Gus Yahya: Alquran Harus Menjadi Pedoman Hidup, Bukan Sekadar Dibaca

Gus Yahya saat peluncuran Gerakan AGUS (Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri) yang digagas Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU di Pondok Pesantren Al-Uswah, Gunungpati, Kota Semarang pada Ahad (8/3/2026).

Bangkitmedia.com, SEMARANG – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan, bahwa Alquran tidak cukup hanya dibaca atau dilantunkan, tetapi harus dipahami dan dijadikan pedoman dalam kehidupan umat Islam, khususnya di lingkungan pesantren.

Pesan tersebut disampaikan Gus Yahya saat menghadiri peluncuran Gerakan AGUS (Al Qur’an dan Gizi untuk Santri) yang digagas Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU di Pondok Pesantren Al Uswah, Gunungpati, Kota Semarang, Ahad (8/3/2026).

Bacaan Lainnya

Pada kesempatan itu, Gus Yahya menilai distribusi 100.000 mushaf Alquran melalui program tersebut memiliki makna penting bagi jam’iyah Nahdlatul Ulama. Menurutnya, Alquran tidak boleh hanya berhenti pada tradisi membaca atau melantunkan ayat-ayatnya.

“Alquran itu mestinya bukan hanya lit tilawah was sum’ah saja. Qur’an itu inti fungsinya adalah sebagai imam,” ujar Gus Yahya.

Ia menjelaskan, bahwa menjadikan Alquran sebagai imam berarti menjadikannya sebagai rujukan utama dalam menjalani kehidupan. Karena itu, umat Islam harus mempelajarinya secara mendalam melalui tradisi ilmu yang diwariskan para ulama.

“Quran harus dipelajari, harus diurai dengan ilmu,” katanya.

Menurut Gus Yahya, pemahaman terhadap Alquran tidak bisa dilepaskan dari tradisi keilmuan Islam yang memiliki sanad bersambung hingga Rasulullah SAW. Tradisi tersebut selama ini dijaga dan dirawat oleh para ulama dan kiai di pesantren.

“Para kiai, para ulama ini mengambil ilmu dari orang sebelumnya dan seterusnya sampai kepada Rasulullah dengan sanad yang bersambung,” jelasnya.

Ia menegaskan, bahwa Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah yang lahir dari tradisi pesantren memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam yang bersumber dari Alquran.

Menurutnya, para ulama memiliki amanat penting dari Allah SWT untuk menjaga sekaligus mengajarkan ilmu agama kepada umat.

“Ulama itu orang-orang kepercayaannya Gusti Allah karena tanggung jawabnya atas umat sebagai warasatul anbiya,” ujarnya.

Karena itu, Gus Yahya mengingatkan pentingnya menjaga otoritas keilmuan ulama dalam memahami ajaran agama. Ia mengibaratkan orang yang memahami agama tanpa melalui jalur ilmu yang benar seperti seseorang yang masuk rumah tanpa melalui pintu.

“Kalau ada orang masuk rumah-rumah nggak lewat pintu itu dinamai maling,” tegasnya.

Ia pun menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa ilmu agama merupakan fondasi kehidupan umat Islam yang harus dipelajari dari sumber yang jelas dan melalui bimbingan para ulama. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *