ulil abshar abdalla

Gus Ulil: Imam Jahidz tentang Tradisi Antri

Posted on

Dalam “Kitab al-Hayawan” (Buku Hewan) karya Al-Jahidz (w. 868), seorang humanis dan penulis yang masyhur dari Basrah, terdapat kisah menarik berikut ini.

Dalam hal “fairness”, keadilan (al-inshaf), kata al-Jahidz, tak ada yang bisa mengalahkan toko milik Faraj al-Hajjam (Faraj si ahli bekam) dari kota Basrah.

Entah karena pelayanannya yang baik, atau kualitas bekamnya yang terjamin, toko Faraj ini memiliki pelanggan yang sangat banyak. Kerapkali mereka harus menunggu untuk mendapatkan giliran.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Agar adil, Faraj menerapkan kebijakan “antrian” yang ketat. Dia meminta para pelanggan itu untuk antri sesuai dengan urutan kedatangan. First come, first served.

Lalu, suatu saat ada seorang pelanggan kaya yang hendak didahulukan dengan menyogok Faraj. Dia rupanya mau main “cincai”. Faraj marah dan menolak sogokan itu. Dia tak mau seseorang menyerobot antrian, walaupun membayar sogokan berapapun.

Karena kebijakannya ini, para pelanggan yang datang terakhir dan berada di ujung antrian tidak pernah marah, dan tetap puas. “Fa kana al-mu’akh-kharu la yagh-dlabu wa la yasyku (فكان المؤخر لا يغضب ولا يشكو),” kata al-Jahidz.

Baca Juga >  Dua Jenis Orang NU

Dengan kata lain, peradaban Islam klasik sudah mengenal tradisi antrian. Sementara, di sebagian negeri-negeri Muslim sekarang, antrian seperti merupakan barang langka.

Menyerobot antrian atau “berdesak-desak” ingin mendapatkan giliran yang pertama, sehingga harus menyikut-menyodok orang lain, merupakan pemandangan yang sering kita lihat di beberapa negeri Muslim.

Mestinya kita malu pada Faraj al-Hajjam yang hidup di Basrah lebih dari seribu tahun lalu.

Penulis: Gus Ulil Abshar Abdalla, pengasuh Ngaji Ihya.