Ini Kabar Langit yang Dibawa Jibril untuk Sayyidah 'Aisyah

Ini Kabar Langit yang Dibawa Jibril untuk Sayyidah ‘Aisyah

Posted on

Sayyidah A’isyah Radliyallahu anha

– “Dialah A’isyah putri Abu Bakar”

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

+ Hop hop…

– Aku kan lagi nyayi tentang A’isyah, salahnya dimana?

+ Lha aku juga ndak bicara salah dan benarnya, tapi bicara adab/etika saja. Masa ibu kita kamu panggil namanya langsung? Bapaknya juga, beliau berdua itu sahabat sekaligus mertua dan istri Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam. Jadi tidak patut memanggil beliau berdua hanya dengan namanya langsung sekalipun itu karena dlarurat asSyi’r. Sebab yang seperti itu kuranglah santun. Coba seumpama nama ibumu dipanggil orang lain yang usia dan kehormatannya sangat jauh sekali dengan panggilan “njangkar” / langsung tanpa ada embel-embel ibu / bulek / budhe dll? Tentu tidak sopan kan? Lagian kalau mau membuat lagu tentang beliau mbokya jangan hanya dilihat dari sisi kemesraan dan sensualitas beliau saja. Ada yang lebih menarik dari beliau radliyallahu anha.

– Emang apa?

+ lihatlah beliau dari sisi kealimannya, kefaqihannya.

– Emang beliau itu sahabat yang alim dan faqihah?

+ Hus… ya jelas lah, beliau itu istrinya Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang setiap harinya melihat dengan detail apa yang diucapkan, dilakukan, disukai dan dibenci oleh Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bahkan hampir semua ilmu pemahaman agama yang berkaitan dengan wanita itu melalui jalur riwayat beliau.

– Coba tolong gambarkan lebih jauh.

+ Jadi gini, Sayyidah A’isyah Radliyallahu anha itu adalah istri yang dinikahi oleh Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam pasca wafatnya Sayyidah Khadijah Radliyallahu anha. Saat itu beliau baru berumur sekitar enam atau tujuh tahun. Baru setelah berumur sembilan atau sepuluh tahun beliau pergi ke Madinah untuk menyusul Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam.

– Lho, berarti masih kecil dong? Apa itu tidak kasihan namanya, masa anak kecil dinikahi?

+ Dengarkan dulu, cerita saya kan belum selesai? Kalau masalah itu, ada hikmahnya bukan kok Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam itu pedofil, tapi tersimpan hikmah tersendiri. Sayyidah A’isyah Radliyallahu anha berumah tangga dengan Rasulallah shallallahu alaihi wasallam itu kurang lebih sekitar 12-13 tahunan.

Beliau ditinggal wafat oleh Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika berusia 18/19 tahun.

Selama itulah beliau belajar langsung tentang aqwal/perkataan sekaligus ahwal/perilaku Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan detail. Setelah Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, beliau masih diberi kesempatan hidup oleh Gusti Allah Ta’ala selama 48 tahun lagi, karena beliau wafat diusia 66 tahun. Selama 48 tahun itulah Sayyidah A’isyah Radliyallahu anha memahamkan Islam kepada para Sahabat (khususnya terkait fiqhun nisa’/fiqh perempuan).

Jadi salahsatu hikmah terbesar pernikahan Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan Sayyidah A’isyah yang masih belia tidak lain adalah supaya ada yang menjelaskan tentang fiqhun nisa’ kepada umat dengan durasi waktu lebih lama. Bukan karena soal hawa nafsu Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sebab andai saja beliau menikahi Sayyidah A’isyah Radliyallahu anha karena hawa nafsu, tentu tidak perlu bersusah payah menunggu 10 tahun lebih setelah kenabian. Sebab Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika mendakwahkan Islam beliau ditawari berapapun wanita pilihan yang beliau inginkan oleh kafir Qurays supaya menghentikan dakwah beliau.

– Hemmm gitu ya… Emang kronologi Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam menikah dengan sayyidah A’isyah itu bagaimana?

+ Oke tak teruskan lagi, ada riwayat yang menceritakan; pasca wafatnya Sayyidah Khadijah Radliyallahu anha yang saat itu sangat membuat Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam sedih. Selang beberapa bulan Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam didatangi oleh Malaikat Jibril alaihissalam dengan membawa kertas dari surga.

Dalam kertas itu tergambar wajah Sayyidah A’isyah. Malaikat Jibril alaihissalam dawuh; “Wahai Muhammad, Gusti Allah Ta’ala menyampaikan salam kepadamu dan Dawuh; “Sesungguhnya Aku menikahkanmu dengan seorang yang menyerupai gambar ini di langit, maka kamu nikahilah ia di bumi”.

