Dengan Petunjuk Nabi Khidir, Syaikhona Kholil Didik Kiai Hasyim Asy’ari

Dengan Petunjuk Nabi Khidir, Syaikhona Kholil Didik Kiai Hasyim Asy’ari

Dengan Petunjuk Nabi Khidir, Syaikhona Kholil Didik Kiai Hasyim Asy’ari

Syaikhona Kholil Bangkalan mempunyai cara unik dalam mendidik setiap santrinya. Setiap santri juga mendapatkan perlakukan berbeda dalam keseharian di pesantren Syaikhona Kholil. Termasuk sosok Hasyim Asy’ari muda, kesehariannya selalu membantuk kebutuhan harian sang guru. Ketika ada perintah, Hasyim Asy’ari muda selalu menyediakan diri untuk melakukan yang pertama.

Pada suatu hari, Syaikhona Kholil kedatangan tamu istimewa. Tamunya orang tua yang sudah lumpuh dan kesusahan menuju kediaman Syaikhona Kholil. Saat itu, hujun turun sangat deras di lingkungan pesantren, tapi orang tua ini begitu bersemangat ingin bertamu kepada Syaikhona Kholil.

“Wahai para santri, adakah diantara kalian yang mau menggendong tamuku di luar sana itu?” tanya Syaikhona Kholil kepada para santrinya.

“Saya siap, kiai,” tegas Hasyim muda dengan penuh semangat. Hasyim muda tak memedulikan sedikitpun hujan deras yang ada. Hanya ta’at kepada kiai yang selalu terpatri dalam dirinya.

Hasyim muda menggendong tamunya ini dengan penuh semangat dan ketulusan. Wajah Hasyim muda sangat ceria dan gembira karena bisa menggendong tamu sang kiai, sekaligus memberikan kebahagiaan kepada kiai yang sangat dihormatinya.

Dengan sangat akrab, Syaikhona Kholil menyambut tamunya ini. Keduanya kemudian masuk ruang tamu khusus dan berdialog empat mata. Para santri tidak berani “menguping” dialog antara Syaikhona Kholil dan tamunya. Hanya penasaran yang meliputi hati para santri terhadap tamu yang susah payah datang di tengah guyuran hujan yang sangat deras itu.

Tidak lama, kemudian tamu ini hendak kembali. Syaikhona Kholil kembali memanggil para santri untuk membantu tamu istimewa yang sudah tak mampu lagi itu.

“Siapa para santri yang siap membantu pulang orang tua ini?” tegas Syaikhona Kholil.

“Saya selalu siap, kiai,” jawab Hasyim muda yang selalu terdepan dan pertama dalam menjawab perintah gurunya. Hasyim begitu bahagia bisa kembali melayani tamu gurunya. Tamu itu diantarkan sampai keluar pesantren dengan kehati-hatian, sesuai yang diperintahkan sang kiai. Kemudian Hasyim kembali ke pesantren dan melaporkan tugasnya selesai.

“Santri-santriku, saksikanlah bahwa ilmuku telah dibawa santri itu,” tegas Syaikhona Kholil sambil menunjuk kepada sosok Hasyim muda yang luar biasa itu.

Syaikhona Kholil kemudian menjelaskan bahwa tamu orang tua yang baru saja datang adalah Nabi Khidir. Para santri tidak menyangka, dan Hasyim muda mendapatkan kesempatan luar biasa karena melayani seorang kekasih Allah.

Itulah Syaikhona Kholil dalam mendidik santri-santrinya, khususnya yang bernama Hasyim Asy’ari. Inilah santri yang kelak bergelar Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yang pada tahun 1899 mendirikan Pesantren Tebuireng Jombang dan pada tahun 1926 mendirikan organisasi bernama Nahdlatul Ulama (NU). (Abu Umar/Bangkitmedia.com)

 

 

Advertorial: 1926_Store Menjual Kaos Santri

Bagi pembaca yang belum mendapatkan/ memiliki koleksi Kaos Santri terkeren kami
silahkan  segera menghubungi customer service kami via Whatsapp di 085772333814
Rincian Harga
Size : S, M, L, dan XL     = Rp 65.000
Size : XXL                       = Rp 70.000
Size : XXXL                     = Rp 75.000
Lengan Panjang tambah  = Rp 5000.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *