Gus Dur

Dua Pesan Kiai Ali Maksum dan Gus Dur

Posted on

BANTUL, BANGKITMEDIA.COM

Dalam rangka memperingati sewindu haul KH. Abdurrahman Wahid dan juga menuju haul KH. Ali Maksum, santri putri Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, mengadakan acara sholawat dan tahlil bersama untuk mengenang kedua guru besar yang sangat melekat di hati para santri Krapyak, Kamis (04/01). Acara ini dilanjutkan dengan mauidoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Nilzam Yahya dengan tema “Melacak Hubungan Mbah Ali dan Gus Dur dalam NU dan Keindonesiaan”

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Acara ini tidak hanya diramaikan oleh santri putri Krapyak, melainkan juga dihadiri oleh beberapa aktifis gusdurian. Salah satunya, Mbak Lailatul Badriyah yang memberikan sambutan perwakilan dari gusdurian.

“Dua tokoh ini memiliki hubungan yang sangat luar biasa,” tutur KH. Nilzam Yahya di awal mauidhoh hasanahnya. Tidak hanya itu, beliau-beliau adalah tokoh yang berperan kuat di NU. Ketika Kiai Ali menjabat sebagai Rais am NU, Gus Dur pun menjabat sebagai tanfidziah. Sampai ketika Kiai Ali mengundurkan diri dari Rais am, Kiai  Ali tetap mempercayakan Gus Dur untuk melanjutkan sebagai tanfidziah.

Dalam konteks keindonesiaan, kedua guru besar ini memiliki pandangan yang sama, berkaitan dengan Islam di Indonesia.

Baca Juga >  Matan DIY Gelar Ngaji Posonan Online di Tengah Pandemi

“Gus Dur melihat islam itu sebagai normatif, bukan simbolik. Normatif di sini artinya kita sebagai umat Islam Indonesia, memakai peci, sarung, saja sudah di anggap Islam yang khusyu’. Kayak kita semua ini, ini sudah di anggap sebagai Islam ala Indonesia. Kalau menggunakan konsep simbol, maka kita sekarang tentunya memakai konsep khilafah, memakai baju jubah, memakai sorban, seperti hal nya Islam di Arab” tegasnya.

“Nilai tata budaya Indonesia, menjadi acuan kita berislam,” tambahnya lagi.

Nilzam Yahya menyimpulkan poin penting dari apa yang bisa diambil dari kedua guru besar ini, yaitu“ojo kagetan, ojo gumunan. Jangan mudah kaget, jangan mudah heran. Segala sesuatu jika kita berpikir itu harus melalui tiga hal, mulai dari kemampuan belajar ‘ilmul ‘ulama, namun juga tidak hanya dalil saja, yang kedua hikmatul hukama’ (kebijakan), yang ketiga siyasatul muluk (mau mengerti politik)”, pesan di akhir mauidhoh hasanah beliau. (Lulu/Rokhim)