemudian manggut-manggut tanda meridloi doa saya. Kemudian saya musofahah (bersalaman) pada beliau yang ternyata menjadi musofahah terakhir. Sakit rasanya hati ini mengingat dan mengenang peristiwa itu.

Selama perjalanan dari Ndalem Syaikhina menuju Ndalem Gus Ghofur, hati saya masih kepikiran dawuh Syaikhona yang memotong doa saya.

Setelah sowan Gus Ghofur, rasanya saya ingin menyampaikan kejadian di atas pada Beliau. Namun bibir ini seolah terkunci karena sepertinya memang akan menjadi isyarat bahwa beliau akan segera meninggalkan kita semua.

Sepulangnya sowan dari Gus Ghofur, saya melanjutkan ke rumah teman sekelas dulu saat di Muhadloroh tahun 2002, Beliau adalah Ustadz Zainuddin, Kragan. Sesampainya di sana, aku sampaikan kegundahan hatiku padanya tentang kisahku dengan Syaikhona.

“Mbah, Syaikhona kok tidak berkenan didoakan panjang umur ya?. Jangan-jangan ini isyarat bahwa beliau akan meninggalkan kita, aku takut Mbah. Tapi kamu jangan cerita pada siapapun”.

Setelah sampai di Madura saya ceritakan juga pada Abah. Ya Robb… ternyata apa yang kami takutkan benar-benar terjadi.

Beliau meninggalkan kita. Beliau dipanggil oleh ALLOH subhanahu wa ta’ala untuk menjadi tetangga Sayyidatina Khadijah Al-Kubro, para Sahabat, para Tabi’in dan para guru beliau, diantaranya Sayyid Alawi Bin Abbas al-Maliki, Sayyid Muhammad Bin Alawi al-Maliki, Syaikh Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani, serta para Ulama lainnya.

Ya Syaikhona…

Semoga ALLOH subhanahu wa ta’ala meninggikan derajatmu di sana dan mengumpulkanmu dengan baginda Rasulillah SAW.

Di tulis di Pondok Pesantren Parama’an, 10 DzulHijjah 1440 H

Penulis: Abdul Muhshi Mas’ud, Alumni Pondok Pesantren Al-Anwar tahun 2002.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *