Bangkitmedia.com, JOMBANG – Setidaknya ada dua isu yang memunculkan perdebatan sengit peserta Muktamar ke-35 NU di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026 ini. Kedua hal tersebut, yaitu sistem pemilihan Ketua Umum PBNU dan ketentuan terkait rangkap jabatan pengurus.
“Isu-isu tersebut dibahas dalam sidang Komisi Organisasi. Salah satu isunya berkaitan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Pada materi yang dibawa ke Muktamar, ada opsi mempertahankan mekanisme yang berlaku selama ini maupun gagasan mekanisme baru,” kata Ketua Panitia Saifullah Yusuf seperti dilansir detikhikmah, Jumat (28/6/2026).
Sebagai informasi dalam mekanisme yang kini digunakan, bakal calon yang memiliki dukungan dalam jumlah tertentu bisa melanjutkan ke tahap pencalonan dengan memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk mendapat persetujuan Rais Aam.
Namun, ada juga usulan mekanisme lain. Pada opsi ini, setiap pengurus wilayah dan cabang sebagai pemilik suara mengusulkan lima nama. Nama-nama dengan dukungan terbanyak akan diproses sesuai mekanisme yang ditetapkan Muktamar.
“Ini adalah opsi. Tentu semuanya tergantung keputusan Muktamar,” sambung Gus Ipul.
Kemudian selain sistem pemilihan ketua umum, Muktamar juga akan membahas aturan rangkap jabatan di lingkungan kepengurusan NU. Gus Ipul mengatakan salah satu pertanyaan yang akan didiskusikan adalah apakah larangan rangkap jabatan hanya berlaku pada posisi-posisi tertentu sebagaimana ketentuan saat ini atau diperluas kepada jajaran pengurus lainnya.
“Ada usulan-usulan, ada dinamika-dinamika. Tentu nanti semuanya bergantung kepada muktamirin. Itu masih berupa aspirasi yang sebelumnya dibahas di tingkat Munas-Konbes,” terangnya.
Gus Ipul menegaskan bahwa seluruh rancangan materi yang dibawa ke Muktamar telah melewati proses pembahasan berjenjang. Materi tersebut bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba menjelang Muktamar.
“Draft materi yang ada ini melalui proses. Ada yang dibahas di PBNU, kemudian di Munas-Konbes, setelah itu dibawa ke Muktamar. Nanti dibahas di komisi, khususnya Komisi Organisasi. Pasti menarik,” tambahnya.
Walau dirinya memperkirakan akan terjadi perdebatan, menurut Gus Ipul perbedaan pandangan jadi hal biasa dalam tradisi NU.
“Kita sudah terbiasa dengan perbedaan, kita sudah terbiasa berdebat,” sambungnya.
Walau demikian, Gus Ipul mengingatkan agar seluruh dinamika tersebut tetap berlangsung dalam suasana persaudaraan dan kegembiraan sebagaimana semangat Muktamar ke-35 NU.
“Sebagaimana harapan kita semua, khususnya Pondok Pesantren Bahrul Ulum, apa pun yang terjadi, perbedaan sekeras apa pun, kita harus tetap gembira,” jelasnya.
Gus Ipul mengingatkan Muktamar kali ini berlangsung di lingkungan pesantren yang memiliki ikatan sejarah sangat kuat dengan para pendiri NU. Pondok Pesantren Bahrul Ulum sendiri adalah pesantren yang dibesarkan salah seorang muassis sekaligus penggerak utama NU, KH Abdul Wahab Hasbullah. Tidak jauh dari lokasi Muktamar juga terdapat makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri.
“Kita berada di pangkuan para muassis, di pesantrennya Mbah Wahab Hasbullah. Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat, inspirasi, dan motivasi bagi peserta Muktamar,” katanya.
Gus Ipul berharap perdebatan yang berlangsung selama Muktamar bisa melahirkan keputusan terbaik bagi masa depan Nahdlatul Ulama.
“Jadi setelah kita berdebat, tetap dalam suasana gembira. Dari kegembiraan itu mudah-mudahan datang keberkahan. Akhirnya kita semua bisa mengucapkan: Alhamdulillah,” tandasnya. (*)








