lirboyo

Terkesan Lirboyo dan Pesan untuk Para Santri

Posted on

Setelah melalui malam panjang yang tenang di atas bus, diselingi tidur nyenyak beberapa jam, pagi Dhuha, aku tiba di pesantren Lirboyo, Kediri, tempat aku dulu, 47 tahun lalu, belajar mengaji. Ia adalah salah satu pesantren besar di Jawa Timur. Ia masih begitu bersahaja seperti dulu.

Kini ia makin besar, dengan area yang makin luas dan makin masyhur. Alumninya yang kini amat terkenal antara lain adalah Kyai Ahmad Mustofa Bisri  atau Gus Mus, dan Kyai Sa’id Aqil Siradj, ketua umum PBNU itu. Aku melewati masjid Muktamar. Aku bilang kepada isteri dan anak-anakku yang menjemput: “di masjid inilah aku pernah “diadili” para kiyai, ustaz dan santri, sekitar 300 orang, tentang pikiran-pikiranku. Sebuah kenangan indah yang tak akan aku lupakan”.

Aku melihat para santri baru, laki-laki dan perempuan, masih berdatangan. Jalanan menuju pesantren ini dipenuhi mobil, besar dan kecil. Para santri dan para tamu lalu lalang di sana.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Aku masuk rumah salah satu pengasuh. Ruang tamu berjubel. Di luar rumah masih banyak yang menunggu giliran masuk, untuk sowan Kiyai/Ibu Nyai atau memohon doa.

Aku bertanya kepada salah seorang pengasuh tentang jumlah santrinya. Ia bilang kini sekitar 25.000.
Perkembangan yang sangat pesat.

Baca Juga >  Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad, Membumikan Al-Qur’an di Gunungkidul

Pesantren ini masih terus mengaji “al-Kutub al-Sittah” , enam kitab hadits : Sahih Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa-i, Ibnu Majah. Kitab Fiqh klasik Al-Muhadzdzab, juga masih dibaca.

Sampai sekarang Pesantren ini masih menjaga spesialisasinya sebagai pesantren Nahwu-Sharaf-Balaghah (Gramatika dan Sastra Arab).

Di tengah perbincangan “ngalor-ngidul” dengan Kyai, Nyai dan putra-putrinya yang semuanya hafal Al-Qur’an dan mahir baca kitab kuning, ditambah dua anakku dan tiga ponakanku, aku diminta memberi nasehat. Lalu aku menyampaikan dua puisi :

إِذَا فَاتَنِيْ يَوْمٌ وَلَمْ أَصْطَنِعْ يَدًا # وَلَمْ أَكْتَسِبْ عِلْماً فَمَاذَاكَ مِنْ عُمْرِيْ

Bila hariku lewat
Dan aku tak berbuat apapun
Tak pula menimba ilmu
Lalu apakah makna hidupku
Hari itu?.

Dan puisi yang sering dinyanyikan Gus Dur saat ceramah ini:

ولدتك امك يابن آدم باكيا
والناس حولك يضحكون سرورا
فاجهد لنفسك ان تكون إذا بكوا
في يوم موتك ضاحكا مسرورا

Saat ibu melahirkan mu, duhai anakku
Kau menangis
Sedang orang-orang di sekelilingmu
Menyambutmu dengan bahagia

Maka berjuanglah, oh anakku
Untuk bahagiamu sendiri
Kau tersenyum manis
saat kau pulang
Sedang mereka berduka-cita

Lirboyo, 13.07.2018

Penulis: KH Dr Husein Muhammad, Arjawinangun Cirebon.