nabi muhammad

Saat Rasulullah SAW Bercengkrama dengan Sayyidah Aisyah

Posted on

Suatu hari Rasulullah SAW pulang ke Sayyidah Aisyah RA. Begitu masuk rumah, beliau menanggalkan jubah dan baju lapis. Saat sedang bercengkerama bersama Sayyidah Aisyah dan belum sampai bermalam, tiba-tiba Rasulullah beranjak dan mengenakan pakaian lengkap dengan jubah yang baru saja ditanggalkan. Meninggalkan Sayyidah Aisyah.

Sayyidah Aisyah curiga Rasulullah akan berkunjung ke istri yang lain. Diintainya Rasulullah. Ternyata tidak. Beliau menuju masjid Baqi’. Sayyidah Aisyah lega dan segera kembali pulang. Menunggu sekian lama, Rasulullah tak jua pulang. Sayyidah Aisyah mengintip lagi, Rasulullah sedang bersujud.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Sayyidah Aisyah pulang. Menanti lagi, lamaaa, Sayyidah Aisyah kembali melihat, dan Rasulullah masih dalam keadaan sujud. Sayyidah Aisyah khawatir ada apa-apa. Jangan-jangan Rasulullah wafat?

Kemudian Sayyidah Aisyah mendekati Rasulullah, menyentuh telapak kaki beliau. Bergerak, alhamdulillah. Sayyidah Aisyah pulang dengan lega karena Rasulullah masih bergerak.

Menjelang subuh Rasulullah pulang, memohon maaf kepada Sayyidah Aisyah karena pergi tanpa pamit. Rasulullah menyampaikan kepada Aisyah bahwa saat sedang asyik berdua tadi tiba-tiba Jibril memanggil. Malaikat Jibril mengingatkan bahwa malam itu adalah malam Nisfu Sya’ban. Malam ketika Allah membebaskan hamba-Nya dari neraka sebanyak bulu domba; hamba yang sudah tercatat sebagai penghuni neraka.

Baca Juga >  Kisah Cinta Gus Miek dan Istri Tercintanya

Rasulullah diperintah Allah untuk mendoakan umatnya, memohonkan maaf untuk umatnya. “Jibril mengajariku membaca doa ini, dan ajarkanlah kepada para perempuan di belakangmu, wahai Aisyah”, jelas Rasulullah kepada istri tercinta.

Inilah yang dibaca Rasulullah dalam sujud beliau: A’udzu bi afwika min iqaabika wa a’udzu bi ridlaaka min sakhathika, jalaa wajhuka laa uhshii tsanaa’an alaika anta kamaa atsnaita alaa nafsika”.

::

Ya, kisah di atas termaktub dalam kitab Irsyaadul Ibaad. Nyaris setiap tahun, para guru kita mengingatkan cerita ini.

Yang saya pahami sejak kecil, malam Nisfu Sya’ban adalah salah satu malam mulia untuk berdoa. Melepas segala keakuan. Mengakui segala kelemahan, kita bukan apa-apa di hadapan Allah. Pasrah sepenuh pasrah pada-Nya. Memohon segala kebaikan, agar Allah memaafkan segala dosa dan khilaf kita. Saya bahkan yakin, malam ini adalah kesempatan kita untuk memohon agar Allah membaguskan taqdir kita.

Semoga Gusti Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan Indonesia. Memberi kita kesehatan, istiqomah dan keselamatan dunia akhirat. (Ini sumber tulisannya)

Penulis: Evi Ghozaly.