Baca Juga >  Perempuan Bukan dari Tulang Rusuk!

Lantas Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam memanggil alKhotobah dan bertanya kepada beliau; “Apakah kamu mengetahui perempuan yang menyerupai gambar ini di Makkah?”

alKhotobah menjawab; “Iya, saya tau itu seperti putrinya –sayyidina- Abu Bakar.”

Coba sampean bayangkan, berapa lama Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam bersahabat dengan Sayyidina Abu Bakar? Mulai dari kecil sampai sepuh Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak mengetahui jika Sahabat beliau memiliki putri perempuan berwajah seperti itu.

Artinya apa? Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam itu tidak –mohon maaf- “jelalatan” seperti kita-kita ini. Kalau kita memiliki sahabat kan pasti tahu wajah semua keluarganya?! Tapi tidak bagi Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam.

– Terus gimana kelanjutannya?

+ Akhirnya Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam memanggil Sayyidina Abu Bakar Radliyallahu anhu dan berkata kepada beliau; “sampean benar memiliki putri yang menyerupai gambar ini dan bernama A’isyah? Gusti Allah Ta’ala telah menikahkanku dengannya di langit, dan memerintahkanmu untuk menikahkannya denganku di bumi”.

“Mohon maaf kanjeng Nabi, dia itu masih kecil, tidak layak untuk Panjenengan”. Jawab Sayyidina Abu Bakar.

“Andaikan tidak tepat untukku, mengapa Gusti Allah Ta’ala menikahkanku dengannya?”

Akhirnya Sayyidina Abu Bakar menikahkan putri beliau dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kembalilah beliau ke rumah dan mengutus Sayyidah A’isyah untuk menghaturkan satu kotak kurma kepada Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasalla.

“Pergi dan haturkanlah kurma ini kepada Rasulallah shallallahu alaihi wasallam, sampaikanlah seperti ini; wahai Rasulullah, ini adalah sesuatu yang engkau sampaikan kepada bapakku, jika layak untukmu maka semoga keberkahan senantiasa tercurahkan untukmu”.

Akhirnya Sayyidah A’isyah sowan kepada Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menyampaikan pesan dari ayahanda beliau.

“Aku telah menerimanya wahai A’isyah, aku telah menerimanya”. Jawab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sembari memegang sebagian pucuk pakaian Sayyidah A’isyah.

Melihat apa yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam, Sayyidah A’isyah memandang beliau dengan pandangan marah. Beliau langsung pergi kembali ke rumah beliau untuk menemui ayahanda Sayyidina Abu Bakar dan menceritakan peristiwa tidak mengenakkan yang telah terjadi.

Mendengar cerita tersebut, Sayyidina Abu Bakar Radliyallahu anhu tersenyum dan berkata; “Janganlah sesekali engkau berprasangka buruk kepada Rasulullah, sesungguhnya Gusti Allah Ta’ala telah menikahkanmu dengan Rasulullah, dan aku juga telah menikahkanmu dengan beliau shallallahu alaihi wasallam”.

Akhirnya, Sayyidah A’isyah mengatakan; “Tidaklah ada yang lebih membahagiakan aku dari ucapanan ayahku “telah aku nikahkan kamu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”.

Bayangkan saja, Sayyidah A’isyah berarti sudah paham mana sesuatu yang baik dan buruk, sesuatu yang salah dan tidak. Artinya apa? walaupun masih usia belia, Beliau itu alimah faqihah. Karena beliau tidak ridla dipegang pakaian beliau oleh siapapun termasuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena belum siapa-siapa beliau. Beliau saat itu belum tau kalau sudah dinikahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

– Subhanallah… Masya Allah Tabarakallah…. tolong ceritakan kepadaku lagi tentang Sayyidah A’isyah Radliyallahu anha.

+ Kalau berbicara tentang Sayyidah A’isyah Radliyallahu anha secara lebih lengkap tentu tidak akan ada habisnya, dari sisi kecerdasan, kealimahan beliau, kezuhudan beliau dan lain-lain sangat banyak tak terhitung. Beliau itu selalu berpuasa disepanjang masa (shoimatud dahri) kecuali hari-hari yang diharamkan berpuasa tentunya.

Cukuplah gambaran Sayyidah A’isyah Radliyallahu anha tentang kelimannya adalah dari dawuhnya Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Ambillah kalian separuh agama kalian dari Humaira’ (nama panggilan sayang Sayyidah A’isyah).

Imam Zuhri mengatakan; Andaikan ilmu semua istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan semua perempuan di dunia ini dikumpulkan menjadi satu, tentulah Ilmunya Sayyidah A’isyah Radliyallahu anha lebih banyak dari ilmu-ilmu mereka.

Wallahu a’la wa a’lam.

Penulis: Kyai Taufiq Zubaidi.