Humor Santri: Ketika Lupa Tidak Pada Saatnya

Posted on

Suhendra adalah seorang salah satu wartawan majalah Bangkit. Malam itu, ia berniat merekam ceramah Gus Mus untuk  bahan tulisannya. Saat itu, Gus Mus sedang mengisi pengajian di Pondok Krapyak Yogyakarta. Dengan senang hati ia berniat datang ke pengajian untuk merekam ceramah Gus Mus. Sayang seribu kali sayang, malam itu hujan turun dengan lebatnya. Ia pun getar-getir dibuatnya, khawatir tidak bisa datang ke pengajiannya Gus Mus.

Satu jam pun berlalu. Hujan masih saja belum berhenti. Tetapi, beberapa menit kemudian hujan pun agak mereda. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Suhendra pun berangkat jalan kaki dari basecamp majalah Bangkit ke pengajiannya Gus Mus dengan membawa payung. Sesampainya di sana, hujan reda sama sekali. Ia pun tambah senang dibuatnya. Apalagi, ia datang tepat waktu, saat Gus Mus baru akan memulai ceramahnya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Suhendra pun beraksi. Layaknya seorang wartawan kelas kakap, ia mendekati salah satu sound sistem untuk menaruh alat perekam andalannya. Tanpa mau beranjak, ia menunggui alat perekamnya sambil berdiri dengan PD-nya. Waktu pun terus berjalan, akhirnya pengajiannya Gus Mus pun selesai. Suhendra puas, karena berhasil merekam ceramah Gus Mus. Ia pun pulang dengan bahagia.

Baca Juga >  Humor Gus Mus: Ketika Gus Dur Masak Sop Ceker

Setibanya di basecamp Bangkit yang terletak di krapyak wetan, ia berniat mentranslate ceramahnya Gus Mus dan menjadikannya sebuah tulisan. Ia bersiap dengan laptop di depannya dan alat perekam di samping kirinya. Sayang seribu kali sayang, ketika memencet-mencet alat perekamnya tak ada satu pun suara yang keluar. Wajahnya panik seketika. Melihat Suhendra tampak kebingungan, Pimred Majalah Bangkit kemudian bertanya kepadanya.

“Hasil rekamannya nggak ada ya dra?”

“Gak tau Pak. Kok bisa nggak ada ya.” Jawab Suhendra dengan polosnya.

“Mungkin kamu lupa menekan tombol untuk mengaktifkan alat perekamnya kali Ndra.” Timpal crew bangkit lainnya.

“Iya mungkin pak” tukas Hendra tersenyum getir dengan garuk-garuk kepala. (Rokhim)