ilmu titis mbah moen

Tiga Pelajaran Penting atas Wafatnya Mbah Maimoen

Posted on

Oleh: KH. Abdullah Mubarak Abd Wahid

Tulisan ini saya tulis sebagai ekspresi cinta seorang santri terhadap maha guru, mursyid dan pegangan hidupnya. Pelajaran sebagai inspirasi bagi santri agar pelajaran wafatnya Kyai Maimoen tetap dikenang dan berusaha untuk selalu diteladani. Kenapa tiga? Karena tiga adalah selasa. Hari wafatnya Sang Kyai. Maha guru.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Ketiga pelajaran atas wafatnya Kyai Maimoen itu sebagai berikut:

1. Menjalani kemewahan hidup dan wafat dengan kesederhanaan.

Kemewahan yang saya maksud adalah kemuliaan di sisi Allah. Seperti yang kita tahu, Kyai Maimoen wafat dalam keadaan semua kemuliaan di sisi Allah ada dalam wafatnya. Wafat di tengah melaksanakan ibadah panggilan sang pencipta. Sedang ibadah haji. Kyai Maimoen sudah melaksanakan umrah wajib. Seperti yang saya tahu, meskipun haji yang paling utama adalah haji ifrad, tetapi Kyai Maimoen lebih suka haji dengan Tamattu’, karena mambayar Dam atau denda. Dam untuk ibadah lebih baik dan terlihat dermawan daripada melakukan ifrad karena menghindari membayar dam. “Haji kok medit” begitu kirakira ungkapan yang pernah saya dengar dalam pengajiannya. Wafat dalam keadaan mencari ilmu. Saya yakin, Kyai Maimoen ketika pergi ke Makkah pasti mempunyai niat untuk bertemu dan mengambil ilmu dari guru2nya. Kita juga tahu Kyai Maimoen sebelum wafat berkunjung ke tempat cucu-cucu gurunya yang juga dianggap sebagai gurunya. Bahkan Kyai Maimoen sempat mengikuti rutinitas dzikir santri-santri Sayyid Ahmad yang lama dan panjang. Di usia yang sudah sepuh, itu semua dilakukan untuk mencari faidah atas guru2nya. Wafat di waktu yang mulia. Di sepertiga malam menjelang subuh. Wafat di tanah yang mulia dan dimakamkan di tempat yang mulia. Wafat sesuai dengan keinginannya. Kyai Maimoen wafat dengan kemewahan-kemewahan seperti itu, tetapi seperti yang kita lihat, kemewahan itu dijalani dengan kesederhanaan. Seluruh santri dan pecinta Kyai Maimoen mendoakan di tempat masing2 dengan begitu sederhana. Sesederhana kehidupan yang dijalani Kyai Maimoen semasa hidup meskipun mempunyai kemulian dan kemewahan.

2. Ingat kehendak Allah

Kyai Maimoen wafat di saat puncak rasa cinta dan rasa bangga santri2nya atas gurunya. Sehingga ketika mendengar Kyai Maimoen wafat di Makkah dan akan di makamkan di Ma’la, banyak santri yang shock tidak percaya. Dalam benak santri2, Kyai Maimoen wafat harus di dekat mereka. Mereka harus ikut mengurus jenazahnya. Harus ikut memikul kerandanya. Harus ikut memakamkannya. Makamnya harus dekat agar selalu mudah untuk mendekat. Semasa hidup, Kyai Maimoen adalah pegangan hidup bagi santri-santrinya. Semua masalah santri yang sepele sekalipun akan selalu diaturkan. Ayah saya misalnya. Hari pernikahan anak2nya semua penetapannya dari Kyai Maimoen. Ketika anak saya lahir, nama pun meminta Kyai Maimoen. Dan ketika wafat di tempat jauh dari mata, hati semua santri hancur, sedih tak terkira, mengalirkan air mata atas duka yang sedalam2nya. Bahkan, ada sebagian santri yang meminta dengan sangat kepada keluarga, agar Kyai Maimoen dimakamkan di sarang. Lagi-lagi, wafatnya Kyai Maimoen memberikan pelajaran yang berharga bagi santri-santrinya. Bahwa semua kejadian di dunia ini adalah kehendak Allah. Dalam setiap ngaji, Kyai Maimoen sering berkata: “aku punya kehendak, kamu punya kehendak. Dan yang terjadi adalah kehendak Allah”. Wafatnya Kyai Maimoen memberikan pelajaran bahwa pegangan hidup satu-satunya hanyalah kepada Allah. Wafatnya Kyai Maimoen memberikan pelajaran bagi santri2nya agar selalu memikirkan semua sesuatu dengan dalam dan seksama. Seperti yang kita tahu, Kyai Maimoen jika memutuskan sebuah keputusan pasti dari hasil analisa yang panjang dan dalam. Analisa dari berbagai aspek. Aspek agama. Aspek sosial. Aspek jawa. Dan puncaknya, adalah aspek spiritual. Untuk itu, keputusan2 Kyai Maimoen sering sekali di luar nalar orang umumnya. Kyai Maimoen wafat dan di makamkan di Makkah adalah sebaik-baiknya keadaan dilihat dari semua aspek.

