Surati Presiden Tolak MBG, Pelajar SMK NU Kudus Diintimidasi

Ilustrasi MBG. (Foto: NU Online/Suwitno)

Bangkitmedia.com, KUDUS – Setelah berkirim surat kepada Presiden Prabowo Subianto, pelajar SMK NU Miftahul Falah Kudus, Muhammad Rafif Arsya Maulidi, mendapat intimidasi secara virtual  yang berisi ancaman hingga kalimat ujaran kebencian. “Saya dapat pesan di Instagram, isinya ancaman dari seseorang yang mengaku punya bekingan, tetapi saya merasa saya tidak bersalah,” ucap Arsya kepada wartawan.

Mendapat intimidasi tersebut, Siswa kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual ini mengaku tidak nyaman. Diduga, pesan pesan ancaman itu diduga berasal dari salah satu karyawan Satuan Pelayan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG untuk sekolahnya.

Bacaan Lainnya

Isi surat terbuka tersebut menyangkut penolakannya terhadap Makan Siang Gratis (MBG) dan mengusulkan agar anggaran dialihkan untuk kesejahteraan guru. Dalam surat terbuka kepada Presiden, Arsya menuliskan, di balik berjalannya program MBG yang memerlukan anggaran sangat besar, ada realitas tragis yang dialami para guru karena belum mendapat kesejahteraan yang layak. “Namun, saya melihat masih banyak guru, termasuk di SMK Miftahul Falah tempat saya belajar, yang mengabdi dengan penuh dedikasi tetapi belum memperoleh kesejahteraan yang layak. Di sisi lain, pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG),” ungkapnya dalam surat terbuka tersebut.

Karena itu ia menolak menjadi penerima manfaat program MBG tersebut. Bahkan, ia dengan sukarela bersedia apabila jatah uang MBG untuk dirinya dialokasikan untuk tambahan tunjangan kesejahteraan guru-gurunya.

“Melalui surat ini, saya menyampaikan aspirasi pribadi. Saya menyatakan menolak untuk menerima MBG untuk diri saya. Jika memungkinkan, dana yang seharusnya dialokasikan untuk saya kiranya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru saya,” tulisnya.

Secara tegas, Arsya bersedia untuk mengalihkan jatah alokasi uang MBG dirinya untuk guru-gurunya. Saat ini ia masih memiliki masa pendidikan sekolah selama 1,5 tahun. Menurut kalkulasinya, bila jatah anggaran MBG untuk dirinya diuangkan, terakumulasi sebesar Rp 6.750.000. Dengan rasionalisasi, 18 bulan x 25 hari x Rp15.000. “Bagi saya pribadi, angka tersebut mungkin tidak mengubah banyak hal, tetapi dapat menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi guru. Saya mohon alihkan jatah saya untuk kesejahteraan guru saja,” paparnya.

Arsya juga mengajak para pelajar lain di Indonesia untuk bersuara agar pemerintah memprioritaskan kesejahteraan guru dengan mengesampingkan program MBG. Menurutnya, surat terbuka tersebut merupakan bentuk kritik kepada pemerintah dan wujud kepedulian seorang pelajar terhadap guru. “Besar harapan saya agar aspirasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan pendidikan ke depan,” harapnya.

Meskipun menolak MBG, Arsya mengaku bukan berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Ayahnya bekerja sebagai buruh dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Ia mengatakan, guru merupakan orang yang ia hormati setelah orangtua. Karena guru, termasuk ustadz dan kiai mempunyai peran besar dalam kehidupannya yaitu dalam membentuk akhlak dan mengajarkan ilmu. “Sejak kecil, saya diajarkan untuk menghormati orang-orang yang berjasa dalam membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih cerdas, dan lebih beradab,” ungkapnya.

Terkait intimidasi yang dialami Arsya, Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kudus Putut Winarno ketika ditemui wartawan menyatakan akan memberikan perlindungan terhadap siswa yang menyampaikan aspirasinya. Menurutnya, surat yang ditulis oleh siswa tersebut merupakan bagian dari penyampaian pendapat secara kritis oleh anak.

“Sebenarnya itu kan tidak masalah, menyampaikan pendapat. Karena saya lihat anak tersebut memang kritis,” kata Winarno. (Dari berbagai sumber)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *