YOGYAKARTA, BANGKITMEDIA.COM
Dalam rangka Haul Sewindu Gus Dur, Gusdurian bekerja sama dengan Majelis Ahad Wage PWNU DIY mengadakan diskusi dengan tema “Gus Dur, NU dan Pertarungan Ideologi di Indonesia”. Acara tersebut menghadirkan dua pemateri yaitu putri alm. Gus Dur, Alissa Wahid dan Ketua PBNU KH. Imam Aziz. Acara ini diselenggarakan pada Ahad (14/01) bertempat di Gedung PWNU DIY.
Alissa Wahid sebagai pemateri pertama menyampaikan bahwa situasi keagamaan di Indonesia agak berbeda mulai tahun 2005. Mulai muncul sentimen agama yang sangat kuat. Penandanya adalah bergelombangnya fatwa sesat. Jadi setiap orang pun itu bisa membuat fatwa. Sementara organisasi besar di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah memiliki proses pengkajian yang sangat rumit untuk bisa mencapai sebuah fatwa. Ini yang memicu terjadinya insiden kekerasan atas nama agama.
“Sentimen agama itu selalu ada dimana-mana tapi tidak akan berbahaya jika tidak dijadikan sebagai bahan bakar perebutan kekuasaan politik,” tegas Alissa yang juga sekretaris LKKNU PBNU.
Alissa menuturkan bahwa tahun 2018 dan 2019 bagi Indonesia ini pasti akan menjadi tahun-tahun yang krusial terutama bagi warga NU. Karena memang agama itu hal yang paling mudah disetel untuk sentimen berpolitik. Ini bukan problem agama Islam dan Indonesia saja tapi global.
“Gus Dur itu seperti jembatan dari luar ke NU dan dari dalam NU ke luar. Anak muda NU sekarang banyak sekali berkiprah di luar NU yang mewarnai gerakan kebangsaan,” tambah Alissa.
Memang menurut Gus Dur nilai-nilai keislaman kita ini memiliki kekhasan. NU memiliki kekhasan tapi juga pada saat yang sama ada nilai-nilai yang bersifat universal. Itulah kenapa Gus Dur menerjemahkan Islam rahmatan lil alamin dan itu yang dibawa Gus Dur keluar. Sehingga wajah NU yang moderat, tidak ekstrim, dan toleran itu kemudian menjadi sangat kuat.
“Situasi dunia saat ini membutuhkan NU karena wajah Islam secara global saat ini adalah wajah yang marah, bukan wajah yang rahmah. Dan wajah yang rahmah dan ramah saat ini ada di NU. Harapannya adalah bagaimana agar harapan itu bisa kita wujudkan bersama,” tandasnya.
Hadir dalam acara ini jamaah Ahad Wage PWNU DIY, kelompok lintas iman, santri Gus Dur yang tergabung dalam jaringan Gusdurian, dan para Kiai di lingkungan NU. Yang unik juga dalam acara ini adalah dahar kembul yang sudah disiapkan oleh panitia untuk peserta dan pemateri yang menambah keakraban dan kekhasan santri NU. (Icin)








