Transformasi Syiar di Era AI: LD PWNU DIY Bekali Kader Dakwah Keterampilan Konten Digital Mutakhir

Para peserta dan panitia Pelatihan Dakwah Digital LD PWNU DIY

Bangkitmedia.com, YOGYA – Riuh rendah suara diskusi dan jemari yang menari di atas keyboard memenuhi ruang The Forum Lantai 3, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta pada Sabtu (14/02/2026). Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LD PWNU) D.I. Yogyakarta tidak sekadar menggelar pelatihan biasa; mereka sedang menyusun manifesto transformasi melalui agenda “Pelatihan Dakwah Digital: Desain Visual, Manajemen Media Sosial, dan Produksi Konten Kreatif berbasis AI”.

Momentum pembukaan menjadi sangat emosional ketika H. Ahmad Lutfi, S.S., M.A., yang hadir mewakili Ketua Pengurus PWNU D.I. Yogyakarta, membawa audiens melintasi lorong waktu. Ia menghidupkan kembali memori tentang masa di mana dakwah mengandalkan fisik dan kehadiran nyata.

Wakil Ketua PWNU DIY H Ahmad Lutfi SS MA menyampaikan sambutan pembukaan mewakili Ketua, Dr. HA Zuhdi Muhdlor SH MHUm

“Dahulu, tanpa notifikasi smartphone, umat berbondong-bondong memenuhi majelis karena haus akan sanad ilmu,” kenang Ahmad Lutfi. Pemandangan paling ikonik di masa itu adalah deretan tape recorder (alat perekam kaset) yang diletakkan para jamaah tepat di depan corong sound system demi mengabadikan petuah sang kiai agar bisa diputar berulang kali di rumah.

Nostalgia ini menjadi fondasi kuat bagi para peserta: bahwa meski alatnya telah berevolusi dari pita magnetik menjadi piksel digital, ruh perjuangan menuntut ilmu tidak boleh luntur sedikit pun.

Urgensi pelatihan ini dipertegas oleh Dr. H. Abdul Ghoffar, M.B.A, mewakili Rektor UNU Yogyakarta. Dengan nada yang lebih strategis dan futuristik, ia memberikan “pukulan” kesadaran bagi para kader. Dakwah masa kini, menurutnya, adalah perang narasi di dua lini: konvensional yang menyentuh akar rumput dan digital yang menembus sekat ruang-waktu.

“Media sosial saat ini masih banyak dikuasai oleh kelompok lain (minhum),” ujar Abdul Ghoffar secara lugas. Baginya, menguasai teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban bagi kader Nahdliyin untuk merebut kembali ruang publik digital dengan narasi Ahlussunnah wal Jamaah yang menyejukkan, sebelum algoritma sepenuhnya memihak pada narasi yang memecah belah.

Pelatihan intensif ini membedah tiga aspek krusial yang selama ini menjadi kelemahan pendakwah tradisional. Pada sesi pertama, Nanang Nurochim membedah teknis videografi agar pesan langit bisa dibumikan melalui visual yang estetik namun tetap memiliki bobot spiritual. Ia memberikan penekanan khusus pada cara “bermain” di dalam algoritma media sosial—memahami kapan harus muncul dan bagaimana cara agar konten tidak sekadar lewat, tapi membekas.

Kemudian Rahmad Kurniawan pada sesi kedua mengajak peserta menjinakkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memproduksi desain grafis secara kilat namun profesional. Lebih dalam dari sekadar teknis, ia membedah semiotika pemilihan warna dan psikologi bentuk huruf (font) yang harus selaras dengan karakter dakwah santun.

Sebagai penutup, Tajul Muluk, M.Ag, selaku pemateri ketiga dan Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DI. Yogyakarta (LD PWNU DIY) memberikan materi yang sangat in-depth mengenai strategi dakwah bagi Generasi Z dan Milenial. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengemas pesan Rahmatan lil ‘Alamin agar diterima oleh logika modern tanpa sedikit pun mencerabut isi dan referensi kitab-kitab Turats yang menjadi ciri khas pesantren.

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini dikawal ketat oleh jajaran koordinator lapangan seperti Ust. Rofiqi, Ust. Bram, Ust. Abdul Baseer, hingga Ust. Aris Risdiana. Setiap sesi praktik dipastikan menghasilkan produk nyata, bukan sekadar teori di atas kertas.

Seluruh rangkaian acara yang ditutup dengan doa oleh Ust. Khairul Imam ini membawa satu harapan besar: LD PWNU DIY tidak ingin kadernya hanya menjadi penonton atau komentator di media sosial. Pasca-pelatihan ini, diharapkan lahir gelombang baru kreator konten yang mampu menyatukan kemantapan literatur klasik dengan kecanggihan teknologi masa kini. Memastikan bahwa di masa depan, narasi Islam moderatlah yang akan mendominasi timeline dunia digital. (Rofiqi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *