Ijazah Doa dari Habib Umar Untuk Kelancaran Berbisnis

Ijazah Doa dari Habib Umar Untuk Kelancaran Berbisnis

Ijazah Doa dari Habib Umar Untuk Kelancaran Berbisnis

Amalan doa dan dzikir yang diijazahkan oleh alhabib Umar bin Hafidz kepada kami dan sahabat-sahabat kami pada hari ahad malam tanggal 29 September 2019 jam 19.15 WIB di Bandara Sukarno -Hatta sebagai kepulangan ayah dari Indonesia. Hal ini juga bisa dilihat saat beberapa ikut shaleh minta doa terkait kurang stabil kondisi bisnis di Indonesia, maka diijazahkan 3 jenis Doa/Dzikir agar diamalkan setiap hari:

يافتاح يارزاق ياكافي يامغني

Ya Fattah ya Rozzaq ya Kaafiy ya Mugniy.

(dibaca 100x selepas solat Subuh)

Artinya: (Wahai Dzat yang maha dibuka, Wahai Dzat yg maha memberi rizqi, Wahai Dzat yang maha mencukupi, Wahai Dzat yang maha memberi kekayaan)

لااله الا الله الملك الحق المبين

Laa ilaha illallah almalikul haqqul mubiin

(dibaca 100x selepas solat Duhur)

Artinya: (Tiada Tuhan selain Allah Dzat yang maha Benar dan maha nyata kebenarannya)

رب اشرح لي صدري ويسر لي امري

Robbisyroh liy sodriy wayassir liy amriy.

(dibaca 100x selepas solat Ashar/Magrib)

Artinya: (Tuhanku..Lapangkanlah dadaku dan dan beri aku hambamu kemudahan dalam segala urusannku)

 

Itu semua masing-masing di baca 100x setiap hari.

Terima kasih Habib Umar, Semoga membawa Keberkahan bagi kami.

 

Penulis: Habib Quraisy Baharun, Pendiri Pondok Pesantren As Shidqu Cirebon

___________

BONUS ARTIKEL TAMBAHAN

Humor Abu Nawas

Abu Nuwas sebenarnya pucat pasi saat menuju istana, tapi dia pura-pura tenang. Dia sadar penguasa Baghdad akan memenggal kepalanya jika dia tak bisa menjawab pertanyaan Khalifah. Dari bocoran orang dalam istana, Abu Nuwas tahu pertanyaannya tak jauh dari sekitar kampret. Tapi apa bentuk pertanyaannya?

Benar saja, saat memasuki istana, Abu Nuwas melihat dua algojo di samping kanan kiri khalifah berdiri sambil menghunuskan pedang. Tapi dia pura-pura tak melihat dua mesin pembunuh itu dan balik tersenyum menyapa khalifah.

”Kamu sudah siap, Abu Nuwas?” tanya khalifah dengan nada dingin.

”Saya tak segan membunuh kamu jika kamu tak mampu menjawab pertanyaan saya.”

Abu Nuwas cuma menganggukkan kepala lalu duduk lemas.

”Abu Nuwas, kamu terkenal cerdas. Coba jawab pertanyaan saya dengan cepat, sebenarnya kampret itu burung, serigala, atau tikus?”

Terus terang Abu Nuwas kaget bukan main. Dia tak mengira pertanyaan Harun akan seperti ini.

”Menurut saya kampret itu burung, paduka. Buktinya mereka bisa terbang,” jelas Abu Nuwas dengan nada meyakinkan.

”Hah, jangan bohong kamu, Kalau mereka burung, mengapa tidak terbang di siang hari?”

Abu Nuwas makin pucat.

”Saya tak yakin. Jangan-jangan kamu sedang membohongi saya. Menurut saya, kampret itu serigala. Lihat saja muka mereka mirip serigala,” jelas Harun sambil melihat orang-orang di sekitarnya mencari dukungan.

”Ah benar, kampret itu jenis serigala, paduka, bukan burung,”  kata Abu Nuwas buru-buru. Tapi khalifah kecewa mendengar penjelasan Abu Nuwas.

”Ah, kamu ini kayaknya cuma ingin menyenangkan hati orang tapi tak memberi jawaban yang pasti,” tegas Harun.

”Masa kampret mirip serigala? Menurut saya, kampret itu masuk ke dalam jenis tikus. Lihat saja wajah mereka mirip tikus.”

Abu Nuwas kontan terhenyak. Dia baru sadar wajah kampret memang mirip tikus, tapi bukankah mereka bisa terbang?

”Benar paduka yang mulia, kampret itu adalah tikus, tapi mereka bisa terbang. Jadi namanya ”Tikus terbang”.

Tak diduga, jawaban Abu Nuwas justru membuat khalifah marah.

”Abu Nuwas, kamu main-main dan tidak secerdas yang saya duga. Saya bilang kampret bukan burung, kamu setuju. Saya katakan kampret adalah serigala, kamu setuju. Sekarang saya bilang kampret adalah tikus, kamu juga setuju. Algojooooo, siaaap?”

”Sabar paduka yang mulia, semua jawaban saya itu bukan tanpa alasan,” sergah Abu Nuwas ketakutan melihat dua algojo menghampirinya.

”Dari tiga kali sanggahan paduka pada saya, itulah kampret sesungguhnya. Paduka sengaja saya biarkan jadi kampret!”

”Maksud kamu?”

”Ya, bukankah barusan paduka sudah jadi kampret, selalu tidak tegas menilai sesuatu dan terkadang seenak udel? Pertama paduka bilang kampret bukan burung, lalu paduka bilang serigala, lalu paduka bilang tikus. Jadi apa itu kampret? Bukankah paduka sudah menjawabnya?”

Khalifah Harun terdiam. Dia tersadar pertanyannya kepada Abu Nuwas ternyata sudah dia jawab sendiri. Kurang ajar, katanya sambil tersenyum. Tapi dia tetap menghampiri Abu Nuwas lalu berbisik:

”Abu Nuwas, aku yang berdiri tegap saja di istanaku masih plintat-plintut menjawab pertanyaanku sendiri, bagaimana dengan kampret yang selalu tidur bergelantungan lalu melihat dunia terbalik?”

Abu Nuwas tersenyum lalu buru-buru pamit. Dia ngeri, bukan kepada dua algojo berpedang itu, tapi kepada kampret di hadapannya.

_____________

Simak Artikel terkait Ijazah Doa dari Habib Umar Untuk Kelancaran Berbisnis di sini

kunjungi juga channel youtube kami yang berisi ijazah Ijazah Doa dari Habib Umar Untuk Kelancaran Berbisnis di sini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *