gus yahya

Gus Yahya: Kita Impor Perguruan Tinggi Saja!

Posted on

IMPOR PERGURUAN TINGGI

Nguping-nguping ributnya orang soal impor rektor, jadi ingat beberapa minggu yang lalu ada pejabat Pemerintah membuat MoU dengan sejumlah perguruan tinggi di luar negeri untuk kerja sama program beasiswa 5000 doktor.

Saya tanya ke kawan yang sedang menikmati beasiswa doktor di Belanda, dia bilang dapat 150 ribu USD setahun, untuk SPP dan biaya hidup. Ada yang bilang standar untuk negara lain bisa lebih murah. Bisa cuma 100 ribu USD.

Ambil saja ambang bawah, 100 ribu itu. Kalau program doktoral ditempuh 5 tahun, berarti 500 ribu per orang. Kalikan 5000. Biaya segitu itu kalau bukan langsung dari pajak, pasti dari utang luar negeri, yang nantinya dibayar pakai pajak juga. Innaa lillaaaah. Saya jadi semlengeren memikirkan tabiat orang-orang di pemerintahan dalam memperlakukan uang. Mentang-mentang modalnya cuma tanda tangan.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Baca Juga >  Ngintilin Kiai, Cara Efektif dalam Belajar

Saya tahu, standar gaji eksekutif internasional kelas sedang itu sekitar 120 ribu USD. Kayaknya gaji dosen internasional ya nggak jauh-jauh dari itu lah. Seorang bule teman saya dari Australia bilang,

“Kalau tinggal di Indonesia, saya mau mengajar dengan gaji 75 ribu USD setahun”.

Saya belum nanya, tapi saya menduga dosen-dosen di Universitas Al Azhar, Kairo, gajinya tidak akan lebih dari 35 ribu USD setahun.

Lha iya. Ketimbang membiayai 5000 mahasiswa keluar negeri, mengapa duitnya tidak dipakai untuk membajak dosen-dosennya saja? Kita bisa impor universitas!

KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU.