penjual koran

Dapat Pelajaran dari Bapak Penjual Koran

Posted on

Hari itu, Sabtu (Maret 2019) saya melaksanakan tugas melakukan monitoring tentang operasional Jak Lingko atau OK OTrip. Aku milih naik JAK 10 Kota – Tanah Abang karena belum pernah aku naikin.

Karena menunggu untuk mendapatkan angkotnya di Kota cukup lama, lebih dari 30 menit, maka ketika sampai di Harmoni ada Bus Stop, aku turun di Bus Stop Harmoni, selain mau mencoba menunggu Jak Lingko di belakangnya, juga ingin cari sarapan, karena belum makan pagi dari rumah, sementara jam di HP ku sudah menunjukkan jam 08.45.

Kebetulan di dekat Bus Stop Harmoni itu ada Warung Tegal yang pada hari-hari kerja amat ramai pengunjungnya karena selain harganya terjangkau, menunya beragam, tempatnya juga bersih dan ada wastafelnya (syarat pertama kalau saya cari warung makan). Aku pernah suatu siang makan di sana, maka aku juga putuskan makan pagi di sana sambil memantau Jak Lingko yang lewat karena terlihat jelas dari warung tersebut.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Saat aku usai makan, seorang penjual koran datang dan makan di situ, maka ketika saat akan membayar aku bisik-bisik ke penjualnya, “sekalian bapak penjual koran itu ya”. Ternyata dia hanya makan dengan harga Rp. 10.000,- saja (aku tidak tahu apa lauknya, karena aku tidak melihatnya), tapi pasti pilihan menu yang paling irit, mungkin yang penting dapat mengisi perut. Sebelum aku meninggalkan warung itu aku juga beli satu korannya, lalu aku kembali menunggu Jak Lingko di Bus Stop tempat aku turun tadi.

Saat aku sedang akan memotret lokasi Bus Stop untuk membuat usulan perbaikan, dan kendaraan lengang, bapak penjual koran itu mengampiriku dan bertanya ragu sambil mengucapkan terima kasih, “bapak yang bayar makan saya tadi ya, terima kasih ya pak”.

“O..jadi dia menghampiriku sekadar ingin mengucapkan terima kasih saja karena dah ditraktir sarapan meski cuma dengan uang Rp. 10.000,” gumamku.

Aku bergumam sendirian, bagi orang kecil seperti dia, uang Rp. 10.000,- itu betapa berharganya sehingga perlu mengucapkan terima kasih secara khusus. Padahal, saat aku membayari, aku diem-diem dan saat beli Koran juga tidak mengatakan bahwa makannya telah kubayari. Tapi tampaknya, bagi dia, mengetahui siapa yang bayar dan syukur dapat bertemu mengucapkan terima kasih itu sangat penting. Itu pelajaran berharga yang kupetik hari ini, berterima kasih pada seseorang yang memberikan sesuatu kepada kita, betapa pun kecil pemberian tersebut.

Setelah berjualan beberapa saat dan belum ada perkembangan, bapak itu balik menghampiriku di halte, bertanya, menunggu bus atau apa, dan mau ke mana? Tapi setelah aku jelasin kalau aku menunggu angkot yang ada tulisannya Jak Lingko, dia paham, kemudian duduk di sebelahku dan ngobrol kesana kemari. Aku pun kembali membeli satu korannya lagi untuk meringankan bebannya.

Ia mengatakan bahwa Koran yang saya beli (Rakyat Merdeka) itu katanya termasuk yang paling laris, seperti Kompas, dan justru banyak dibaca oleh para pejabat. Memang aku pernah dengar tentang info ini. Sejak Masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono dulu, Koran Rakyat Merdeka katanya jadi salah satu rujukan tentang berita politik utamanya dari arus bawah. Dan ternyata menurut penjual koran ini sampai sekarang masih tetap terlaris setelah Kompas, meskipun harganya cukup mahal (Rp.5.000,-).

Setelah ngobrol dan berkenalan, ia mengaku berasal dari Baturaja, Sumatra Selatan (nama orangnya tidak perlu kusebutkan). Nama daerah yang sudah aku kenal sejak masih di SD (1970-an) karena saat itu orang-orang di kampungku, termasuk saudara-saudaraku tunggal buyut ada yang ikut bertransmigrasi ke daerah Baturaja dan sampai sekarang masih tinggal di sana.

Bapak itu mengaku berjualan Koran sudah lebih dari 30 tahun. Dulu, zaman masih ramai jualannya, bukan hanya Koran saja, tapi juga majalah, dan tidak di jalan-jalan, melainkan masuk dari gedung ke gedung perkantoran di Jl Sudirman. Tapi setelah banyak media online, sekarang hanya jualan koran saja, karena majalah sudah jarang yang berminat.

Tapi dia bersyukur, pada saat jualan Koran masih ramai dulu, dia menabung dan beli rumah di Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Memang jauh, pagi-pagi jam 03.30 dia sudah berangkat ke Jakarta dengan naik bus dua kali pindah, yaitu Bekasi – Senen, dan kemudian Senen – Harmoni, tapi dengan tinggal di rumah sendiri tidak lagi berfikir kontrakan setiap tahunnya, Sehingga saat jualan koran sudah sepi seperti sekarang ini, tidak pusing memikirkan uang kontrakan yang setiap tahun terus meningkat.

Bapak itu biasanya berjualan sampai jam 10-an, dan kemudian pulang, sampai rumah sekitar jam 13-an, setelah itu hanya istirahat saja di rumah karena capek.

Ketika aku tanyakan apa yang dilakukan selepas dari jualan Koran? Bapak itu mengaku tidak ada yang dilakukannya. “Mengapa tidak ikut narik ojek online?”, tanyaku. Dia mengaku tidak punya SIM, selain juga sampai di rumah sudah capek, karena wira wiri jalan di kepanasan terik matahari itu kalau dijumlah dalam setengah hari bisa mencapai berapa kilometer saja dan tentu sampai rumah sudah capek, apalagi kalau pas panasnya terasa terik sekali.

Baca Juga >  Keutamaan Pahala Sholat Tarawih 10 Hari Kedua Ramadhan Tahun 2020

Namun bapak bersyukur itu bahwa meskipun berjualan di jalan raya yang dipadati kendaraan bermotor, menghirup polusi dari asap kendaraan bermotor, kena terik matahari, dan kadang kehujanan; dirinya tidak pernah sakit, wajahnya masih tetap segar, tidak menunjukkan ketuaan meski usianya sekarang sudah mencapai 57 tahun.

Inilah pelajaran kedua yang saya peroleh, bahwa hidup tidak dapat diukur secara matematis. Logikanya, orang seperti dia dan kawan-kawannya yang berjualan di jalanan itu akan rentan terkena penyakit paru atau TBC karena menghirup polusi udara yang tidak sehat, tapi ternyata tidak juga, Allah memberikan kekuatan tersendiri, dan menjauhkan mereka dari segala macam penyakit yang disebabkan oleh polusi udara.

Ketika aku bercerita bahwa pada tahun 1970-an banyak orang kampungku di DIY yang melakukan transmigrasi ke daerah Baturaja, Sumatra Selatan, itu artinya tanah di sana masih luas, bapak itu pun bercerita bahwa dia dan kedua saudaranya masih memiliki warisan yang cukup luas di sana. Tanah itu dititipkan kepada pamannya untuk mengolahnya. Namun dirinya tidak ingin balik ke kampung halamannya di Sumatra Selatan karena menurutnya kultur di sana kurang mendukung baginya.

Kalau ada perantau kemudian pulang kampung, maka kurang dihargai, harga dirinya akan jatuh. Jadi lebih baik tetap hidup di perantauan, tapi tidak memiliki beban sosial yang besar, daripada pulang ke kampung halaman namun memiliki beban sosial yang besar. Ia pernah merasakannya sendiri tidak enaknya pulang kampung. Pada suatu hari raya Idul Fitri, ia pulang kampung bersama keluarganya. Biasanya kalau orang lama tidak pulang, pertanyaan pertama yang akan mereka terima dari orang setempat adalah “kapan pulang, naik apa, dan akan sampai kapan di kampung?”. Namun pertanyaan yang diterimanya bukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, melainkan “kenapa pulang?”.

Bagi dia, pertanyaan seperti itu sungguh menyinggung perasaannya, karena ya suka-suka dialah mengapa pulang, karena dirinya lahir di kampung tersebut, masih memiliki famili, dan juga masih memiliki warisan dari orang tuanya di kampung tersebut. Baginya, pertanyaan seperti itu bersifat tendensius, berbeda dengan pertanyaan “kapan pulang, bagaimana keadaanmu lama tidak berjumpa?”

Pengalaman pulang kampung yang ternyata mendapat sambutan kurang mengenakkan tersebut semaiin memperkuat sikapnya untuk tidak kembali ke kampung halaman, lebih baik tidak makan di rumah orang daripada malu di rumah sendiri. Begitu ibaratnya.

Ketika kami sedang asyik ngobrol, Angkot Jak Lingko yang kutunggu datang, dan aku pun naik angkot tersebut. Namun dalam sepanjang perjalanan aku merenungkan perjalanan hidup bapak itu, si penjual Koran: merantau di Jakarta dengan meninggalkan warisan di kampung halaman, menjadi penjaja koran di kota metropolitan yang makin hari makin sedikit pembeli dan pembacanya. Bersyukurlah dia orang yang lurus-lurus saja dan tekun dalam menjalani profesinya. Pada saat dagangan masih ramai (1990-an sampai awal 2000-an) ia mencicil rumah di daerah Tambun, sehingga pada saat dagangan sepi seperti sekarang, dirinya sudah tidak direpotkan lagi dengan biaya kontrak rumah yang setiap tahun terus meningkat.

Sekarang, dari kelima anaknya, tiga sudah lepas SMTA dan sudah bekerja, dua masih bersekolah. Ia tidak pernah menyesali hidupnya, tapi ia bersyukur karena meskipun hidup pas-pasan dan bekerja di tengah polusi setiap hari, badannya selalu sehat. Semoga terus sehat dan kuat ya pak, dan semoga menemukan pekerjaan baru yang lebih menggembirakan lagi ketika usia semakin tua nanti dan mobilitas pun berkurang, atau bahkan tidak ada orang yang mau membeli Koran lagi, lantaran semua serba online.

Tradisi baca Koran tinggal dialami oleh generasi X (yang lahir antara 1960-1980), dan itu pun sedikit, sedangkan generasi Millenial lebih suka baca Koran online. Kemajuan media online, memang bukan hanya merontokkan profesi penjual Koran dan majalah saja, tapi penerbitan Koran dan majalah pun rontok. Tapi itu sudah bagian dari sejarah perkembangan teknologi, yang tidak mungkin kita tolak, kecuali kita hanya menyesuaikan saja.

Sama dengan kehadiran HP yang telah merontokkan jasa pos, warung telekomunikasi, dan warung internet. Yang tidak rontok adalah pribadi-pribadi yang tangguh yang selalu siap dengan perubahan dan siap menghadapi tantangan.

Penulis: Darmaningtyas, Jakarta.