Gus Hilmy: Program Koin NU Harus Lakukan Inovasi

Dr. KH Hilmy Muhammad atau Gus Hilmy di acara MWCNU Berbah

Bangkitmedia.com, SLEMAN – Program Koin NU, yaitu pengumpulan dana sosial dari segenap warga NU melalui kotak infak KOIN NU, harus juga mengikuti perkembangan zaman. Kalau selama ini hanya mengandalkan warga NU memasukkan koin di kota yang dibagikan pengurusnya, maka harus ditingkatkan sesuai perkembangan teknologi, khususnya terkait teknologi transaksi keuangan.

“Jadi tidak hanya mengandalkan dari kotak-kotak yang dibagikan kepada warga NU, tetapi juga menggunakan sarana pembayaran QRIS. Jadi Program KOIN NU harus meminta barcode QRIS di bank tempat menabung uangnya. Kemudian barcode QRIS tersebut dibagikan kepada segenap warga NU, misalnya melalui grup-grup WA, di samping dengan membagikan stiker barcode QRIS dan juga menempelkan stiker tersebut ke kotak KOIN NU. Jadi yang ingin berinfak tinggal melakukan scanning barcode tersebut, tidak perlu memasukkan uang di kota KOIN NU. Bisa jadi uang yang diinfakkan juga lebih banyak,”papar anggota DPD RI Dapil DIY, Dr. K.H. Hilmy Muhammad.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut disampaikan kepada peserta Pelatihan Petugas Lapangan Pengumpul Koin (PLPKNU) MWC NU Berbah di  Resto Omah Dahar Mbah Wanto JIn. Sampaan – Berbah, Dusun Kuton, Tegaltirto, Berbah, Sabtu (02/05/2026). Acara dihadiri Wakil Ketua PWNU DIY H Ahmad Lutfi SS MA, Wakil Ketua PCNU Sleman Drs H Jamhari, Rais Syuriah MWC NU Berbah KH. Dr. Lukman A. Irfan, S.Ag, M.Pd, Ketua Tanfidziyah MWC NU Berbah Eko Istiyantono SE serta anggota Komisi D/Fraksi PKB DPRD Sleman Mbah Wanto yang juga pemilik resto.

Pada kesempatan ini Gus Hilmy juga mengingatkan pentingnya transparansi keuangan KOIN NU. Untuk itu pengurus harus melaporkan kepada para Nahdliyin berapa perolehan dananya. Selanjutnya dana tersebut digunakan untuk apa saja. Hal ini untuk menciptakan kepercayaan dari para penyumbangnya. Sebab kepercayaan tersebut sangat penting dalam mengelola dana-dana umat.

Terkait dengan program MWC NU Berbah untuk meningkatkan kesejahteraan Nahdliyin melalui pembudidayaan tanaman cabe, Gus Hilmy memberikan apresiasi. Hanya saja hal ini dilakukan secara jujur dan memprioritaskan kualitas. “Selama ini kan ketika harga mahal, cabe itu pedas, tetapi saat harga murah, cabe tidak pedas. Nantinya harus menghasilkan cabe yang berkualitas. Jadi kapan saja pedas. Saya pernah studi tiru ke petani cabe di suatu tempat. Ketika didatangi cabenya masih hijau-hijau. Mereka bilang dengan cara disemprot besok sudah merah-merah. Wah hal semacam ini jangan dilakukan. Harus jujur,” tegasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *