Bangkitmedia.com, YOGYA – Pameran kaligrafi bertajuk ‘Spirit Pesantren’ digelar di PSPK Gedung CSC lantai 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin – Jumat (3-7/11). Dalam pameran dipajang 34 karya seni rupa berupa lukisan dan sejumlah patung hasil kreasi alumni Pondok Pesantren (Ponpes) dan santri yang masih tinggal di Ponpes di berbagai daerah di Indonesia.
Pameran kaligrafi rangkaian peringatan Hari Santri, Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan ini diselenggarakan oleh Pesantren Al-Hurriyah bersama Divisi Kaligrafi UKM JQH Al-Mizan, IKI Peace Village, dan JQH PWNU DIY. Juga dipajang karya seniman kaligrafi kondang Syaiful Adnan, pematung Basrizal Albara, perupa Nasirun. Peserta pameran terdiri A Syafruddin, Abdul Ghani, Abdul Rahim, Abdurrahman, Ardian H, Choirudin, Dimas P, Eton el Faqir, Fandi Riansyah, Hajriansyah, Hasanudin, Ilham Yusuf Mahendra, Irwan, Kaligrafer Al-Mizan, Kaligrafer UII, Khalid, Kusni, Ma’ruf, Mahrudin, M Masbuchin, M Riyanto, Muksin MD, Mulyo Gunarso, Nauval Udhya, Nella, Nugroho, Nurkhairani Muthia, Nurul Huda, Qisthi Nur A Salama, Refil Ardiansyah, Robby Akmal, Robert Nasrullah, Siti Rohimah, Syarli Baizura Sajidah, Thoha Putra, Wifaq.
KH Robert Nasrullah (koordinator pameran) mengungkapkan, pada pameran ini ditampilkan kaligrafi dua dimensi dan tiga dimensi karya perupa yang sebagian besar pernah nyantri di Ponpes dari berbagai daerah di Indonesia (Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku) dengan menggagas tema seputar wawasan pesantren.
Pameran yang baru digelar kali pertama ini, untuk memberi ruang ekspresi kreatif bagi para santri yang mempunyai bakat melukis kaligrafi, baik yang tinggal di Ponpes maupun perupa kaligrafi alumni Ponpes. Yang jelas Ponpes sebagai wadah menggembleng santri, baik dari segi keilmuan, tata cara beribadah, juga pembelajaran al akhlaq al-karimah. Sebagai lembaga pendidikan tertua, pesantren tidak hanya hadir sebagai rumah ilmu pengetahuan, namun juga ikut menjadi penggerak utama terbentuknya insan pembela tanah air. Kyai, santri, dan masyarakat adalah bagian penting yang tidak bisa terpisahkan manakala kita mencita-citakan terbentuknya kehidupan yang aman dan berperadaban.
Saat pembukaan pameran dilakukan dialog tentang seni rupa kaligrafi menampilkan pembicara perupa kaligrafi Syaiful Adnan dan Dr Muksin MS SSn (dosen FSRD ITB) Bandung. Kemudian penulis Prof Dr H Wahyono Abdul Gafur MAg, Prof Dr H Abdul Mustaqim MAg dan Dr Hajriansah Nurul Huda SS MPd I. “Semoga pameran kaligrafi gelaran pertama ini dapat menjadi agenda rutin tahunan,” harap KH Robert Nasrullah yang juga ikut pameran. (Khocil)