Baca Juga >  Kisah Infaq Tukang Becak, Bikin Ketua DKM Menangis Haru

3. Cinta terhadap Nabi Muhammad dan ahlul bait yang mendalam.

Yang unik, yang seringkali tidak terpikir adalah ekspresi cintanya Kyai Maimoen terhadap nabi Muhammad yang mendalam itu melalui Sayyidah Khadijah. Seperti yang kita tahu, Qasidah yang paling suka dibaca Kyai Maimoen adalah Qasidah Istighatsah bil Khadijah Kubra. Qasidah ini pasti dibaca untuk tamu-tamu penting Kyai Maimoen lebih2 ahlul bait nabi. Mencintai nabi melewati Sayyidah Khadijah adalah cinta nabi yang sangat dalam dan bentuk cinta sejati. Khadijah sebagai perempuan, mencintai Khadijah adalah bentuk keseimbangan hidup dalam keimanan kepada Allah. Nabi sebagai lelaki adalah pembawa risalah Allah dan Khadijah sebagai perempuan, adalah penerima pertama risalah itu. Khadijah adalah orang pertama yang iman dengan sepenuh-penuhnya iman kepada Nabi. Kita harus selalu ingat, bahwa orang yang pertama iman kepada nabi adalah seorang perempuan, sehingga kedudukan lelaki dan perempuan sama dalam derajatnya di hadapan Allah. Khadijah sebagai ibu. Semua keturunan nabi hanya dari Sayyidah Khadijah. Khadijah adalah ibu dari semua ahlul bait. Untuk itu kita juga sering mendengar dari Kyai Maimoen, untuk hati2 memilih istri. Karena baik dan tidaknya keturunan akan ditentukan oleh ibunya. Kyai Maimoen mengajarkan, bahwa mencintai Khadijah adalah cinta yang paripurna terhadap Nabi. Karena mencintai semua bagian yang ada dalam kehidupan nabi. Untuk itu, Kyai Maimoen mengajarkan untuk selalu mencintai dan menghormati semua ahlul bait tanpa terkecuali meskipun ada perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat tidak melahirkan benci sedikitpun terhadap ahlul bait. Bisa diartikan bahwa sekecil apapun kebencian terhadap ahlul bait berarti ada kebencian terhadap bagian dari nabi Muhammad. Naudzu billah. Kullu Habaib, rijlujum fauqa ra’sina. Semua Habaib, kakinya di atas kepala kita. Ajaran cinta ahlul bait dari Kyai Maimoen ini, memperlihatkan fakta kebenaran ungkapan bahwa seseorang akan bersama kekasihnya yang dicinta. Wafatnya Kyai Maimoen, semuanya berlangsung dan pasti berhubungan dengan ahlul bait. Di makamkan di pemakaman Ma’la bersama Sayyidah Khadijah. Di antara keikhlasan keluarga bahwa Kyai Maimoen dimakamkan di Makkah salah satunya adalah karena itu perintah dari cucu gurunya yang ahlul bait. Sayyid Ahmad bin Sayyid Muhammad Bin Sayyid Alawi. Yang mendo’akan dalam acara kirim do’a di ndalem pasti ada ahlul baitnya. Yang saya tahu, semua habaib, lebih2 di Indonesia pasti mencintai Kyai Maimoen. Cinta Kyai Maimoen terhadap ahlul bait selalu dijadikan contoh dan teladan.

Yai, kangeeen…