Sugeng Kondur, Gus Muhammad Umar Fauzi Mangkuyudan Solo

Ketika Keranda Melaju Cepat Antarkan Jenazah Gus Umar Mangkuyudan

Sugeng Kondur, Gus Muhammad Umar Fauzi, mugi-mugi pinaringan Husnul Khatimah.

Saya mengenal Gus Uji sejak ia masih kelas 4-5 SD. Semakin dekat ketika Gus Uji masuk SMP Al-Muayyad dan saya bersama sebelas orang alumni al-Muayyad ngenger di kamar Kacung, kamar di atas dapur rumahnya, yang semula dikhususkan bagi santri-santri asal Purwokerto (kampung Bu Nyai Muid, ibundanya).

Gus Uji’ remaja sering main ke kamar kami dan kami godain, karena sifat aslinya yang pemalu. Ia terus kami dorong-dorong sampai akhirnya mau ikut bursa pencalonan Ketua IPMA (Ikatan Pelajar Madrasah Al-Muayyad) cabang MDA.

Kami juga suka iseng macok-macokke Gus Uji dengan beberapa santriwati yang –menurut kami– terbaik di angkatannya. Dan Gus Uji hanya mesam mesem malu. Dan itu semua karena kami semua di Kamar Kacung sangat menyayanginya, layaknya adik kami sendiri.

Intensitas pertemuan kami mulai jarang sejak Gus Uji mondok di Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta lalu kemudian di Lirboyo. Setelah itu lamaaaaa sekali saya tidak berjumpa dengannya. Terlebih setelah pada awal tahun 2003 saya boyongan pulang ke Jakarta dan mulai merintis karir.

Saya baru berjumpa lagi dengan Gus Uji sekitar tahun 2005-2006 ketika saya mendapat tugas liputan di Surabaya dan Kediri untuk Majalah Alkisah. Saya mengunjunginya di Lirboyo, saat itu ia sudah populer di kalangan santri dengan Panggilan Gus Umar, santri yang ditugaskan kyainya untuk mengajar ngaji Al-Qur’an di luar jam sekolah diniyahnya.

Setelah itu kami hanya bertemu sesekali di Pekalongan, dalam even pengajian Kliwonan atau Maulid Akbar.

Sejak kecil saya mengenal Gus Uji berperangai sangat lembut, khas Solo. Ketika Gus Uji usai menyelesaikan hafalannya di Pesantren Sunan Pandanaran Yogya lalu mondok di Lirboyo, kami sangat senang. Kami membayangkan Al-Muayyad ke depan yang semakin komplit dan kokoh, dengan second line (baca: para gawagis) yang tangguh dalam tahfizhul Quran dan kajian kitab Kuning.

Dan itu terbukti, salah satunya ya lewat Gus Uji ini. Dari para alumni muda yang belakangan kuliah di Jakarta dan sekitarnya saya mendengar kiprah Gus Uji sepulang dari Lirboyo, yang mulai tampil dalam forum-forum semaan dan pengajian kitab di pondok Mangkuyudan tempat tinggalnya atau di luar tembok pesantrennya.

Namun, meski sudah mulai naik di Solo, ternyata Gus Uji tetap saja Gus Uji yang saya kenal sejak kecil. Baik hati santun dan makin tawadhu’. Ia tidak segan mendatangi saya di kamar tamu pesantren Al-Muayyad usai saya mengisi acara Sariro untuk mengonfirmasi dan mencatat salah kutipan hadits yang saya ulas waktu itu.

Pertemuan terakhir saya dengan Gus Uji adalah pertengahan Desember lalu, saat ia beserta keluarga dan beberapa mobil rombongan jamaah ngajinya (yang terdiri dari orang-orang yang jauh lebih tua dan nampak sangat mapan) singgah di rumah saya di Bekasi. Gus Uji minta diantar berziarah ke Luar Batang, dalam rangka tadawi (ikhtiar memohon kesembuhan). Beberapa waktu sebelumnya Gus Uji, di bulan Ramadhan, Gus Uji sempat sakit lumayan berat, yang menuat saya dan beberapa teman eks Kacung deg-degan dari kejauhan. Syukurlah keadannya terus membaik bahkan sempat bisa menunaikan umrah.

Beberapa minggu sebelumnya kebetulan kami berjumpa di depan hotel Nirwana, Pekalongan, di sela-sela acara Maulid Akbar Kanzus Shalawat.

Saya senang sekali, kerawuhan Gus Uji. Guru, putra guru sekaligus “adik” sekamar kami dulu. Gus Uji juga sepertiga enjoy pinarak di Ciketing. Rencana awal hanya singgah sebentar jadi panjang penuh obrolan nostalgia.

Saya juga curhat kepada Gus Uji, sedang dapat dawuh membangun asrama putri dengan keterbatasan dana. Dan lagi-lagi, Gus Uji, dengan kelembutan hatinya tidak hanya mendengarkan dan mendoakan saya, tatapi juga mengajak jamaah rombongannya untuk bersamanya menyumbangkan sebagian bekal perjalanan mereka.

“Mas, iki titipan kanca-kanca, najan sitik mugo-mugo iso manak ngembang nyukupi kabeh butuhe njenengan mbangun pondok putri,” katanya sambil nenyerahkan amplop tebal hasil bantingan.

Gus Uji juga mengijazahkan “Aurad lil Bina” warisan mbah Kyai Umar, agar hajat membangun kami lekas selesai. Tak hanya itu, saat saya pamitan usai mengantarnya berziarah di Luar Batang, Gus Uji kembali merogoh tasnya dan menambah hadiahnya untuk Fatahillah. Itu sifat asli yang dari kecil saya kenal: Sangat loman (dermawan).

Gus Uji juga rajin mensupport status-status FB saya yang banyak bercerita tentang pembangunan pondok. Tak hanya nge-like, ia juga sering komen dengan doa dan menyemangati saya. Ah Gus Uji.. sejak dulu selalu baik hati.

Dan kemarin pagi, hati saya mencelos saya mendengar Gus Uji kembali masuk ICU karena koma. Sore usai rapat di Lakpesdam, saya bilang sama Istri, “Firasat saya gak enak. Nanti kalo terjadi apa-apa sama Gus Uji, aku tak mulih Solo ya Bun…” Emaknya anak- mengangguk setuju.

Dan dinihari tadi, istri saya membangunkan saya, “Beh, Babeh, bangun.. iki lho Gus Uji sedo..”

“Ya Allah…” Spontan saya mengucap masih dalam keadaan mata terpejam belum sepenuhnya sadar.

Saya tak bisa langsung bangun. Kepala ini terasa berat, berputar seperti linglung. Baru beberapa menit kemudian saya bangun dan duduk. Lalu memutuskan untuk ke Solo pagi ini.

Sugeng Kondur Gus.. saya adalah saksi kebaikanmu, ketulusanmu, kesantunanmu, dan kemurahan hatimu. Insya Allah kondurmu di malam Jumat jadi penanda Husnul Khatimahmu.

Penulis: Ahmad Iftah Sidiq, alumni Pesanten Al-Muayyad Mangkuyudan Solo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *