Bangkitmedia.com, YOGYA – Hari ini, Selasa, 22 April 2025, dunia memperingati Hari Bumi (Earth Day); sebuah momentum tahunan yang sejatinya bukan sekadar seremoni, tetapi panggilan nurani untuk menyelamatkan planet yang kita pijak ini. Tak kalah penting, pada hari yang sama, Kementerian Agama RI mencanangkan gerakan monumental: Penanaman Sejuta Pohon Matoa secara serentak di seluruh Indonesia, termasuk di Yogyakarta.
Gerakan ini bukan hanya soal menanam pohon. Ia adalah perwujudan konkret dari visi Asta Protas 2025–2029 yang baru saja dideklarasikan oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Dalam konferensi pers peluncuran Asta Protas tersebut, beliau menegaskan dengan lantang: “Agama harus hadir sebagai kekuatan moral dalam merawat bumi.”
Pernyataan ini mengandung makna dalam: bumi bukanlah benda mati yang bebas dieksploitasi, melainkan amanah Tuhan yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan dalam keadaan baik kepada generasi mendatang.
Agama dan Ekologi: Bukan Dua Dunia yang Terpisah
Dalam Islam, kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari iman. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah fil-ardh—pemimpin di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Tugas seorang khalifah bukanlah merusak (mufsid), tetapi membangun dan memakmurkan (mushlih). Rasulullah SAW bersabda:
“Jika hari Kiamat terjadi dan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum Kiamat tiba, tanamlah!” (HR. Ahmad)
Lihatlah betapa Islam sangat menekankan urgensi aksi ekologis, bahkan di ujung waktu!
Tradisi-tradisi agama lain pun sejalan. Dalam ajaran Hindu misalnya, alam adalah bagian dari Bhumi Devi (Ibu Bumi) yang suci. Dalam Kristen, Kitab Kejadian menyatakan bahwa manusia diberi tanggung jawab untuk “mengusahakan dan memelihara taman Eden.” Semua agama sejatinya mengajarkan cinta kepada ciptaan Tuhan, termasuk lingkungan hidup.
Menanam Pohon, Menanam Harapan
Kemenag melalui gerakan Sejuta Pohon Matoa bukan hanya menanam batang dan daun, tapi juga menanam harapan-harapan akan udara yang lebih segar, ketahanan pangan yang lebih kokoh, serta lingkungan hidup yang lebih lestari. Kenapa matoa? Pohon endemik Nusantara ini adalah simbol kearifan lokal, ketahanan iklim, dan kemanusiaan yang merawat bumi dengan cita rasa Indonesia.
Di Yogyakarta, seluruh ASN Kemenag, penyuluh agama, tokoh lintas iman, dan peserta didik madrasah turut ambil bagian. Mereka menanam, bukan hanya dengan cangkul, tapi juga dengan niat yang bersih dan doa yang tulus. Kita ingin gerakan ini tidak berhenti di seremoni, tapi menjadi budaya baru: “Hijrah Ekologis Menuju Indonesia Hijau.”
Saatnya Agama Turun Gunung
Kita hidup di tengah zaman ketika krisis lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, tapi realita hari ini: banjir di mana-mana, udara kotor, tanah longsor, laut tercemar. Jika agama tidak turun tangan, siapa lagi?
Sudah saatnya lembaga keagamaan, tokoh agama, guru madrasah, hingga penyuluh lintas agama menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari khotbah, ceramah, pelatihan, dan kurikulum. Kita butuh eco-preacher, eco-mubaligh, dan eco-umat—yang mengerti bahwa menyelamatkan bumi adalah bagian dari ibadah.
Bumi bukan hanya warisan leluhur, tetapi titipan anak cucu. Jika kita abai hari ini, generasi mendatang akan menagih pertanggungjawaban. Maka, mari kita jadikan Hari Bumi ini bukan sekadar peringatan, tetapi permulaan peradaban baru—peradaban hijau yang berpijak pada nilai-nilai agama, cinta lingkungan, dan komitmen kebangsaan.
Karena mencintai bumi, sejatinya adalah mencintai kehidupan itu sendiri. (@ahmadfauzi)








