mbah madun

Cara Mbah Kiai Muhammadun Mendidik Kiai Aniq

Posted on

Cara Mbah Kiai Muhammadun Mendidik Kiai Aniq.

Beberapa waktu yang lalu, saya Tabarrukan dengan ikut menghadiri dan meramaikan Harlah NU yang diadakan oleh PWNU Jateng. Karena saya hanya sekedar hadirin penggembira, akhirnya saya bersama dengan beberapa teman pun memutuskan untuk nimbrung njagong di belakang gedung kantor PWNU. Ngopi-ngopi dan ngobrol dengan temen-temen lainnya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Nah, dalam kesempatan itu, saya bertemu dengan Gus Muhammad Syafiq, salah satu putra KH. Aniq Muhammadun, Pengasuh Pon-Pes Manba’ul Ulum, Pakis – Tayu – Pati. Salah satu ulama sepuh di kalangan NU yang sangat Faqīh dan hati-hati dalam menetapkan serta memutuskan Hukum. Kiai Aniq ini adalah putra seorang ulama besar Nusantara yang masyhur sebagai Sibawaih Jawa. Yakni KH. Muhammadun Pondohan, yang juga merupakan Kakek dari Gus Ulil Abshar Abdalla. Di samping beliau juga menantu dari Ulama Besar Nusantara juga, yakni KH. Zubair Dahlan, Abah dari Syaikhina KH. Maimoen Zubair.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, saya memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang urgent (paling tidak menurut saya pribadi). Saya bertanya:

“Gus, bagaimanakah dulu Mbah Madun – panggilan akrab KH. Muhammadun Pondohan – itu mendidik Kiai Aniq sampai-sampai sang putra menjadi sosok Kiai yang Faqīh, Wara’ nan Tawadhu’ ini?”

Pada mulanya, Gus Syafiq agak malu-malu mau bercerita. Setelah beliau sedikit saya rayu, akhirnya beliau mau bercerita. Beliau mengisahkan bahwa waktu dulu Abahnya masih mondok di Kajen (tapi Gus Syafiq tidak bercerita, di pondok mana Kiai Aniq mondok) dan sudah lulus sekolah Mathole’, ada keinginan hati Yai Aniq untuk mengembangkan dan menambah wawasan lagi. Bisa saja dengan pindah pondok/meneruskan ngaji di Kajen lagi. Akan tetapi, Abah beliau, Mbah Madun, malah melarang dan menyuruh beliau untuk pulang ke rumah.

Di rumah inilah kemudian Mbah Madun mendidik dan mengasah ketajaman ilmiah putra beliau, Kiai Aniq Muhammadun. Semua Syurūh (bentuk plural dari kata “Syarah” yang bermakna penjelasan dan komentar) Alfiyah diajarkan sendiri oleh sang ayahanda. Dan tentunya anda sudah tahu kan, apa julukan ayahanda beliau? “Sibawaih Jawa”. Mulai dari Ibnu Aqīl, al-Makūdi, Dahlān dan Syarah-syarah lainnya yang banyak itu. Belum lagi jikalau ditambahi dengan Hawāsyi (bentuk plural dari kata “Hāsyiah” yang artinya penjelasan dari penjelas).

Baca Juga >  PP Ulul Albab Yogyakarta, Mencetak Generasi Qur’ani Berwawasan Global

Ini baru ilmu Alat Nahwu-Shorof. Belum lagi ilmu Fiqh, Ushul Fiqh, Mantiq dll. Semuanya diajarkan langsung oleh sang ayahanda, Kiai Muhammadun. Dan bagi siapa saja yang pernah mendengarkan kajian Tafsir Jalalain yang diampu oleh Mbah Madun, pasti akan tahu bahwa Mbah Madun itu hapal banyak Alfiyah. Mulai dari Ibnu Mālik, Alfiyah Suyuthi fi Ilmi Hadits, Alfiyah Iraqi baik dalam Hadits maupun Sirah Nabawiyah, juga tambahan Imam Suyuthi atas Alfiyah Ibnu Malik, saya lupa namanya. Maklum lah, santri ngantuk-an. 😅

Gus Syafiq berkisah bahwa pendidikan yang ditempuh oleh Abahnya di tangan Simbah beliau sendiri, Kiai Muhammadun, itu berjalan selama hampir kurang lebih 7 tahun lamanya. Mbah Madun melarang Yi Aniq muda untuk main-main, keluar rumah dan macam-macam kesenangan anak muda lainnya. Beliau hanya diminta fokus untuk belajar.

Jadi Kiai Aniq pun bisa mencapai posisi ilmiah seperti sekarang ini tidaklah gratis. Beliau sebelumnya harus melalui proses panjang, melelahkan dan tidak mudah. Walaupun nampaknya tidak mondok kemana-mana. Tetapi Abahnya sendiri sudah mencukupi sebagai seorang guru. Dan nampaknya disiplin sekali dalam mendidik putra sekaligus ‘Khalifah’ beliau ini.

Nah, yang aneh adalah saat sekarang ini ada orang-orang yang sukanya mistik, lalu mengatakan bahwa Kiai-kiai tersebut Alim karena ilmu laduni, dalam arti gak usah ngaji, gak usah belajar, gak usah ngapalin, tiba-tiba Alim sendiri. Mereka begitu, karena melihat sosok-sosok seperti Yai Aniq ini, atau Gus Qoyyum, misal.

Andaikan mereka tahu proses beliau-beliau menjadi orang Alim, pasti mereka tidak akan berani berkata seenaknya begitu.

Semoga Yai Aniq diberikan kesehatan oleh Allah swt. Pengen rasanya ngaji pada beliau, walaupun sebentar saja. Sebagai penyambung sanad ilmu kepada Abah beliau, Kiai Muhammadun.

Semoga suatu saat bisa.

Penulis: Dhiya Muhammad.