Berita NU, BANGKITMEDIA.COM
BANTUL- Biasanya, dana Zakat Infaq Shodaqoh (ZIS) disalurkan dalam bentuk uang kepada para mustahiq (orang yang menerima zakat-red). Hal berbeda dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) DIY. LAZISNU DIY menyalurkan dana ZIS dalam bentuk kambing, bukan uang. Ini merupakan program baru yang dikembangkan oleh tim LAZISNU DIY.
“Selama ini zakat banyak disalurkan untuk konsumtif. Dengn penyaluran zakat produktif model seperti ini, manfaat yang didapatkan bisa abadi. Karena pokok zakatnya tetap,” tegas Direktur NU CARE LAZISNU DIY Mambaul Bahri saat dihubungi Bangkitmedia.com
Pada program ini, Mustahiq mendapatkan kambing dari LAZISNU DIY dan melakukan pengemukan kambing yang efektif, efisiean dan integratif.
“Dengan mekanisme seperti itu, modalnya terus bertambah. Nah, berarti manfaatnya abadi. Ganjaran Muzaki (orang yang memberi zakat-red) juga abadi. Dan mudah-mudahan amal para amil juga abadi,” tegas Mamba sapaan akrabnya.
Mamba dengan terang menyampaikan masyarakat bisa mengajukan sebagai mustahiq penggemukan kambing ini dengan cara mendapatkan surat keterangan tidak mampu dari desa dan membentuk kelompok yang terdiri dari 4 orang.
“Kemudian kami akan survey kelayakannya. Jika layak menurut hasil survey kami, maka akan kami tasarufkan program tersebut kepada yang mengajukan dengan kami sertakan 1 amil sebagai pendampingnya,” jelas Mamba
Setiap kelompok yang terdiri empat orang tersebut, akan mendapatkan empat sampai lima kambing dengan anggaran lima juta.
“Dalam waktu singkat, yakni 1,5 bulan, kambing yang awalnya senilai lima jutaan, bisa bernilai lebih jika dijual. Pakan yang diberikan per-hari, per-ekornya juga tidak sampai setengah kg, namun menghasilkan penambagan bobot yang cukup signifikan,” terang Mamba
Hal itu dibenarkan oleh Muslimin, salah seorang mustahiq yang mendapatkan pentasyarufan dana ZIS dalam bentuk kambing. Muslimin menegaskan bahwa dengan biaya pakan murah, penambahan penambahan bobot yang signifikan menjadikan keuntungan kambing ini cukup menggiurkan.
“Waktu memberi pakan pun ada jamnya, yaitu pagi hari dan sore hari. Jadi pakan betul-betul terserap dengan baik oleh kambing tersebut,” terang Muslimin
Selain hasil daging itu sendiri, lanjut Muslimin, kotoran cair dan padat sudah mengalir ke tempat yang disediakan di bawahnya. Pada saat penuh langsung diambil oleh petani dengan menganti uang pengumpulan tersebut sebagai ongkosnya.
“Kotoran tidak kami jual, tapi jika mau ambil sendiri kami persilahkan, jika mengambil yang sudah kami kemas, maka petani mengganti ongkos pengemasannya,” jelas muslimin.
Tidak hanya sampe disitu saja, Muslimin juga mulai mengelola rumah aqiqoh yang syar’i, karena penyembelihannya sesuai syariat islam.
“Semua daging diolah dengan baik, bahkan kulitnya pun juga ikut dimasak. Tidak ada bagian dari kambing yang tidak dimasak kecuali bulunya saja. Kami juga memastikan kambing yang disembelih sudah cukup umur. Jadi bagi masyarakat yang membutuhkan aqiqoh bisa menghubungi LAZISNU DIY,” terang Muslimin.
Program penggemukan kambing ini akan menjadi model untuk penggemukan-penggemukan di daerah lain dan akan terus dikembangkan oleh LAZISNU DIY. Berita Islam terkini (rk)








