banser

Solikin Banser dan Semangat Jualan Pentol

Posted on

Oleh Gus Rijal Mumazziq Z, Jember.

Dalam Diklat Banser ada aturan dilarang pulang. Harus fokus, namanya juga diklat. Perizinan juga diperketat. Nggak semua izin diberi. Lihat rasionalisasi alasan izinnya juga.

Tapi hari masih pagi ketika Solikin menghadap komandan Banser.
“Ndan. Saya mau izin ndan.”
“Lha mau kemana sampeyan, kok pagi-pagi sudah izin?”
“Mau jualan pentol ndan.”
“Lha, ini kan lagi diklat, kok malah ditinggal.”
“Lha, jualan pentol itu profesi saya ndan. Saya jualan di sekolahan. Nanti habis jualan juga kesini lagi. Kalau nggak jualan ya nggak bisa nyicil uniform.”

Glek…komandannya serba salah. Akhirnya Solikin dikasih izin juga atas dasar “kemanusiaan” 

Hidup Solikin!

Saya menilai, saat agresi militer Belanda 1 (1947), yang dihadapi serdadu bule itu ya laskar-laskar rakyat yang terdiri dari orang-orang ikhlas macam Solikin ini. Sebab, agresi militer 1 ini merangsek ke pelosok, ke desa-desa, yang bertujuan memberangus kantong-kantong pejuang rakyat. Agresi sengaja dilaksanakan pada bulan Ramadan dan puncaknya Belanda berhasil merebut kota Malang, basis milisi Hizbullah-Sabilillah. KH. Hasyim Asy’ari syok mendengar jatuhnya kota ini hingga berujung kewafatan beliau.

Baca Juga >  Mendoakan Orang Mati Bukan Hanya Bid'ah, Tapi HARAM!

Pembakaran beberapa pesantren yang dilakukan satuan baret merah Belanda juga banyak dilakukan saat agresi militer pertama ini.
—-
Foto di bawah ini adalah Sahabat Ali Mursidi, Banser Grobogan, seorang penjual Es Kelapa Muda yang selalu ditemani Putrinya ketika bertugas-khidmat mengawal pengajian, karena sang Ibu bekerja di luar kota.

Inilah potret Banser NU dalam keseharian, orang biasa yang punya harapan besar untuk INDONESIA.

foto di ambil saat pengajian Habib Luthfi di Grobogan Jawa Tengah 30/10/2018.

(Foto dari akun Gus Muhammad Aun)