gus mus

Gus Mus Mengenang Indahnya Akhlaq Istri Tercintanya

Posted on

Dulu dan sejak remaja, dia termasuk ‘aktivis’. Dia selalu mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi di mana dia bergabung. Terutama di organisasi kewanitaan. Main drumband, samrahan, qira-ah Al-Qur’an di pengajian-pengajian, menjadi pembawa acara, hingga memberi tausiah; sudah dilakoninya sampai dia punya beberapa anak.

Kemudian ~seingatku, setelah anak-anak sudah bisa mandiri dan aku semakin sibuk~ dia melepaskan hampir semua aktifitasnya di luar. Hampir semua kegiatannya hanyalah apa yang ada hubungannya denganku. Mencuci pakaian-pakaian –terutama pakaian dalam–ku; menata tempat tidur dan meja kerjaku, menyiapkan apa saja yang kuperlukan bila akan bepergian; membersihkan kamarku; hingga memasakkan masakan yang kumaui.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Bahkan boleh dikata dia hampir tak memiliki kehendak. Dia hampir hanya mengikuti kehendakku belaka.

Sepenting apa pun urusannya, dia dengan mudah mengalahkannya bila bertentangan dengan –dan memenangkan– kepentinganku. Dari antara saudara-saudaranya yang rata-rata sarjana dan orang karier, muncul kritikan berbau ledekan bahwa dia terlalu kuno, terlalu “ibu rumah tangga”.

Malah ada yang ‘memprovokasi’nya agar sekali-kali melawanku. Dia bergeming. Mereka tidak tahu bahwa dia bahkan bisa dengan mudah gelisah melihat sedikit saja perubahan di wajahku dan dengan serius berusaha mencari sebabnya.

Pagi tadi, entah kenapa aku tiba-tiba ingin mencoba ‘napak tilas’ apa yang dia lakukan untukku. Tapi, baru mencuci beberapa potong pakaian dalam dan merapikan tempat tidur saja, belum sampai menata meja kerjaku sendiri, rasanya sudah merasa segan dan berhenti.

Baca Juga >  Baiti Jannati, Rumahku Adalah Surgaku

Rabbunã yarhamuhã… Al-Fãtihah.

30 September 2017

(KH A Mustofa Bisri, Rembang)