Indahnya Hubungan Kiai Zainal Abidin Munawwir dengan Masyarakat

Refleksi Ditengah Wabah Corona Hari Jum'at KH Henry Sutopo Krapyak

KH Munawir AF, Mustasyar PWNU DIY

Hubungan pribadi antara Simbah Kiai Haji Zainal Abidin Munawwir dengan masyarakat sekitar pondok baik-baik saja. Sama halnya dengan Simbah Kiai Munawwir, Simbah Kiai Ali, dan lainnya. Mereka semua sangat akrab dan intim dengan masyarakat. Hubungan mereka semua sungguh indah, menjadi cermin buat kita semua.

Pondok pesantren bukan menara gading. Sebaliknya masyarakat sekitar pondok dapat masuk pondok sewaktu-waktu tanpa harus ijin terlebih dahulu. Bahkan masjid pondok dihibahkan untuk masyarakat untuk kegiatan apa saja, termasuk untuk Jumatan.

Juga, sekiranya memerlukan bantuan kiai kapan saja boleh ketuk pintu. Siang atau malam silakan datang. Wong di depan rumah kiai tidak ada penjaganya kok.

Ketika Simbah Kiai Ali menjadi Rais Aam PBNU pun di depan pintu tidak ada yang jaga. Memang pernah ada usul dari salah seorang Banser begitu, tetapi Simbah Kiai Ali jawabnya malah “ngakak”

“Sudah, sudah ada yang jaga, malaikat,” tegas Simbah Kiai Ali saat itu sambil tertawa.

Barangkali kebiasaan ini berlaku juga untuk semua kiai dan termasuk Gus Mus saat ini. Kiai-kiai sudah kadung biasa. Malah kalau ada penjaga, nanti kelihatan aneh. Jangan-jangan malah ada yang bilang “bid’ah”, sebab hal baru yang di zaman Nabi gak ada?

Simbah Kiai Zainal tidak berbeda dengan Simbah Kiai Ali: yakni entengan, gampangan jika ada permintaan masyarakat, khususnya yang meninggal. Tidak itu saja, keperluan lain pun kiai siap datang. Apa bayi lahir, tetakan, mantu, dan lainnya, bahkan sakit akan meninggalpun jika memang diperlukan kiai siap.

Hanya Kiai Zainal sulit diminta untuk mencicipi barang sesuap hidangan yang sudah disediakan. Andaikan kematian, maka bisa memaklumi. Termasuk ketika walimah manten, aqiqah pun gak mau. Bukan karena menolak, tetapi karena kelihatan kapasitas perutnya yang gak mau macem-macem.

Kalau orang yang belum mengetahui Kiai Zainal bisa kecewa sambil mengatakan “kemaki”. Bagi yang sudah tahu, ya sudah maklum.

Berbeda dengan Simbah Kiai Ali, yang suka “nglegakke” (meluangkan, melegakan, dan membuat senang). Kiai Ali suka idkholus surur (memberikan bahagia) kepada si tuan rumah, sering-sering juga menanyakan dan menyatakan “ah uenake…”, sehingga si tuan rumah merasa tersanjung.

Allahu yarham

02-04-2015

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *