Syekh Subakir
ilustrasi

Air Keramat Bekas Wudlu Syekh Subakir di Karimunjawa

Posted on

Jejak air wudlu Syekh Subakir di Karimunjawa tidak banyak diketahui oleh masyarakat sekitar. Uniknya, lokasinya yang cekung akan dipenuhi air laut ketika pasang. Saat air laut surut, air di cekungan tersebut masih tawar rasanya dan bisa diminum.

Saat Syekh Subakir menempuh perjalanan dakwah ke pulau Jawa, waliyullah dari negeri Timur Tengah tersebut singgah beberapa saat di Pulau Karimunjawa. Tepatnya, sekarang terletak di Dukuh Cikmas, Desa Karimunjawa, Jepara. Berbatasan antara Desa Kemojan dan Desa Karimunjawa.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Syekh Subakir kemudian istirahat sembari mengambil air wudlu untuk shalat di tempat tersebut. Tempat bekas mengambil air wudlu Syaikh Subakir inilah yang hingga kini masih bisa dijumpai. Ukurannya sebesar lingkaran baskom, yang cukup untuk dua tangan saat ambil air wudlu.

Tahun 1960an, ada seorang laki-laki yang dulu pernah tinggal di Karimunjawa dekat lokasi air wudlu Syekh Subakir tersebut. Ia menemukan jejak tersebut tanpa sengaja. Lokasi tepatnya ada di pinggiran laut.

Tempat wudlu Syekh Subakir hingga kini masih bisa ditemukan, tidak dibatasi dengan kayu atau alat lainnya. Sehingga, jejak wudlu yang cekung itu sering dilewati air asin dari laut, terutama saat sedang pasang.

Baca Juga >  KH Hamid Pasuruan dan Kisah Guru Bangil Wali Mastur

Anehnya, air laut yang memenuhi cekungan bekas air wudlu Syekh Subakir, saat surut, airnya jadi tawar murni. Tak ada rasa asin sama sekali.

Mendengar cerita tersebut, H. Hisyam Zamroni yang pernah lama tinggal di Kemojan, Karimunjawa, melakukan cek lokasi. Semua ceritanya benar. Ia mengambil air di cekungan itu dengan cara menunggu air asin yang lewat tiap saat. Rasanya memang tawar dan enak diminum.

Sayangnya, tidak banyak masyarakat Karimunjawa yang mengetahui jejak peninggalan Syaikh Subakir tersebut. Hingga tulisan ini dibuat, lokasinya masih liar.

Namanya waliyullah besar, semua jejak Syekh Subakir itu selalu menyisakan karomah dan kelebihan. Kita saja yang kadang terhalang akal untuk menjadikannya sebagai hikmah.

Penulis: M. Abdalla Badri

Keterangan:
Cerita ini dituturkan langsung oleh H. Hisyam Zamroni kepada penulis di rumahnya, Ngabul, Sabtu malam (15 Juni 2019).