Getar Hati Ukasyah Saat Mau Cambuk Rasulullah Tanpa Baju

Getar Hati Ukasyah Saat Mau Cambuk Rasulullah Tanpa Baju

Getar Hati Ukasyah Saat Mau Cambuk Rasulullah Tanpa Baju.

Setelah Nabi Muhammad mendapat perintah berhijrah, Ukasyah mengikuti para sahabat lain hijrah ke Madinah. Di Madinah, Ukasyah mengikuti Perang Badar, tahun 2 H (624), dan berbagai perang lain bersama Nabi. Ukasyah menjemput syahid di masa ke Khalifahan Abu Bakar ra pada saat perang Riddah (menumpas Nabi palsu) yang terjadi di Najd, 12 H. Dia mati di tangan Thulaihah al-Asadi.

Dalam buku Dahsyatnya Hari Kiamat Ibnu Katsir berujar, suatu ketika Nabi Muhammad saw bercerita kepada para sahabatnya. Bahwa di hari kiamat nanti, Rasulullah akan memperlihatkan umatnya yang begitu banyak kepada para nabi terdahulu.

“Umat-umat diperlihatkan kepadaku lalu seorang Nabi melintas bersama umatnya, nabi lainnya melewat bersama beberapa orang, nabi lainnya melewat bersama sepuluh orang, nabi lainnya melewat bersama lima orang, dan seorang nabi melewat bersama satu orang. Selanjutnya, aku melihat ternyata ada kerumunan orang banyak, aku bertanya : Wahai Jibril, apakah mereka umatku? ”

(Jibril menjawab) :” Bukan, tetapi lihatlah ke ufuk. Aku pun melihat ke ufuk, ternyata ada kerumunan orang banyak.

(Jibril berkata): “Mereka itu umatmu. Jumlah mereka 70 ribu yang pertama kali tidak dihisab & diazab”.

Aku bertanya: “Mengapa?”

Jibril menjawab: “Mereka tidak berobat dengan besi panas, tidak meminta diruqyah, tidak meramal dengan burung, dan mereka bertawakal kepada Tuhannya.”

Lalu Ukasyah berdiri seraya berkata, “Mohonkan kepada Allah agar aku menjadi bagian dari mereka,” Rasulullah berdoa:” Ya Allah, jadikanlah Ukasyah bagian dari mereka.”

Selanjutnya, salah seorang sahabat juga ikut berdiri sambil berkata, “Mohonkanlah kepada Allah agar (juga) menjadikanku bagian dari mereka.”

Rasulullah bersabda : “Ukasyah telah mendahuluimu.” (HR Muslim).

Getar Hati Ukasyah Saat Mau Cambuk Rasulullah Tanpa Baju.

Dalam perang Badar, pertempuran pertama yang dilakukan umat Islam dengan 313 pasukan melawan seribu pasukan kaum kafir Quraisy. Atas izin Allah SWT, dengan perkebakalan dan persenjataan yang terbatas umat Islam memenangkan perang itu. Perang Badar telah melahirkan pahlawan-pahlawan Islam di medan perang dan Ukasyah bin Mihshan salah satunya. Begitu dahsyatnya Ukasyah bertempur memerangi kafir Quraisy hingga pedangnya patah. Ukasyah mendekati Rasulullah dan Rasulullah pun melihat kondisi pedang Ukasyah. Lalu Rasulullah membawakan sebuah ranting pohon, dan bersabda, “Berperanglah dengan ini wahai Ukasyah.”

Ukasyah menerima kayu pemberian Rosulullah. Ukasyah mulai mengayunkannya dan kembali berperang. Saat itulah, atas izin Allah, batang kayu itu berubah menjadi pedang yang kokoh yang terbuat dari besi berwarna putih. Ukasyah semakin yakin dengan pedangnya dan meneruskan pertempurannya dengan menggunakan pedang itu hingga Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin. Ukasyah memberikan nama pedangnya Al-Aun. Pedang itu selalu berada di tangannya dan digunakan dalam berbagai pertempuran bersama ataupun tanpa Rasulullah. Hingga pertempuran terakhirnya ar-Riddah, Ukasyah mati syahid dalam perang melawan orang-orang murtad dengan menggenggam pedangnya. “Ukasyah gugur di medan perang satu tahun setelah wafatnya Rasulullah”.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa setelah dekat waktu wafatnya, Rasulullah memerintahkan Bilal supaya adzan, memanggil untuk sholat berjama’ah maka berkumpul kaum Muhajirin dan Anshor ke masjid Rasulullah. Setelah selesai sholat dua raka’at kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji dan sanjung kepada Allah SWT, dan kemudian beliau membawakan khutbahnya yang sangat berkesan, membuat hati terharu. Beliau berkata antara lain : “Sesungguhnya saya ini adalah nabimu, pemberi nasihat dan da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan bapak yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishas kepadaku sebelum ia melakukannya di hari Kiamat nanti”

Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan pada ketiga kalinya barulah berdiri ‘Ukasyah dihadapan Nabi sambil berkata :

“Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya Rasulullah. Kalau tidaklah karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani tampil untuk memperkenankannya sesuai dengan permintaanmu. “Dulu, aku pernah bersamamu di medan perang Badar” sehingga untaku berdampingan sekali dengan untamu, maka aku pun turun dari atas untaku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul lambung-sampingku saya tidak tahu apakah itu dengan engkau sengaja atau tidak ya…Rasul Allah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak melecut untamu sendiri ?”

Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah, ” Supaya Fatimah memberikan kepadaku cambukku ” kata beliau.

Bilal segera ke luar Masjid dengan tangannya diletakkannya di atas kepalanya. Ia heran dan tak habis pikir, “Inilah Rasulullah memberikan kesempatan mengambil qishas terhadap dirinya!”

Diketoknya pintu rumah Fatimah yang menyahut dari dalam : “Siapakah diluar?”.

“Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasulullah” jawab Bilal. ”Duhai bilal, apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?” tanya Fatimah kepada Bilal.

“Ya Fatimah ! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qishas terhadap dirinya ” Bilal menegaskan.

“Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati mengqishas Rasulullah ?” tukas Fatimah keheranan. Biarlah hamba saja yang menjadi ganti untuk dicambuk.

Bilal pun mengambil cambuk dan membawanya masuk Masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan ‘Ukasyah.

Suasana mulai tegang. Semua sahabat bergerak berdiri dengan mata melotot memandang Ukasyah dan sebilah cambuk.

Saat itulah, Abu Bakar dan Umar bicara : “Hai ‘Ukasyah ! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qishas-lah kami berdua, dan jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah !”. Mungkin saat itu Umar meraba pedangnya. Seandainya saja, diizinkan akan aku penggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah.

Rasulullah menahan dua sahabatnya. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini : “Duhai sahabatku, Duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!”

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Tholib sambil berkata. Kali ini lebih garang dari sahabat Abu Bakar : ” Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi s.a.w. Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishas memukul Rasulullah. Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau sendiri!” Ali tampil ke muka.

Nabi pun menahan. “Allah telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali !” Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein.

” Hai Ukasyah ! Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishaslah kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri !” .

Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata “Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku!” Dan akhirnya Nabi berkata : “Hai ‘Ukasyah ! pukulah aku jika engkau berhasrat mengambil qishas!”

“Ya Rasul Allah ! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak lekat kain di badanku” kata Ukasyah. kembali suasana semakin panas dan tegang.

Semua orang berpikir, apa maunya si Ukasyah ini. Sudah berniat mencambuk Rasul, ia malah meminta Rasul membuka baju. “Kurang ajar sekali si Ukasyah ini. Apa maunya ini orang…”

Tanpa bicara, tanpa kata, Rasulullah membuka bajunya. Semua yang hadir menahan napas. Banyak yang berteriak sambil menangis, tak terkecuali termasuk Ukasyah. Ada yang tertahan di dadanya.

Ia segera maju melangkah, melepas cambuknya dan tiba-tiba Ukasyah melihat tubuh Rasulullah dan tanda kenabian di punggungnya, ia segera mendekap tubuh Nabi sambil berkata :

“Tebusanmu adalah rohku ya Rasulullah, siapakah yang tega sampai hatinya untuk mengambil kesempatan mengqishas engkau ya Rasul Allah ? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka”

Berkatalah Nabi saw : “Ketahuilah wahai para sahabat ! barang siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah kepada pribadi laki-laki ini!”

Lantas bangkit berdirilah kaum Muslimin beramai-ramai mencium ‘Ukasyah di antara kedua matanya. Rasa curiga berubah cinta. Buruk sangka berubah bangga. Berkatalah mereka : “Berbahagialah engkau yang telah mencapai derajat yang tinggi dan menjadi teman Rasulullah di surga kelak”.

Ukasyah dibunuh Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi di masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar as-shidiq. Thulaihah al Asadi sempat masuk Islam namun kemudian murtad. Tetapi kemudian menjadi sadar dan kembali masuk Islam.

Suatu ketika Umar bin Khatab bertemu dengan Thulaihah, ia berkata, “Apakah engkau yang telah membunuh orang yang saleh, Ukasyah bin Mihshan?”

Thulaihah menjawab, “Ukasyah menjadi orang yang bahagia (mati syahid) karena diriku, dan aku menjadi orang celaka karena dirinya. Tetapi aku memohon ampun kepada Allah SWT.”

Demikian kisah Getar Hati Ukasyah Saat Mau Cambuk Rasulullah Tanpa Baju, semoga manfaat. (Sirah Nabawiyah).

Penulis: Musa Muhammad.

*Melengkapi tulisan Getar Hati Ukasyah Saat Mau Cambuk Rasulullah Tanpa Baju, berikut video yang terkait.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *