Gus Dur

Gus Dur dan Kisah Lomba Tebakan Umur Mumi

Posted on

Gus Dur memang acap menghibur. Presiden keempat RI itu seolah punya stok kisah lucu tanpa batas. Entah dorongan apa, bertepatan dengan malam Jemuah Pahing ini, penulis kembali teringat humor Gus Dur saat menceritakan kehebatan orang Indonesia.

Alkisah di Mesir suatu hari diadakan lomba untuk menebak umur mumi. Peserta pertama dari Amerika. Seorang dokter forensik. Ia masuk ke dalam pyramid, langsung menuju peti, memeriksa mumi. Cukup lama ia meneliti tubuh mumi. Detail tiap inci. Lima jam berselang, sang dokter Amerika keluar sambil berujar, “Umur mumi ini sekitar 3.000 tahun.”

Dewan juri kompak bilang, “Salah!”

Dokter Amerika pun layu. Dengan langkah gontai meninggalkan gelanggang lomba.

Peserta kedua tampang tak kalah meyakinkan: seorang ahli fisika asal Prancis. Penuh PD masuk memeriksa mumi. Kali ini bukan hanya tubuh, bahkan tiap molekul atom yang menempel di tubuh mumi diperiksa penuh ketelitian. Ternyata ia hanya butuh waktu tiga jam.

Keluar ruangan, di hadapan dewan juri, sang ahli fisika ini menukas, “Umur mumi ini 3.700 tahun.”

Lagi-lagi Dewan Juri menyahut keras, “Salaahhhh!”

Peserta ketiga, dari Indonesia dengan berpostur atletis, rambut cepak. Tak diketahui pasti ia ahli apa. Langsung masuk ke ruangan, hanya 10 menit langsung keluar. Keringat bercucuran, ngos-ngosan. Dewan juri semakin ragu dengan peserta asal nusantara ini. Rupanya mereka tak sabar, “Ayo cepat tebak berapa umur mumi ini?”

Dengan lantang, peserta terakhir ini menjawab, “4.295 tahun 11 bulan lewat 23 hari!”

Sontak dewan juri kaget bukan kepalang. “Tepat sekali!”

Belum hilang penasaran para juri, peserta ketiga ini sudah dikerubungi puluhan jurnalis. Singkatnya mereka tanya dengan metode apa bisa menebak umur mumi dengan tepat?

Peserta ketiga ini menjawab jujur, singkat dan padat. “Saya gebukin aja, eh, dia ngaku umurnya berapa….”

***

Baca Juga >  Duduk di Samping Kyai Dapat Berkah

Gus Dur melanjutkan cerita, sebenarnya siapa sosok peserta dari Indonesia tadi? “Ternyata dia adalah Komandan Kodim!” ujar Gus Dur sambil terkekeh.

Kisah di atas diceritakan Gus Dur saat era Orde Baru berkuasa berikut dengan gaya represifnya. Putra sulung KH Wahid Hasyim itu memang lihai mengkritik dengan menggelitik jauh dari unsur benci membabi buta. Dan bahkan mampu mengundang tawa hadirin yang mendengar—termasuk jajaran Kodim yang mengundangnya ceramah.

Duh Gus Dur, betapa kami rindu padamu. Karena tanpamu, semua jadi repot, Gus…

Untuk Gus Dur allahyarham… Lahul fatihah..

Ngoto, Juli 2019

Penulis: Bramma Aji Putra, Humas Kementerian Agama DIY dan Pengurus LTN PWNU DIY.

 

 

Advertorial: 1926_Store Menjual Kaos Santri

Bagi pembaca yang belum mendapatkan/ memiliki koleksi Kaos Santri terkeren kami
silahkan  segera menghubungi customer service kami via Whatsapp di 085740902266
Rincian Harga
Size : S, M, L, dan XL     = Rp 65.000
Size : XXL                       = Rp 70.000
Size : XXXL                     = Rp 75.000
Lengan Panjang tambah  = Rp 5000.