Trik Menghafal Al-Qur’an ala KH Muslim Nawawi Ngrukem

Posted on

Oleh: Ahmad Sangidu, sekretaris Pengurus Pesantren An-Nur Ngrukem Sewon Bantul periode 2019-2021.

Pondok Pesantren An Nur merupakan lembaga pendidikan Islam yang berafiliasi di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Program unggulan yang dari dulu sampai saat ini ialah Tahfidzul Qur’an (baca: menghafal Alquran). Inilah yang merupakan ciri khas pondok tersebut. Namun demikian, mengkaji kitab-kitab kuning tetap dilakukan. Karena kegiatan tersebut seperti mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Mempelajari Alquran saja tidak cukup tanpa didampingi oleh kitab-kitab kuning yang berfungsi sebagai bayan dari Alquran dan Hadis.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

KH Muslim Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul saat ini, selalu memberikan motivasi kepada santri. Terlebih bagi mereka yang mengambil program Tahfidzul Qur’an. Bahkan motivasi yang beliau berikan, digunakan para santri sebagai trik menghafal dengan cepat dan mudah. Tentunya dengan hasil maksimal atau dalam bahasa santrinya lanyah hafalan. Berikut beberapa motivasi menghafal Alquran yang diberikan kepada para santri.

Pertama, menghafal Alquran tidak harus dengan kemampuan yang lebih, namun harus dengan kemauan yang lebih. Bila kemampuan saja yang diandalkan santri dalam menghafal Alquran, maka nantinya ia akan menjumpai berbagai kesulitan. Banyak yang telah membuktikan dan bisa dilihat di sekeliling kita sendiri. Orang dengan kemampuan atau kecerdasan tinggi gagal menyelesaikan hafalannya. Justru banyak orang yang hafal Alquran dengan didominasi oleh mereka yang punya kemauan lebih tinggi untuk menghafal Alquran.

Kita bisa melihat mereka yang telah berhasil. Banyak yang dengan berbagai keterbatasan, namun tetap berhasil menyelesaikan hafalan, bahkan sampai 30 juz. Ada pula orang difabel yang berhasil menghafalkan 30 juz. Juga ada yang sudah selesai 30 juz diusia yang masih tergolong anak-anak. Naja, merupakan seorang bocah berusia 9 tahun yang kini sudah mendapatkan gelar hafiz. Dia menarik perhatian banyak orang karena mampu menghafal Alquran walau mengidap Cerebral Palsy. Ini membuktikan bahwa kemauan yang lebih akan menentukan keberhasilnya dalam menyelesaikan hafalan.

Di sisi lain, Alquran merupakan mukjizat dan mudah dihafal. Pada masa kenabian, Alquran tidaklah ditulis seperti yang sekarang ini. Ketika ayat turun, Nabi Muhammad Saw. membacakannya kepada para sahabat dan mereka pun langsung hafal. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA menuturkan hal demikian adalah kehebatan Alquran. Tidak dimengerti tapi tetap bisa dihafalkan. Bahkan anak kecil bisa hanya satu jam menghafalkan satu halaman. Dua puluh hari sudah selesai satu juz Alquran.

Baca Juga >  Madin Widoro, Bentengi Anak dari Dampak Negatif Media

Kedua, ketika menghafal Alquran harus dilakukan dengan sepenuh hati. Jangan sampai hanya setengah-setengah, karena hal itu bisa mengakibatkan kesulitan setengah mati. Setiap individu santri memiliki perbedaan dalam hafalannya. Hal tersebut bukan sebab kemampuan hafalan individu santri, juga bukan pada memori ingatannya yang kurang. Melainkan karena ketekunan yang dilakukannya dalam menghafal Alquran, atau tadarus dengan Alquran masih tergolong kurang banyak.

Setelah mempunyai kemauan, ketekunan ini akan menentukan proses selama menghafal. Santri yang tidak sungguh-sungguh tentu akan membutuhkan waktu yang lama dalam menyelesaikan hafalannya. Begitu pula sebaliknya, jika santri mampu melaksanakan dengan sepenuh hati, tekun dalam menghafal, tentu saja ia akan selesai dengan waktu yang sangat singkat. Sebab, tidak perlu mengandalkan kecerdasan atau kepandaian, hanya ketekunan saja. Bahkan di sini, orang cerdas dan pandai sekalipun bisa dikalahkan hanya dengan modal tekun.

Semua orang tahu kisah kura-kura yang berhasil mengalahkan kancil dalam lomba lari. Begitulah ketekunan, pelan tapi pasti, selama langkah itu terus dipacu, walau pelan, pasti akan menuai keberhasilan. Berbeda, si kancil yang cerdas dan langsung melesat maju meningalkan si kura-kura. Tetapi di tengah perjalanan lelah dan beristirahat, dan akhirnya dikejar sama si kura-kura sampai menang. Kalau dalam bahasa santrinya adalah istikamah itu lebih baik daripada seribu karamah.

Di sini kita juga bisa tengok suksesnya program ustaz Yusuf Mansur. One Day One Ayat, sehari cukup satu ayat. Tidak perlu terburu-buru, pasti akan khatam pada waktunya. Beliau mengajarkan betapa pentingnya ketekunan dalam menghafal Alquran. Sehari satu ayat akan membuat para santri tidak pernah minder dengan keterbatasan kecerdasan atau kepandaian. Mengisyaratkan, bahwa yang dapat menghafal Alquran adalah mereka yang tekun tadarus Alquran.

Demikian rahasia menghafal Alquran dengan cepat dan mudah yang disampaikan oleh KH. Muslim Nawawi. Cukup dengan kemauan dan ketekunan, bukan kecerdasan ataupun kepandaian. Semoga kita semua termasuk dalam golongan min ahli al-qur’an.