Hati Kiai Hamid Pasuruan Bergetar, Bertemu Rasulullah SAW Saat Maulidan

Kisah Kewalian Kiai Hamid Pasuruan Diuji Dukun Santet

Hati Kiai Hamid Pasuruan Bergetar, Bertemu Rasulullah SAW Saat Maulidan.

Pada suatu hari, Kiai Hamid Pasuruan mengadakan peringatan maulid Nabi mengundang para masayikh. Di antaranya adalah Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, yang kebetulan Kiai As’ad duduk di sebelah kanan Kiai Hamid, sedangkan sebelah kiri adalah Kiai Ahmad Shiddiq Jember.

Tibalaah saatnya saat berdiri mahallul qiyam. Semua yang hadir pada berdiri, hanya Kiai Hamid yang tidak berdiri. Semua tamu yang jumlahnya ribuan terheran dengan sikap Kiai Hamid. Setelah selesai acara, semua pada pulang, tinggallah 2 kiai sepuh dan para masayikh.

Baca Juga:  Ketika KH Ali Maksum Meminta Rahasia Perwalian KH Hamid Pasuruan

“Bagaimana kamu memanggil Kyai ini, baca doa mengapa mereka tidak berdiri?” Kiai As’ad menegur Kiai Hamid.

Kiai Hamid menangis tersedu-sedu sambil menjawab:

“Saya tidak memiliki kekuatan untuk berdiri karena Kanjeng Nabi berdiri tepat di depan saya. Saya merasa tidak memiliki karakter, apalagi pengetahuan, ibadah, dan mujahadah, dari pakaian saya, saya malu bertemu dengan Kanjeng Nabi. “

Ini kemudian dikisahkan oleh Kiai As’ad dalam suatu majelis beliau.

Allahumma sholli ala Sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad

(Mukhlisin)

______________

Semoga artikel Hati Kiai Hamid Pasuruan Bergetar, Bertemu Rasulullah SAW Saat Maulidan ini memberikan manfaat dan abrokah untuk kita semua, amiin..

BONUS ARTIKEL TAMBAHAN

Karomah Habib Ali Kwitang, Terlalu Dahsyat untuk Dilogikakan.

Suatu ketika ketika al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Kwitang) sedang mengajar di rumahnya di depan sejumlah besar muridnya, ia mendengar suara ibu tercintanya, Nyai Salmah: “Li … Ali … Li …”, demikian disebut ibu.

Lalu Habib Ali, waktu itu telah berumur lebih dari 60 tahun, langsung saja permisi kepada semua muridnya: “Saya minta ridhanya untuk menemui ibu saya terlebih dahulu.”

Habib Ali pun menemui ibunya. Ternyata sang ibu minta diantarkan ke kamar mandi. Bergegaslah Habib Ali menggendong sang bunda pergi ke kamar mandi. Bukan itu saja, Habib Ali lah yang langsung membersihkan dan menyuci pakaian sang ibu. Meski ada istri tapi Habib Ali tidak mengizinkannya, karena demi bakti beliau terhadap sang ibu. Padahal waktu itu Habib Ali telah dikenal sebagai ulama yang terpandang di tanah Betawi, tetapi beliau bila dipanggil sang ibu tanpa pikir panjang langsung memenuhi panggilan itu.

Ada suatu peristiwa dimana Habib Muhammad, putra Habib Ali, masih kecil sementara Habib Ali sedang dalam rihlah dakwahnya di Negeri Singapura. Dan sang ibu, Nyai Salmah, bertanya pada menantunya yaitu istri Habib Ali: “Mana Ali, putraku?”

Dijawab oleh istri Habib Ali: “Sedang dakwah di Singapura, Umi.”

Dengan spontan sang ibu memerintahkan pada menantunya itu: “Cepat kirim telegram, bilang padanya ibu memanggilnya untuk pulang!”

Langsung dikirimlah telegram itu kepada Habib Ali yang sedang berdakwah di Singapura. Sesampainya telegram itu pada Habib Ali, langsung beliau baca. Setelah dibaca, tanpa basa-basi Habib Ali pun permisi pamit untuk pulang karena sang ibu yang memanggilnya.

Begitulah tanda bakti seorang ulama besar, orang terpandang, panutan umat, al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi terhadap sang bunda tercinta.

Penulis: Sya’roni As-Samfuriy.

*Sumber kisah: Ustadz Antoe Djibrel, Khadim Majelis Ta’lim Kwitang dari Almarhum al-Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi).

_____________________

Semoga artikel Karomah Habib Ali Kwitang, Terlalu Dahsyat untuk Dilogikakan ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

simak artikel terkait di sini

simak video terkait di sini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *