gus yahya

29 Juni 2015, Gus Yahya: Sayangilah Manusia Tanpa Pandang Bulu!

Posted on

Pada 29 Juni 2015, Katib Aam PBNU saat ini KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menuliskan status facebook yang menyejukkan bangsa dan negara. Gus Yahya mengajak semua anak manusia untuk saling menyayangi dan mengasihi. Komitmen Gus Yahya untuk membangun perdamaian ini memang melekat, warisan dari sang guru tercinta KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Berikut ini tulisan Gus Yahya selengkapnya:

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Engkau masih bisa berdebat dengan nikmat karena belum kau lihat sendiri pedang-pedang kejahatan yang membabi buta berkilat-kilat diatas lehermu dan leher anak-isterimu. Tapi dunia semakin tidak waras. Bau anyir darah menyengat dari segala arah, bahkan sebelum tumpah. Jangan sampai terjadi nanti, harus kau tatap mata anakmu yang putus-asa berleleran eluh dibawah todongan senjata, dan baru kau sesali kebebalanmu hari ini.

Diatas segala yang bisa kukatakan padamu sebelum nasib buruk yang mana pun, aku bersimpuh di hadapanmu. Memohon-mohon pada apa pun yang masih tersisa dari hati manusiamu: sayangilah manusia tanpa pandang bulu. Manusia dengan seluruh darah-daging dan tulang-belulangnya dan bulu-bulu ringkihnya. Agar manusia mau belajar menyayangimu. Lalu tak tega menimpakan secuil pun penderitaan atasmu.

29 Juni 2015

Melengkapi tulisan ini, Gus Yahya juga kembali menuliskan gagasan Gus Dur.

Baca Juga >  Santri-Kiai Satu Bantal: Sederhananya Mbah Wahab, Tawadlu’nya Prof Ibrahim Hosen

“…apakah cara yang (harus) ditempuh untuk tujuan di atas, yaitu mewujudkan percaturan internasional yang tidak hanya bersandar pada pertentangan kepentingan belaka? Jawab satu-satunya tentu adalah menambahkan sebuah unsur lain dalam percaturan internasional. Karena hanya dengan faktor tambahan itulah peperangan dahsyat harus dapat dihindarkan. Unsur atau faktor tersebut adalah moralitas yang bersumber pada agama”. Gus Dur, 2002.,” tulis Gus Yahya pada 22 Juni 2018 ini.

“Meneruskan pandangan beliau itu, saya berharap para pemimpin agama, dengan wawasan moral dan spiritualitas mereka, diberdayakan, dilibatkan dan diberi peran desisif dalam upaya perdamaian internasional,” pungkas Gus Yahya. (mm)