Ada tamu datang ke rumah, memasrahkan putranya mukim (nyantri) kesini, saya tanya:
“Jenengan kok tiba tiba manteb langsung ke sini, tau di sini ada pesantren dari mana ?”
Tamu itu menjawab :
“Saya bermimpi bertemu Mbah Kyai itu (Sambil menunjukan foto Romo Kyai Ulil Albab Arwani yang ada di dinding rumahku). Beliau Ndawuhi, pondokan putramu ke Pondoknya Haris”
Setelah 1 santri masuk tidak lama disusul oleh 5 santri lainnya, Se-Desa dengannya yg ramai ramai ikut masuk dan mendaftarkan putranya Nyantri disini, ini kisah nyata, Saksinya Rahman Abine Faiq. Berawal dari putranya, Alhamdulillah kini banyak anak anak yang lain sekampungnya yang Nyantri di Nurul Istadz.
Ini sekaligus adalah jawaban dari pertanyaanku beberapa waktu yang lalu, saat Romo Kyai Rawuh ke rumahku Beliau bertanya : “Sing mondok wis Piro ?” Saya yakin, semua tidak lepas dari Barokah Guru Guruku.
Bukan hanya sekali ini saja hidupku serasa di CCTV, saat sebelum rombongan Qiroati datang ke sini, saya di WA oleh Romo Kyai, ini adalah sesuatu yang langka karena biasanya saya dulu yang WA jika ada sesuatu, tetapi Beliau tiba tiba WA, tentu hal itu sangat mengagetkanku. Hati rasanya deg degan, takut buka WA dari Beliau, saya dibekali banyak ilmu oleh Beliau via WA, tentang Makhroj & huruf huruf istifal yang tidak harus dibaca meringis/mecece, dan lain-lainnya.
Benar saja, setelah mendapatkan WA tiba tiba dari Guruku, rumah ini di datangi oleh petinggi-petinggi Qiroati, saya di tanya banyak hal oleh mereka tentang Makhroj, dan jawabannya adalah apa yang Romo Kyai sampaikan kepadaku via WA, seminggu setelah itu saya sowan Romo Kyai ke Purworejo saat acara Diklat Yanbu’a, saya sampaikan hasil pertemuan dengan petinggi Qiroati, Beliau tersenyum lalu berkata: “Kamu sudah benar, menyampaikan kebenaran kok”
Salam Ta’dhim Romo Kyai..
20 Juli 2019
Penulis: Haris bin Abdul Hamid, Yogya.








