Dibedah di Radio Persatuan, Bangkit Suguhkan Tema Gus Dur dan Taubatnya Santri Aktifis

BANTUL, BANGKITMEDIA.COM

Majalah Bangkit kembali dibedah di Radio Persatuan, Bantul. Kali ini, edisi Januari 2018 yang mengangkat tema “Gus Dur dan Taubatnya Santri Aktifis” disuguhkan kepada para pendengar. Kegiatan tersebut merupakan talkshow rutinan Majalah Bangkit bersama Radio Persatuan dalam program Nada Islami Bareng Santri.

Fatkhul Anas, redaktur Majalah Bangkit, hadir sebagai pembicara ditemani Miko Pathok Negoro, selaku host acara. Anas menjelaskan bahwa di rubrik laporan utama edisi Januari 2018 memaparkan tentang kisah seorang santri yang pernah berkecimpung di dunia aktifis. Karena asyik melahap buku-buku pemikiran kritis, terutama buku-buku Marxis, si santri lama – kelamaan lupa akan jati dirinya. Ia merasa seolah menemukan oase baru dari buku-buku bacaannya.

“Sampai suatu hari ia susah tidur, hampir tiap malam. Memikirkan nasib bangsanya, memikirkan keadaan Islam yang ia rasa semakin rapuh. Hal ini membuatnya putus asa. Nah, di tengah kondisi inilah, ia mimpi didatangi Gus Dur. Awalnya ia tak percaya, tapi lama-lama yakin karena mimpinya tiga kali. Dalam mimpi itu Gus Dur berpesan agar ia melaksanakan shalat, itulah obatnya. Maka sejak saat itu ia kembali ke tradisi santri, shalat, dzikir, baca maulid, dan lainnya, sehingga hidupnya berubah, dari yang pesimis menjadi optimis,” tutur Anas.

Di sela pembicaraan, Miko selaku host banyak menanyakan rubrik-rubrik lain. “Ini ada rubrik tausiyah dari KH. Maimoen Zubair, ulama sepuh yang cukup kharismatik, tentang dua kelahiran Nabi Muhammad Saw, ini apa maksudnya Mas Anas?” tanya Miko penuh semangat. Anas kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh Kiai Maimoen adalah kelahiran biasa dan kelahiran khusus.

Baca Juga >  Malam Ini, Haul ke-14 Kiai Asyhari Marzuqi Diperingati

“Kelahiran biasa adalah kelahiran Nabi Saw dari perut yang ibunya, ini terjadi pada 12 Rabi’ul Awwal tahun 571. Adapun kelahiran khusus adalah lahirnya nur Muhammad yang terjadi pada tanggal 10 Rajab tahun 570. Pada mulanya nur itu dibawa oleh Nabi Adam As, kemudian ke Nabi Nuh As, ke Nabi Ibrahim As, lalu ke Nabi Ismail As, kemudian dibawa oleh Abdullah, lalu yang terakhir dibawa oleh Aminah. Demikian penjelasan Mbah Moen,” papar Anas.

Dalam sesi tersebut juga dibahas terkait himbauan dari KH. Dr. Abdul Moqsith Gazali, Wakil Ketua LBM PBNU, agar para da’i tidak mudah berfatwa ini halal dan haram. Biarkan para ulama yang sudah ahli untuk membahas tersebut. Para da’i cukup mengikuti hasil ijtihad yang sudah ada agar tidak terjebak dalam kekeliruan. Adapun sesi dalam terakhir, Miko menanyakan tentang inti sari atau kesimpulan dari Majalah Bangkit Edisi Januari.

“Jadi, intinya Mas Miko, apapun profesi kita, aktifis sekalipun, jangan pernah jauh dari ulama, sebagaimana kisah santri yang mimpi ketemu Gus Dur tadi. Tapi ulama yang seperti apa? Dalam hal ini kita ingat pesan Gus Mus, yakni al-ladzina yandzuruna al-ummah bi ‘aini ar-rahmah, yakni ulama yang memandang umat atau masyarakat dengan pandangan kasih sayang, bukan pandangan kebencian,” pungkas Anas. (An)