Bangkitmedia.com, BANTUL – Sejalan dengan ikhtiar awal merayakan 100 Tahun Nahdlatul Ulama, gelaran Islamic Book & Culture Festival (IBCF) 2026 terus berupaya menghadirkan ruang perjumpaan antara literasi dan budaya. Memasuki hari ketiga, kegiatan yang bertempat di kompleks The Ratan Yogyakarta ini masih semarak menyelenggarakan berbagai kegiatan penunjang mulai bazar buku yang menghadirkan ribuan koleksi dari berbagai penerbit hingga pameran seni yang mengusung tema budaya intelektual pesantren dan tradisi turats bertajuk “Sanad” karya para seniman Lesbumi DIY dalam memaknai momen satu abad NU.
Diskusi menyoal ‘Tradisi Sanad dan Tuntutan Verifikasi Modern’ tersebut membedah kaitan antara konsep sanad (mata rantai keilmuan) dengan fenomena Artificial Intelligence (AI) secara mendalam. Diskusi ini menghadirkan tiga tokoh intelektual NU, yakni Dr Hilmy Muhammad MA (Anggota DPD RI), KH Mas’ud Masduki (Rais Syuriyah PWNU DIY) dan Prof Dr Abdul Mustaqim AAg MAg (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Kegiatan ini juga turut dihadiri jajaran anggota Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) PWNU DIY, Fatayat PAC Umbulharjo dan Fatayat DIY.
KH Mas’ud Masduki menyorot pentingnya sanad sebagai spirit untuk belajar dan simbol ketawadhuan. Sebab dalam memperoleh sanad, seseorang perlu berikhtiar belajar kepada siapapun, baik ia lebih tua maupun lebih muda, sehingga tak jarang dalam tradisi intelektual islam yang tua belajar kepada yang lebih muda.
“Untuk mendapatkan sanad hadis tentang niat dari Imam Al-Humaidi berguru kepada Sofyan bin Uyainah dari Yahya bin Said seterusnya sampai Sayyidina Umar bin Khattab.” Pencarian sanad merupakan sebuah perjalanan intelektual yang panjang, sebagaimana dicontohkan dalam transmisi hadis tentang niat yang menghubungkan Imam Al-Humaidi hingga akhirnya sampai kepada Sayyidina Umar bin Khattab. Meskipun tujuan dari transmisi ini tampak sederhana, prosesnya melibatkan mata rantai tokoh-tokoh besar yang sering kali terpisahkan oleh jarak geografis yang jauh. Hal ini membuktikan bahwa sanad ialah spirit pencarian ilmu para ulama terdahulu yang melampaui batas wilayah demi menjaga autentisitas dan kemurnian ajaran agama.
“Di setiap acara bersama Gus hilmi, saya selalu terlambat karena disiplinnya beliau. Memang, saya percaya karena dalam sebuah syair disebutkan, anak itu kedermawanannya mengikuti ayahnya.” Hal ini menggambarkan ghirah semangat yang tetap lestari sejak belajar kepada ayahanda Gus Hilmy hingga saat ini beliau tetap menghormati anaknya.
“Saya sudah terbiasa mengaji di Pondok Lasem, namun bagaimana saya memahami maknanya baru bisa saya temukan di Krapyak. Saya belajar tentang ta’rif hadis, apakah suatu hadis hasan shahih, hal itu saya pelajari dari Nadzm Baiquni.” Lalu beliau membacakan nadzam Baiquni yang dulu dihafalnya dengan lengkap. Ia menegaskan bahwa sanad adalah jalan untuk menggali hukum-hukum dari sumber asalnya, baik dalam aspek akidah, syariah, maupun akhlak.
Sanad akan berfungsi menjawab pertanyaan-pertanyaan di era kontemporer, seperti masalah poligami agar tidak tereduksi. Adapun fenomena chatgpt, beliau mengingatkan pentingnya melakukan verifikasi ulang ke sumber asli (tashih). Jangan sampai kita berhenti di Chatgpt, namun melihat kembali tentang status shohih atau tidaknya, kemudian apakah jawabannya menyalahi jalur istinbath atau tidak.
Meski cuaca mendung menyelimuti lokasi, tidak menghalangi spirit audiens untuk menimba ilmu. Salah satu anggota Fatayat menceritakan anaknya yang sedang berkuliah dan dekat dengan realitas AI. Ia sedikit mengeluhkan kebiasaan putranya yang suka belajar berkelompok, walhasil si ibu tidak bisa melihat hasil belajarnya. Ketika kemudian ditawari untuk membeli buku, sang anak menolak karena menganggap hari ini semuanya mudah bisa dilihat di AI. Cerita ini membawa arah diskusi kepada topik pergeseran budaya dari masa lampau ke masa kini.
Anggota Fatayat yang lain, Devi Linda menambahkan tantangan nyata di mana generasi muda saat ini cenderung lebih nyaman belajar melalui aplikasi seperti Duolingo atau bertanya pada AI dibandingkan merujuk pada guru. Belum lagi program-program pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dalam konteks pendidikan saat ini cenderung menggembar-gemborkan pembelajaran berbasis AI, Linda khawatir peran guru di masa depan bisa tereduksi.
Oleh karena itulah, Prof Mustaqim menekankan kembali tentang fungsi sanad. Sanad berfungsi menjawab pertanyaan di era kontemporer agar pemahaman agama tidak tereduksi. Beliau juga menyoroti bagaimana tradisi akademik modern, laiknya sistem sitasi Mendeley, sebenarnya merupakan bentuk representasi dari tradisi sanad dalam dunia intelektual.
Prof. Abdul Mustaqim memberikan perspektif jernih bahwa AI hanyalah sebuah alat (wasilah) dan bukan tempat bersandar (i’timad) dalam menetapkan kebenaran ilmu. Meski demikian, Prof. Mustaqim tidak menampik sisi positifnya, “Namun ada sisi positif dari AI yang bisa kita tiru, AI itu responsif dan selalu memotivasi jadi membuat kita menyenangkan. Oleh karena itu, manusia juga perlu belajar menjadi orang menyenagkan dari AI, apalagi ibu-ibu yang suka memarahi anaknya ini.” Tambahnya dengan nada bercanda.
Prof. Mustaqim berpendapat bahwa belajar melalui AI cenderung menghasilkan pemahaman yang terfragmentasi. Oleh karena itu, penting bagi pembelajar untuk tetap mendalami sumber aslinya agar AI tidak menjadi ancaman, melainkan katalisator yang memangkas waktu untuk mendalami ajaran Ahlussunnah wal Jamaah secara lebih autentik. Sebagai contoh positif, ia menyebutkan program Sanad Qiraat berbasis YouTube yang setelah diuji oleh pakar tafsir, Akhsin Sakho, terbukti keakuratannya. Menutup penjelasannya dengan kelakar yang mengundang tawa audiens, beliau berujar, “Namun, jika jaringannya terputus, sanadnya pun ikut terputus.”
Bagi Tita dari Fatayat NU, diskusi ini sangat bagus sebetulnya tapi ia menyayangkan pembahasan yang banyak lebih fokus ke AI. Informasi yang masif di sekitar kita perlu diperhatikan lebih dalam. Tapi dari diskusi ini setidaknya ia memahami bahwa kecerdasan manusia tidak bisa digantikan. Poin pentingnya kita harus terus mengasah kecerdasan sebagai manusia dengan membaca lalu verifikasi langsung kepada ahlinya. (Hana Rusmalia)








