Gus Hilmy

Dua Hal Yang Harus Dimiliki Santri Zaman Now Menurut Gus Hilmy

Posted on

Berita NU, BANGKITMEDIA.COM

KOTA YOGYAKARTA-Ahad (22/4), Panitia Haflah Pondok Pesantren Luqmaniyah mengadakan sarasehan dengan mengundang Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, KH. Hilmy Muhammad. Tema yang diusung untuk sarasehan kali ini yaitu Revitalisasi Kitab Kuning Sebagai Literatu Santri. Adalah Dedi Rosyidi S.Pd yang bertugas sebagai moderator pada acara tersebut.

KH. Hilmy Muhammad atau yang akrab disapa Gus Hilmy dalam pembukaan materinya menyampaikan sebuah ta’bir yang pernah dikatakan KH Ali Maksum, “betapa bahagianya santri yang bisa membaca kitab kuning”. Gus Hilmy teringat bahawa perkataan Simbah Ali Maksum itu dikatakan sekitar tahun 80an yang lalu. Bermula dari inilah mengapa kitab kuning sangatlah penting dan menarik untuk dibahas.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Gus Hilmy mengatakan bahwa penguasaan santri dalam kitab membaca kitab kuning menjadi sangatlah penting, meskipun, lanjut Gus Hilmy, kitab kuning bukanlah rukun dalam sebuah pesantren. Karena rukun dalam pesantren hanyalah Kiai, Santri dan Masjid ataupun sarana untuk berkumpul. Namun kitab kuning menjadi sebuah keniscayaan adanya, terutama pada pesantren yang memang dari awal tujuannya untuk tafaqquh fiddiin.

Selain itu pula, Gus Hilmy mengatakan bahwa pesantren bukanlah semata-mata menjadi lembaga pendidikan. Namun juga sebagai lembaga sosial, kemasyarakatan dan bahkan balai perjodohan, yang kemudian disambut gelak tawa para santri. Oleh karena itu pendidikan hanyalah salah satu ladang garapan di dalam pesantren. Bahkan pesantren pun ada yang memiliki spesialisasinya sendiri-sendiri. Ada pesantren preneur, pesantren fiqh, pesantren nahwu dan lain-lain.

Baca Juga >  Aktifis Muda NU Semarang Gelar Haul Gus Dur, Tema Pancasila dan Pluralisme Diangkat

Ada dua hal yang perlu dilakukan agar kitab kuning dapat menjadi sumber utama literatur santri bahkan dapat menajdi literatur masyarakat luas non pesantren di luar sana.

“Pertama, masyarakat pesantren (santri) harus pandai-pandai membahasakan bahasa kitab ke dalam bahasa yang popular dan mudah dipahami masyarakat luas. Kedua, menjadikan kitab kuning sebagai standar kenaikan kelas atau kelulusan pada sekolah yang berada di dalam naungan pesantren,” ungkap Gus Hilmy di hadapan para santri.

Di akhir materi, Gus Hilmy juga mengatakan bahwa para santri saat ini perlu dibekali dengan dua hal, yaitu pertama kemampuan dan keterampilan literasi yang harus ada pada setiap diri santri. Literasi berarti membahasakan apa yang ada di dalam teks dan mengkombinasikannya ke dalam konteks. Kedua, memasukkan keilmuan sosial, seni, budaya dan politik ke dalam pesantren sehingga para santri dapat mengkombinasikan keilmuan yang telah dipelajari dalam kitab kuning ke dalam ranah sosial-budaya tadi. (Charismanto/rk)