gus dur gus miek

Ini Cara Gus Dur Menghadapi Hinaan dan Cacian

Posted on

Seorang laki-laki yang berbeda paham dengan Gus Dur mengeluarkan kecaman dan kata-kata kasar meluapkan kebenciannya kepada Gus Dur. Gus Dur hanya diam, mendengarkannya dengan sabar, tenang dan tidak berkata apapun.

Setelah lelaki tersebut pergi, si murid yang melihat peristiwa itu dengan penasaran bertanya, “Mengapa Gus Dur diam saja tidak membalas makian lelaki tersebut?”

Beberapa saat kemudian, maka Gus Dur bertanya kepada si murid, “Jika seseorang memberimu sesuatu, tapi kamu tidak mau menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu?”

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

“Tentu saja menjadi milik si pemberi,” jawab si murid.

“Begitupula dengan kata-kata kasar itu,” dawuh Gus Dur. “Karena aku tidak mau menerima kata-kata itu, maka kata-kata tadi akan kembali menjadi miliknya. Dia harus menyimpannya sendiri. Dia tidak menyadari, karena nanti dia harus menanggung akibatnya di dunia ataupun akhirat. Karena energi negatif yang muncul dari pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan hanya akan membuahkan penderitaan hidup.”

Kemudian lanjut Gus Dur, “Sama seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri. Demikian halnya, jika di luar sana ada orang yang marah-marah kepadamu, biarkan saja. Karena mereka sedang membuang ‘sampah hati’ mereka.”

Baca Juga >  Sajadah Kiai Munawwir Krapyak

“Jika engkau diam saja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka sendiri. Tetapi kalau engkau tanggapi, berarti engkau menerima sampah itu.”

“Hari ini begitu banyak orang yang hidup dengan membawa sampah di hatinya (sampah kekesalan, sampah amarah, sampah kebencian, dan lainnya dari penyakit hati). Maka jadilah kita orang yang bijak.”

Gus Dur melanjutkan nasihatnya, “Jika engkau tak mungkin memberi, janganlah mengambil. Jika engkau terlalu sulit untuk mengasihi, janganlah membenci. Jika engkau tak dapat menghibur orang lain, janganlah membuatnya sedih. Jika engkau tak bisa memuji, janganlah menghujat. Jika engkau tak dapat menghargai, janganlah menghina. Jika engkau tidak suka bersahabat, janganlah bermusuhan. Jadikanlah setiap hari dalam hidup ini sebuah pembelajaran dan mawas diri.” (red)