Hikmah Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Hikmah Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Hikmah Puasa Menurut Imam Al-Ghazali.

Zusiana Elly Triantini, Dosen UIN Sunan Kalijaga

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum Ad-Din menjabarkan tentang hikmah perintah puasa Romadhon dengan enam hal; menundukkan pandangan, menjaga lisan, menjaga pendengaran, mencegah berbuat syubhat, menahan nafsu dan menghasilkan perasaan takut pada Allah. Dari pemikiran Al Ghazali tersebut dapat dilihat bahwa puasa bukan hanya ibadah badaniyah namun juga batiniyah. Berpuasa adalah puasanya seluruh tubuh (perbuatan), hati dan pikiran. Puasa bukan hanya olah raga namun juga olah rasa. Saripati hikmah puasa tersebut dalam pandangan saya adalah hikmah yang dapat dimaknai secara bayani, burhani dan irfani.

Menundukkan pandangan bukan hanya kita menunduk secara fisik namun juga hati dan fikiran. Pandangan bukan hanya ada di mata fisik kita, tetapi juga mata hati dan mata fikiran yang kesemuanya harus ditundukkan bersama-sama. Perintah tundukkanlah pandanganmu adalah perintah untuk berfikir secara transenden sekaligus imanen. Menjadi teringat apa yang disampaikan Prof. Dr. Amrah Kasim bahwa perintah ghodzul bashor ketika melihat lawan jenis misalnya, bukan untuk menjadikan dirimu selalu menunduk dan tak melihat “lawan jenis” namun perintah menundukkan cara berfikirmu meski engkau sedang memandang “lawan jenis”mu.

Perintah tundukkan pandangan bukan tundukkan mata tetapi tundukkan cara berfikir. Dalam artian melihat hal yang “menggairahkan” tentu tak akan menjadi bernafsu dan berpengaruh terhadap nasfu jika pikiran dan hati kita tertunduk dan berfikir positif terhadap apa yang kita lihat. Namun sebaliknya, jikapun kita tak melihat sesuatu, sedangkan pikiran dan hati kita dipenuhi dengan nafsu maka yang ada adalah pikiran negatif yang menhantui. Mohon maaf, itu mengapa terkadang pemerkosaan terjadi bukan karena melihat “keseksian” namun karena berfikir tentang “keseksian”.

Menjaga lisan bukan hanya mencegah mengatakan hal buruk secara verbal, namun juga menjaga berfikir tentang hal buruk dan memberikan keteladanan kebaikan terhadap lingkungan sekitar. Jika ingat syair Arab yang mengatakan lisanul hal afshahu min lisanil maqal (keteladanan itu lebih kuat pengaruhnya dari pada ucapan) maka makna lisan bukan hanya dimaknai perkataan namun juga perbuatan. Maka perintah menjaga lisan adalam perintah menjaga perkataan buruk dan perbuatan buruk.

Menjaga pendengaran bukan hanya menutup telinga kita dari hal-hal yang tidak baik namun juga menjaga mata batin kita dengan mendengarkan amalan hati (Qoulul Qalbi) sehingga bisa dengan jernih memilah baik buruk yang ada di sekitar kita.

Manahan Nafsu, bukan hanya perintah menahan dari makanan dan minuman serta nafsu biologis yang lain, namun juga nafsu yang muncul dari hati dan fikiran kita. Oleh karena itu, rasa empathi terhadap fakir dan miskin juga menjadi salah satu tujuan berpuasa , dan jika melihat empathi terhadap fakir miskin maka ketika berbuka puasa kita tidak seharusnya menumpuk makanan yang seharusnya kita makan di siang hari dan kita habiskan saat berbuka, namun memakan sederhana dan secukupnya sebagaimana fakir miskin merasakannya.

Lebaran tidak akan selalu dimaknai dengan segala sesuatu yang baru dari ujung rabut hingga ujung kaki, namun Lebaran adalah wujud kelulusan rasa empathi kita, sehingga kita bersukaria dengan cara berbagi dengan orang-orang di sekitar kita sebagai wujud rasa syukur karena kita lulus karena kita telah ikut merasakan apa yang dirasakan fakir miskin di sekitar kita.

Bukan hanya itu saja, menahan nafsu juga selayaknya dipahami menahan nafsu beragama yang ekstrim, atau berlebihan dan nafsu dianggap paling benar sehingga berakibat pada perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain.

Dan jika kesemuanya itu dipahami dan dihayati maka makna puasa tidak akan hanya menjadi simbol berhenti makan dan minum (lapan dan haus) di siang hari, lalu berpesta di ketika berbuka. Namun puasa akan dimaknai sebagai mengolah rasa syukur atas semua karunianya dan menundukkan segala rasa yang kita punya untuk melihat lingkungan sekitar kita.

Dan puasa adalah sebuah ketundukan, kerendahan dan kepatuhan manusia sebagai Hamba Allah di muka bumi. Jika demikian, sudah puasakah kita?
Wallahua’lam
Bromonilan, 24-05-2018

________________

Semoga artikel Hikmah Puasa Menurut Imam Al-Ghazali ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

simak artikel terkait di sini

simak video terkait di sini

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *