Cara Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Ali Maksum dalam Mendidik Santri.
Saat penutupan pengajian kitab “Adabul-‘Alim wal-Muta’allim” karya Hadlratus-Syaykh KH. Hasyim Asy’ari rahimahullah kemarin (2016-red), saya antara lain bilang begini kepada teman-teman santri: “Melalui pembacaan kitab ini, kita jadi tahu kehebatan sosok Hadlratus-Syaykh KH. Hasyim Asy’ari, seorang ulama besar, pendiri NU dan pahlawan nasional. Meskipun kitab ini ditulis di tengah berbagai kekurangan dan keterbatasan pada hampir 100 tahun yang lalu, tapi kita tahu tulisan beliau sangat detail dan rinci, serta diungkapkan dalam bahasa Arab yang bagus sekali. Ini menunjukkan kedalaman ilmu dan wawasan beliau.”
Dari segi materi, kita juga tahu bahwa sosok santri yang beliau harapkan adalah yang senantiasa mengabdi kepada guru dengan penuh rasa hormat. Hubungan antara murid dan guru adalah hubungan top-down dengan dipenuhi berbagai kode yang menuntut kepatuhan santri, sebagaimana berlaku di banyak pesantren di Jawa. Tapi karena beliau di Jombang, yang masih daerah Metaraman, tuntutan sikap santri tidak sebagaimana yang kita lihat di beberapa pesantren berlatar belakang Madura di seputar daerah Tapal Kuda, yang menuntut kepatuhan penuh santri, tanpa reserve.
Ini juga berbeda dengan sikap guru kita, Simbah KH. Ali Maksum rahimahullah, yang memperlakukan santri dengan lebih bebas dan egaliter. Beliau yang berasal dari daerah Pantura, tepatnya di Lasem, Jawa Tengah, dikenal sebagai sosok yang lebih terbuka dan low profile. Santri bagi beliau adalah anak yang memanggil gurunya bukan dengan “ustadz”, atau “kiai”, tapi dengan panggilan “bapak”. Beliau juga melarang anak-anak kiai yang menjadi santri dipanggil “gus”, meskipun itu anak kandungnya sendiri. Beliau berangkat jama’ah ke masjid dengan menggandeng tangan santri, dan berjalan santai pulang dari masjid dengan posisi merangkul dan bergelayut di pundak santri sambil berbincang dan menanyakan berbagai hal kepadanya.
Yang begini-begini tidak perlu dipertentangkan. Semuanya benar dan berlaku sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Inilah wawasan Islam Nusantara. Ini adalah kekayaan kita, yang semoga menjadikan kita menjadi santri yang berwawasan luas dan memiliki banyak wacana. Bukan santri yang kagetan, dan gampang bingung melihat kiai A begini, kiai B kok begini.
Belajar dari Hadlaratus Syaykh Kiai Hasyim, dan yang selama ini kita sudah banyak belajar dari Mbah Ali, semoga menjadikan kita semakin mudah memahami dan mengambil teladan dan pelajaran dari berbagai perbedaan karakter kiai. Sungguh mereka sudah sibuk dengan pesantren masing-masing, tapi masih memiliki perhatian yang besar terhadap urusan kemasyarakatan, keorganisasian dan bahkan kenegaraan. Ini menunjukkan pentingnya sikap peduli dengan lingkungan dan masyarakat, tidak sekedar membesarkan pesantrennya sendiri, dan tidak mau tahu dengan lingkungan sekitar.
Demikian, dan akhirnya, semoga kita semua mendapatkan keberkahan dari ilmu dan perjuangan mereka, amin.
Demikian Cara Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Ali Maksum dalam Mendidik Santri.
Penulis: Dr KH Hilmy Muhammad, Pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta dan anggota DPD RI 2019-2024.








