Benarkah Kiai Wahab Chasbullah Pernah Menyuap Kiai Bisri Syansuri?

Harta Mbah Wahab Dihabiskan untuk Perjuangan NU dan Bangsa

Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Bisri Syansuri pernah berbeda pandangan tentang pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) oleh Presiden Sukarno tahun 1960. Benarkah Mbah Wahab pernah menyuap adik iparnya agar setuju?

Ini cerita dari Hamzah Sahal yang dia tuliskan di laman NU Online. Dia mengingat pernah bertemu dan berbincang dengan almarhumah Ibu Lily Wahid, semasa beliau masih hidup. Kala itu, Ibu Lily menjadi pembicara dalam acara peringatan 40 hari adiknya, almarhum Gus Hasyim Wahid (Gus Iim), sekitar September 2020 di Pesantren Ciganjur.

Bunda, begitu almarhumah biasa disebut, berkisah hubungan dengan adiknya yang agak aneh. Meski kakak adik kandung, mereka seakan bukan ‘saudara’. “Saya yang harus ngalah ke rumah dia atau komunikasi dulu dengan dia. Kalau tidak, yang mungkin tidak pernah bertemu,” kata adik Gus Dur itu mengawali pembicaraannya dengan Sahal.

Namun ternyata sikap Gus Iim tersebut bukan hanya dialami oleh Bunda Lily, melainkan pada semuanya. Meski saat dilihat lebih menyeluruh, hubungan rumit antar saudara tidak hanya terjadi pada keluarga Bunda Lily, namun juga di pesantren lain. “Yang paling aneh ya hubungan Mbah Wahab dan Mbah Bisri. Beliau berdua itu saudara ipar dan juga seperguruan di Tebuireng, sesama murid Mbah Hasyim Asy’ari,” kata cucu Kiai Bisri dari jalur mendiang Ibu Sholichah Munawwaroh itu.

Bunda Lily menjelaskan bahwa dua ulama itu sebetulnya berlainan sifat dan banyak berbeda pada soal-soal strategi. Namun Mbah Wahab lah yang meminta Mbah Bisri menikahi adiknya, Nyai Hj. Nur Khodijah Chasbullah. Mbah Bisri bersedia menuruti permintaan itu. Mbah Bisri menikah dengan Nyai Khodijah sampai akhir hayat, tanpa poligami. Suatu hari, kata Bunda Lily, Mbah Wahab mengundang adiknya ke rumah.

Acaranya adalah makan-makan saja, tanpa pembicaraan yang berat-berat. Namun, saat itu Mbah Wahab dan Mbah Bisri diketahui sedang berbeda tajam tentang pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) oleh Presiden Sukarno tahun 1960. Mbah Wahab setuju, sementara adik iparnya menolak.

Bunda Lily menceritakan bahwa Mbah Bisri menerima undangan makan-makan kakak iparnya. Singkat cerita makan-makan selesai, semua yang datang senang, tidak terkecuali Mbah Bisri yang sedang berbeda pendapat dengan sang tuan rumah.

“Makanannya enak-enak. Saya habis banyak. Semoga ini bukan makanan sogokan agar saya setuju DPR-GR. Saya tetap tidak sepakat DPR-GR,” begitu cerita Bunda Lily menirukan kakeknya.

Katanya, Mbah Wahab tertawa-tawa mendengar statemen adik iparnya itu, sambil berseloroh, “Masa iya saya mau menyuap kiai, meski adik sendiri.”

Penulis: Antariksa Bumiswara

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *