bimbingan pra nikah

Bimbingan Pra Nikah: Membangun Pondasi Ekonomi Keluarga

اربع من سعادة المرء : أن تكون زوجته صالحة واولاده ابرارا وخلطاءه صالحين وان يكون رزقه في بلده (الحديث

 

Empat indikator kebahagiaan seseorang:

Pertama, istrinya Sholehah (suami Sholeh)
Kedua, anak-anaknya berbakti
Ketiga, komunitas pergaulannya orang baik
Keempat, sumber ekonominya di daerahnya

(Al Hadits)

Bekerja Asal Halal

Islam mewajibkan umatnya bekerja sebagai media mencari Rizki halal. Islam melarang bermalas-malasan dan berpangku tangan, mengharap pemberian orang lain. Bekerja sesuai kemampuan, asalkan halal.

Dalam hadis:
اي الكسب اطيب ؟ قال النبي: عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور (رواه البزار)
Apa profesi paling baik ? Nabi menjawab: pekerjaan seseorang yang menggunakan tangannya dan setiap jual beli yang baik (HR. Bazzar).

Para ulama berbeda pendapat:
Ada yang mengatakan bertani lebih utama karena menggabungkan tawakkal dan ikhtiyar, dan apa yang berpendapat berdagang lebih utama karena merupakan profesi Nabi bersama istrinya Khadijah.

Apapun profesinya, yang penting halal dan ditekuni dengan sungguh-sungguh. Dawuh Mbah Dullah kepada Kiai Mukramin: Nek kerjo Ojo molah-maleh. Jika bekerja jangan berganti-ganti, tapi ditekuni, insya Allah ada hasilnya.

Skala Prioritas

Dalam keluarga, manajemen finansial sangat penting. Dalam konteks ini, harus bisa dibedakan antara keinginan (whant) dan kebutuhan (need). Keinginan tidak ada batasnya dan akan menghambur-hamburkan harta. Sedangkan kebutuhan sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia yang harus dipenuhi. Dalam keluarga, kebutuhan inilah yang harus dipenuhi, bukan keinginan.

Kebutuhan ada klasifikasi:
Pertama, dlaruri (primer), yaitu kebutuhan makan, sandang, dan papan (tempat). Dalam konteks sekarang ditambah kesehatan dan pendidikan anak yang cukup.
Kedua, hajiyat (sekunder) untuk menopang kebutuhan pertama.
Ketiga, tahsiniyyat (komplementer) sebagai pelengkap kebutuhan pertama dan kedua.

Baca Juga >  Strategi Menjadikan Keluarga Sebagai Benteng Melawan Radikalisme

Jangan Besar Pasak dari Tiang

Dalam teori ekonomi, jangan sampai pengeluaran (belanja) melebihi pendapatan (pemasukan). Oleh sebab itu, dibutuhkan kecermatan dan kejelian dalam memilih kebutuhan. Usahakan hal-hal yang primer yang dipenuhi. Jangan mengarah kepada hal-hal sekunder dan tersier. Tradisi menabung dimulai supaya ada save untuk masa depan, khususnya kebutuhan-kebutuhan yang tidak terduga. Menabung adalah media menahan kenikmatan sesaat demi kenikmatan jangka panjang.

Kreatif

Dalam membangun ekonomi keluarga, kreativitas sangat ditekankan supaya seseorang tidak stagnan. Menurut Gede Prama, orang yang tidak kreatif-inovatif, terancam bangkrut. Ia punya slogan “Inovasi atau Mati”.

Dalam bidang apapun, kreativitas dan inovasi harus menjadi jantung peradaban, sehingga lahir terobosan-terobosan baru yang fenomenal dan spektakuler untuk menggerakkan perubahan besar, khususnya bidang ekonomi.

Semoga kita termasuk hamba Allah yang diberikan kekuatan bekerja secara kreatif dan inovatif dalam kerangka menjalankan tanggungjawab agung sebagai hamba Allah (Abdullah) dan mandataris Allah (Khalifatullah) yang bertugas meramaikan bumi dengan program pembangunan yang positif-konstruktif di berbagai bidang kehidupan.

Gabus, PP Al Ma’ruf Sugihrejo,
Kamis-Jumat, 11-12 Oktober 2018
Bimbingan Perkawinan Angkatan 2 Kemenag Pati

(Penulis: Dr Jamal Ma’mur Asmani, IPMAFA Pati)