kh mukhtar syafa'at banguwangi

Ini Kunci Meraih Berkah Ilmu ala KH. Mukhtar Syafaat Blokagung Banyuwangi

Posted on

Dalam beberapa kisah yang sering terdengar, bahkan beberapa Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blokagung khususnya KH. Ahmad Hisyam Syafa’at sering sekali mengkisahkan sosok KH. Mukhtar Syafa’at yang pada masa mondoknya, termasuk sedikit sambutan pada Malam Kamis kemarin (7/12/2016) kepada para santri yang besoknya akan Libur Maulud.

Mbah Yai – sapaan akrab Kiai Mukhtar – dulu dikenal dengan sosok santri yang tidak terlalu pinter, kemampuannya dalam mengikuti pengajian sama sekali tidak menonjol dibanding dengan kemampuan santri yang lainnya. Sangat biasa dan sederhana.

Sama seperti beberapa santri-santri yang lain, Mbah Yai saat di pesantren juga dikenal sebagai santri kasab, yakni santri yang menghidupi dirinya dengan bekerja sendiri, ikut orang desa bekerja agar bisa makan. Hal itu bukan karena Mbah Yai orang yang sangat miskin, akan tetapi karena ada beberapa hal yang membuat Mbah Yai tidak dikirim. Namun hal itu tidak membuat Mbah Yai patah semangat atau mundur untuk menimba ilmu agama di pesantren.

Mbah Yai juga terserang penyakit kulit (kudis/gudik) sama seperti santri lainnya, namun dalam cerita yang masyhur penyakit Mbah Yai sangatlah parah. Konon penyakitnya ini merata ke seluruh tubuhnya hingga sampai kawan-kawannya merasa jijik dengan Mbah Yai. Masya Allah. Dan karena sakit inilah Mbah Yai sering menyendiri karena tidak ingin merasa kawan-kawannya terganggu dengan bau menyengat yang tidak sedap yang muncul dari tubuhnya. Bahkan tidak jarang Mbah Yai harus tidur di atas daun pisang sebagai alasnya, agar setelah selesai daunnya bisa langsung dibuang. Masya Allah.

Kemudian setelah Mbah Yai keluar dari pondok dan mendirikan pesantren yang sekarang dikenal dengan PP. Darussalam Blokagung. Pesantren ini kemudian secara bertahap dan dengan waktu yang singkat menjadi pesantren yang mampu berkembang baik secara pesat. Bahkan sekarang pesantren ini termasuk pesantren yang berkaliber di kancah Nusantara. Ribuan santri dari berbagai daerah Indonesia menimba ilmu agama kepada beliau.

Fenomena inilah yang kemudian banyak kawan seperjuangannya di pondok menanyakan keheranan kepada Mbah Yai Mukhtar Syafa’at bisa mendirikan pesantren yang kemudian bisa sebesar ini. Tirakat apa yang dilakukan saat di pondok hingga Mbah yai sampai bisa seperti ini?

Baca Juga >  Kisah Pengusaha Batubara Takjub dengan Karomah Guru Sekumpul

Mbah Yai menjawabnya ada 2 hal alasan kenapa saat pulang beliau bisa seperti ini. (dalam kisah lain diceritakan 3 hal )
Pertama, di pondok ringan tangan. Di masa Mbah Yai mondok, beliau mengaku santri yang termasuk ringan tangan, artinya Suka membantu dan cepat tanggap saat pondok ada kekurangan dan kebutuhan. Beliau mengibaratkan seperti kalau ada genteng melorot/jatuh segera dibenahi. (Hingga dalam kisah yang masyhur, suatu saat beliau melihat satu keadaan yang terjadi pada kyainya yaitu KH. Ibrahim Njalen yang harus berjalan kaki kalau harus ke mana-mana. Melihat kondisi itu secara tanggap Mbah Yai membelikan sepeda kepada beliau).

Kedua, Mbah Yai bilang, bahwa setiap harinya Mbah Yai menghadiahi surat al-fatihah untuk semua gurunya sebanyak seribu kali. Masya Allah. Inilah bentuk hurmat dan keta’dziman beliau kepada para guru yang telah mengajarnya. Beliau tidak pernah melupakan jasa para gurunya yang telah mengantarkannya pada pengetahuan yang tak terharga yakni mutiara ilmu.

Dan dalam kisah lain dikatakan ke-3, adalah Mbah mengaku tidak pernah meninggalkan sholat berjama’ah. Inilah salah satu tirakat mbah yai yang selalu diistiqomahkan. Mbah Yai pernah mengatakan selama belajar beliau berkata pernah meninggalkan sholat jama’ah dua kali dan itupun karena ada hal dhorurat yang tidak bisa dihindari.

Jadi selama di pondok, 3 hal inilah yang benar-benar selalu ditekankan oleh Mbah Yai, sehingga saat beliau keluar dari pondok semua ilmu yang didapat bisa bermanfaat dan berkah. Demikian Kang Asngadi Rofik (Santri Darussalam) menceritakan dalam status facebooknya.

Keberkahan dan kedalaman ilmu jiwa Mbah Yai yang istiqomah menghatamkan kitab Ihya’ Ulumuddin itu, terpancar dalam dawuh-dawuhnya yang menyejukkan. Salah satunya, sebagaimana diabadikan pada kalender keren ini:

“Manusia tanpa agama kehidupannya tidak akan tenang dan kelimpungan. Jangan biarkan jasmaninya gemuk, tapi rohaninya kurus.”

2 Januari 2017

Penulis: Ayung Notonegoro, Banyuwangi.