Amalkan Shalawat Al-Jailani, Mbah Yasin Mbareng Jadi Kaya Raya Dermawan

Amalkan Shalawat Al-Jailani, Mbah Yasin Mbareng Jadi Kaya Raya Dermawan

Posted on

Amalkan Shalawat Al-Jailani, Mbah Yasin Mbareng Jadi Kaya Raya Dermawan.

Kisah ini berawal dari cerita pembelaan Mbah Zubair Sarang terhadap Mbah Yasin Mbareng tentang Shalawat Syeikh Abdul Qadir al-Jalani.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

ﺍﻟﺼَﻼََﺓُ ﻭﺍﻟﺴَﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻳﺎﺷﻴﺦُ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟْﻘﺎَﺩِﺭِﺍﻟْﺠﻴْﻼﻧِﻰ ﻣَﺤْﺒُﻮْﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ , ﺍَﻧْﺖَ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺍﻻِﺟَﺎﺯَﺓِ، ﺍِﺟَﺎﺯَﺓِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ، ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺍِﺟَﺎﺯَﺓُﺍﻟﻠﻪ، ﺍَﻧْﺖَ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺍﻟْﻜَﺮَﺍﻣَﺔِ، ﻛَﺮَﺍﻣَﺔِﻣُﺤَﻤَّﺪٍ، ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﻛَﺮَاﻣَﺔُ ﺍﻟﻠﻪ، ﺍَﻧْﺖَ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺍﻟﺸَﻔَﺎﻋَﺔُ، ﺷَﻔَﺎﻋَﺔ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ، ﻣُﺤَﻤَّﺪٌﺷَﻔَﺎﻋَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ، ﺍﻟﺼَﻼََﺓُ ﻭﺍﻟﺴَﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻳَﺎﺷﻴْﺦُ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟْﻘَﺎﺩِﺭِﺍﻟْﺠﻴْﻼﻧِﻰ ﺍغِثْنِيْ …*

Shalawat memang unik. Satu-satunya wirid yang bisa diamalkan tanpa sanad atau guru. Satu-satunya amalan yang diamalkan dengan riya’ pun masih diganjar pahala. Sekaligus amalan multi-fungsi.

Shalawat banyak macam redaksinya. Ada yang maatsur dari rasulullah, seperti shalawat “ibrahimy”, ada yang hasil improvisasi, gubahan atau modifikasi dari para ulama. Dan yang terakhir ini paling banyak redaksinya, sebanyak ulama yang mengimprov. Namun dari sekian shalawat yang paling populer di kalangan santri adalah shalawat Dalail al-Khairat, karangan Syeikh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli (1465 w).

Shalawat Dalail ini identik dengan Pondok Mbareng. Karena oleh kiai Yasin, shalawat ini dijadikan semacam laku riyadloh dengan puasa “dahr” selama 3 tahun berturut-turut bagi santri Mbareng. Hampir semua ijazah dalail yang diamalkan bsantri-santri di nusantara (khususnya Jawa) dengan metode tsb juga berasal dari ijazah kiai Yasin, melalui muridnya KH.Ahmad Basyir, KH. Hanafi dll. Oleh karenanya kiai Yasin digelari “Mujiz Dalailul Khairot Nusantara”. Meski sematan gelar ini tidak menafikan sanad dalail dari kiai lain. Semisal sanad dalail dari kiai Dalhar Watucongol, kiai Muhammadun Pondowan dari jalur kiai Amir Pekalongan dll. Yang kesumuannya bersumber dari “tsabat” syeikh Mahfudz al-Turmusy.

Namun selain shalawat dalail, ada lagi satu shalawat yang melambungkan nama kiai Yasin. Yakni shalawat Syeikh Abdul Qadir yang saya tulis di atas. Berdasar cerita kiai Maemun Zubair, kiai Yasin mengalami polemik dan ditentang oleh banyak kiai sebab mengamalkan shalawat syeikh Abdul Qadir. “Hanya ayah saya (Kiai Zubair), yang membela kiai Yasin,” terang kiai Maemun.**

Kiai Yasin ditentang oleh banyak ulama karena mengamalkan shalawat syeikh Abdul Qadir. Pertanyaannya mengapa shalawat syeikh Abdul Qadir ini ditentang oleh banyak ulama? Kiai maemun tidak menjelaskan alasannya.Beliau hanya menceritakan, “Mbiyen kiai Yasin iku fakir, bakdane ngamalno shalawat iku, dadi sugih.”

Memang benar kata Mbah Moen; mbah Yasin tergolong kiai yang kaya. Namun kekayaan itu beliau jadikan sebagai sarana untuk syiar Islam dan membantu orang-orang miskin. Menurut cerita yang saya dapat, saban hari mbah Yasin menyediakan makanan bagi fakir-miskin. Bahkan beliau memiliki tempat khusus di sebelah utara ndalem beliau (sekarang jadi pondok al-Hanafiyyah) untuk menjamu fakir miskin. Biasanya setiap hari setelah dhuhur mereka berbondong-bondong datang ke tempat tersebut.

Shalawat Syeikh Abdul Qodir ini mengalami polemik, seperti shalawat Nusantara yang kemarin banyak ditentang: karena keduanya ditujukan kepada selain Rasulullah Saw. Adapun mengenai hukumnya dibutuhkan kajian yang serius. InsyaAllah akan penulis kupas pada kesempatan lain.

Demikian tentang Amalkan Shalawat Al-Jailani, Mbah Yasin Mbareng Jadi Kaya Raya Dermawan.

Baca Juga >  Doa Nabi Yunus Saat Berada dalam Perut Ikan Serta Penjelasannya

*Teks shalawat dari ust.Taqiyyuddin Lc. dari Kiai Musyafa’, Sumolangu Kebumen.

**cerita ini saya dapatkan dari Ust.Hisyam, Kudus (alumni al-Anwar), juga dari al-walid KH.Ahmad Saiq saat acara bahtsu al-masail BSM 2018 terkait shalawat Nusantara.

***Cerita ini saya tahqikkan kepada kiai Sanusi, kata beliau, “Waktu saya sowan ke mbah Maemun, beliau juga dawuh begitu. Saya hanya diam. Setahu saya bapak tidak meninggalkan amalan shalawat itu. Saya cari-cari, tapi justru saya menemukan naskah shalawat itu dari mbah Mansur (cucu waliyullah mbah Sanusi).”

Wallahu A’lam.

Penulis: Mohammad Mujab.