Ketika Guru Zuhdi Mengenang Sayyidah Khadijah Al-Kubro

Ketika Guru Zuhdi Mengenang Sayyidah Khadijah Al-Kubro

Posted on

KH. Ahmad Zuhdiannoor (Guru Zuhdi) Banjarmasin adalah salah satu ulama besar yang dimiliki Kalimantan. Baru saja wafat, jasadnya sudah dikebumikan tapi jiwanya terus hidup di hati santri dan jama’ahnya. Akhlaqnya yang begitu tawadlu memberikan ilmu dan keteladanan yang tak pernah lekang oleh jaman.

Keteladanan Guru Zuhdi tentu saja lahir dari para ulama yang telah mendidiknya. Ibunya para ulama tak lain adalah Ummul Mukmimin, Sayyidah Khadijah Al-Kubro istri tercinta Rasulullah SAW. Makanya, ketika mengisahkan sosok Sayyidah Khadijah, para ulama begitu khidmat sebagai wujud penghormatan atas keteladanan dan perjuangan istri  Rasulullah yang pernah mendapatkan salam langsung dari Allah SWT.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Pada Ramadhan 1440 H atau 2019 M, Guru Zuhdi membaca manaqib Sayyidah Khadijah. Pembacaan yang menggetarkan hati, karena sosok Guru Zuhdi sangat cinta dan hormat kepada Sang Ummul Mukmimin.

Berikut ini manaqib Sayyidah Khadijah yang dibaca Guru Zuhdi.

************

“Diantara keistimewaan yang dimiliki Sayyidatina Khadijah ialah bahwa Allah swt, mengirim salam kepada beliau. Diceritakan bahwa Jibril berkata: wahai kekasih Allah (Nabi Muhammad), Khadijah kan datang membawakan kau makanan, jika dia datang kepadamu, maka ucapkanlah salam dari Allah ta’ala dan salam dariku untuknya.”
Setelah Nabi menyampaikan salam Allah dan malaikat jibril, maka Khadijah membalas salam tersebut. (HR. Bukhari Muslim)

Begitu agung seorang perempuan yang dipilih oleh Allah ta’ala, perempuan yang luar biasa. Diantaranya lagi perempuan” yang telah dipilih Allah ialah:

1. Sayyidatina Maryam binti Imran
2. Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah saw
3. Sayyidatina Khadijah binti Khawailid
4. Sayyidatina Asiyah binti Muzahim

Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda, “Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulallah SAW, Khadijah binti Khawailid dan Asiyah.” (HR. Hakim dan Muslim).”

Kelebihan mereka sangat amat luar biasa.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa Jibril telah memberi kabar gembira kepada Sayyidatina Khadijah dengan sebuah istana di surga yang penuh dengan perhiasan, kekal abadi miliknya.

Dan lagi keistimewaan beliau, beliau senantiasa menyertai Rasulullah dalam keadaan suka maupun duka. Beliau ikut keluar dengan Rasulullah, berlari dan bersembunyi dari para musuh Rasulullah.

Beliau tinggalkan kehidupan mewah, beliau tinggalkan segala kesenangan dunia, beliau hidup dengan mara bahaya yang senantiasa ada setiap hari.

Seorang perempuan yang dulunya kaya raya, dengan penuh kelebihan harta, namun beliau lepas semua itu demi Nabi Muhammad saw. Tak pernah sedikitpun beliau meninggalkan Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad pun sangat suka mengisahkan kelebihan Sayyidah Khadijah di depan para sahabat, karena Nabi berkata bahwa, “Khadijah ialah orang yang beriman di saat semua orang kafir, dia yang percaya di saat semua orang mendustakanku, dia yang menghibur hatiku di saat semua orang ingin melukai hatiku. Di saat semua orang menyakiti, dia selalu disampingku. Sangat amat aku menyayanginya, sangat aku mencintainya.”

Berikanlah sesuatu yang terbaik untuk orang lain, berikanlah sesuatu yang membahagiakan orang lain, walau hanya dengan senyuman.

Baca Juga >  Benarkah Nabi Muhammad Menikahi Anak di Bawah Umur?

Sayyidatina Khadijah rela mengorbankan segalanya, jiwa dan ruhnya beliau serahkan kepada Nabi Muhammad saw.

Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah meminta Khadijah agar tetap di tempatnya.

Saat itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fathimah RA.

Kemudian Rasulullah mengambil Fathimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.

Rasulullah SAW tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Nabi SAW dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?” tanya Rasulullah dengan lembut.

“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?” lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan,” jawab Khadijah.

“Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai Rasulullah.
Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai, namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.”

“Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam wahai Rasulullah.” kata Sayyidah Khadijah.

**********

Membacakan manaqib Sayyidah Khadijah ini, mata Guru Zuhdi berkaca-kaca. Seolah ingin meneteskan air mata, betapa agungnya sosok Sayyidah Khadijah. Ramadhan tahun 2019 ini tak bisa dilupakan, betapa Guru Zuhdi amat cinta kepada Sayyidah Khadijah. Sama dengan gurunya, Abah Guru Sekumpul yang memang selalu menganjurkan para santri dan jamaahnya agar membaca manaqib Sayyidah Khadijah saat mengenang hari wafatnya 11 Ramadhan.

Semoga segera lahir para Tuan Guru muda yang melanjutkan dakwah dan perjuangan Guru Sekumpul dan Guru Zuhdi. Amiiiiin.

(Mukhlisin)