Humor Gus Dur: “Bagaimana Mau Mundur, Maju Saja Saya Dituntun Kok”

Humor: Ketika Artis Cantik Itu Begitu Gemes Sama Gus Dur

Humor Gus Dur: “Bagaimana Mau Mundur, Maju Saja Saya Dituntun Kok”

Anda pasti sudah akrab dengan humor Gus Dur yang terkenal ini. Saat itu, Gus Dur masih menjadi presiden. Gerombolan lawan politiknya meminta Gus Dur mundur. Tapi, Gus Dur tidak mau.

Para wartawan pun menyelidiki alasan mengapa Gus Dur enggan mundur sebagai presiden.

“Gus,” tanya mereka, “kenapa Anda tidak mau mundur?”

Dengan santai, Gus Dur menjawab, “Bagaimana saya mau mundur, maju saja saya dituntun kok.”

Gus Dur memang sudah mengalami gangguan penglihatan saat menjadi presiden. Sedemikian parah gangguang penglihatan tersebut, sampai-sampai untuk jalan pun Gus Dur harus dituntun.

Pelajaran yang kita petik dari humor ini bukan kegigihan Gus Dur, bukan pula kenyelenehannya. Dalam setiap humor karangannya, di mana dia menampilkan dirinya sendiri sebagai tokoh cerita, Gus Dur selalu mengkritik dirinya sendiri. Bahkan, mengejek dirinya sendiri. Hal ini saya sadari saat saya meneliti humor-humor Gus Dur sekitar lima tahun lalu dalam rangka menyusun sebuah buku yang, alhamdulillah, gagal terbit.

Melalui humor ciptaannya, Gus Dur menertawakan dirinya sendiri. Ketika humor itu dia bagikan ke publik, Gus Dur mempersilakan publik menertawakan dirinya. Gus Dur berani “telanjang” di depan publik. Polos. Tanpa hiasan dan riasan. Tanpa pencitraan.

Kualitas kejiwaan seperti ini hanya dimiliki segelintir orang. Mereka layak, sungguh-sungguh layak, kita pandang dan kenang sebagai wong agung. Manusia yang berjiwa besar. Jiwa yang tak lagi terperangkap penjara egoisme. Jiwa yang sudah tak goyah oleh belaian pujian dan cambukan cacian.

“Anake sadu,” ujar leluhur Bali, “yen kapuji tan kendel, yen kaceda tan sebet.” Orang suci itu, jika dipuji tak gembira, jika dicela tak marah. Apa Gus Dur termasuk orang suci? Entahlah. Saya tak bisa melihat isi hati orang.

Namun, ditengok dari keberaniannya untuk ditertawakan publik, Gus Dur barangkali manusia yang wasis waskitha, yang ilmunya sudah meresap ke kedalaman palung hati. Dalam Serat Wedhatama, Mangkunegara IV menjelaskan bahwa manusia wasis waskitha itu “bungah ingaran cubluk, sugeng tyas yen den ino”. Bahagia-bahagia saja bila dikira bodoh. Hati tetap tenang bila dihina.

Dengan apa Gus Dur mencapai derajat wasis waskitha itu? Faktor dan instrumennya tentu banyak. Tapi saya yakin, tanpa kemampuan dan kebiasaan self distancing, tidak ada seorang pun yang ikhlas “telanjang” dan “ditelanjangi” di depan publik.

Secara terang-benderang, Gus Dur mendemonstrasikan kemampuan self distancing-nya dalam humor-humornya. Self distancing adalah berjarak dari diri sendiri. Saat melakukan self distancing, kita seakan keluar dari diri sendiri, lalu mengamati diri sendiri dari suatu jarak psikologis yang aman, yang tak terlibat dan tak memihak. Sang Kesadaran berperan sebagai subjek yang mengamati. Diri sendiri menjadi objek yang diamati.

Saat seseorang merasa sedih atau senang, kesadarannya berkata: “Ini bukan perasaanku. Ini bukan aku. Aku hanya saksi yang tak memihak”.

Saat seseorang berpikir jauh ke masa depan yang menakutkan atau ke masa lalu yang traumatik, kesadarannya berkata, “Ini bukan pikiranku. Ini bukan aku. Aku hanya saksi yang tak memihak.”

Saat tubuh seseorang menyentuh anak tercinta yang lama tak bertemu, atau menyentuh jenazah kekasih yang baru saja meninggal, kesadarannya berkata, “Ini bukan tubuhku. Ini bukan aku. Aku hanya saksi yang tak memihak.”

Saat kita ditertawakan, dicaci maki, atau dipuji sanjung, kesadaran kita mengingatkan, “Yang ditertawakan ini bukan aku. Yang dicaci maki ini bukan aku. Yang dipuji sanjung ini bukan aku. Aku hanya saksi yang tak memihak. Tak terlibat.”

Gus Dur ahli dalam self distancing. Ketika melontarkan humornyo ke publik, Gus Dur barangkali memposisikan diri sebagai “Gus Dur yang bercerita”. Dia tak lagi terlibat dengan dan memihak kepada “Gus Dur yang diceritakan”, yaitu “Gus Dur yang ditertawakan”.

“Gus Dur yang bercerita” adalah subjek yang mengamati, menyaksikan, dan menafsirkan secara objektif. “Gus Dur yang diceritakan” adalah objek yang diamati, disaksikan, dan ditafsirkan.

“Gus Dur yang diceritakan” bukanlah “Gus Dur yang bercerita”. Di antara keduanya terbentang jarak (distance) yang aman secara psikologis.

Sebab itulah, manakala “Gus Dur yang diceritakan” ditertawakan publik, “Gus Dur yang bercerita” tidak tersinggung, malah tertawa terkekeh-kekeh bersama publik. “Alangkah lucunya diriku,” ucap “Gus Dur yang bercerita”.

Selama masih terperangkap egoisme, sukar membayangkan bahwa kita mampu berucap, “Alangkah lucunya diriku”. Kita masih sakit hati, marah, dendam, dan sedih apabila direndahkan. Kita masih bangga apabila dihormati. Sekadar komentar “like” dan jempol di status media sosial saja sudah melambungkan ego kita setinggi langit.

Masih jauh sekali jarak kita dari Gus Dur. Sementara Gus Dur sudah enteng berkata “Alangkah lucunya diriku”, kita masih menganut kesimpulan-kesimpulan satanik dan ilusif seperti ini: “Alangkah menderitanya diriku”, “Alangkah malangnya diriku”, “Alangkah kasihannya diriku”, “Alangkah tak bergunanya diriku”, atau “Alangkah hebatnya diriku”, “Alangkah pintarnya diriku, “Alangkah salehnya diriku”…..

Jika begitu, kapan kita bisa tertawa sejujur, sepolos, seringan, dan seterkekeh Gus Dur? Kapan jiwa kita terbebas dari belenggu kerendahan, kemudian merdeka terbang meninggi, menembus langit demi langit?

Demikian Humor Gus Dur: “Bagaimana Mau Mundur, Maju Saja Saya Dituntun Kok”

Penulis: Lev Widodo, alumnus UIN Sunan Kalijaga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *